Minggu, 18 Desember 2011

rasionalisme empirisme


RASIONALISME dan EMPIRISME, persamaan dan perbedaannya..
Sehari semalam mengobrak-abrik kajian filsafat ternyata sungguh melelahkan. Namun semalam, anehnya justru tak lagi terasa menjemukan. Awalnya saat berusaha memahami apa itu rasionalisme, apa itu empirisme, bagaimana pemikiran tokoh-tokohnya, rasanya pemikiran tak kunjung sampai ke dasar. Diskusi demi diskusilah yang akhirnya mengantarkan pada pemahaman itu. Hhh.. Sungguh melegakan pada saatnya.

Berawal pada pembahasan mengenai perbedaan masing-masing ranah. Rasionalisme berasal dari pencernaan rasio, akal budi, dan wahyu dari Tuhan (a priori), sementara empirisme lebih menekankan pada pengalaman indrawi (a posteriori), baik lahiriah (sensation) maupun batiniah (reflection). Untuk metode yang digunakan, rasionalisme adalah kesangsian, dan empirisme metode observasi, dengan instrumen-instrumen pengetahuan diantaranya. Belum lagi soal metode analisis pengujian yang dipakai keduanya. Rasionalsime dengan matematika analisis, dan empirisme dengan ilmu-ilmu alamnya.

Sekilas perbincangan mengenai persamaan yang dapat ditarik dari rasionalisme dan empirisme, ditemukan lima poin utama.

- Sama-sama menggunakan rasio

Meskipun empirisme ngotot mempertahankan idenya bahwa pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan, namun tak dapat dipungkiri bahwa dalam proses penalarannya, rasio pasti digunakan.

- Memiliki tujuan yang sama

Tujuan dari semua tradisi pemikiran filsafat adalah sama, yaitu mencapai hakikat kebenaran dan pengetahuan.

- Menggunakan metode untuk analisis.

Dua paham ini tentu saja menggunakan metode khusus dalam analisisnya, baik untuk mencapai pengetahuan itu sendiri, maupun dalam proses analisis pengujiannya.

- Keduanya mengusung perubahan

Awal kemunculan rasionalisme didasari oleh merebaknya dogma-dogma dan doktrin-doktrin agama (waktu itu gereja) terhadap filsafat. Maka Rene Descartes, tokoh awal tradisi pemikiran ini, mengusung proyek perubahannya dengan mengedepankan akal dan rasio dalam menemukan hakikat pengetahuan. Begitu juga empirisme. Setelah menyebarnya paham rasionalisme, empirisme mengajukan diri dengan mengatakan bahwa ia datang untuk memurnikan filsafat dan perbaikan terhadap paham sebelumnya.

- Kebenaran yang dihasilkan sama-sama menimbulkan korban

Rasionalisme, yang menekankan pada metode clear and distinct (jelas dan berbeda) untuk kebenaran yang diusungnya, pada akhirnya pasti akan menimbulkan korban. Mengapa? Saat kebenaran yang diyakini jelas dan berbeda itu ditemukan, maka semua hal lain akan dianggap salah. Sebagai contoh paradigma rasionalsime: perempuan dikatakan cantik bila memenuhi kriteria-kriteria yang telah disepakati. Maka jika tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, menurut rasionalisme, jelas dikatakan tidak cantik alias salah. Tidak ada kebenaran kedua bagi rasionalisme. Hal ini jelas memarginalkan yang lain, dan menjadikannya korban.

Sedangkan empirisme, kebenaran yang menurutnya berdasar pada moral juga sangat memarginalkan lawannya. Semua yang dianggap tak bermoral, atau katakanlah, bermoral buruk, maka akan disingkirkan, dan diasingkan. Hal ini memicu terbentuknya suatu pemerintahan egaliter yang diktator dan semena-mena, terutama terhadap kelompok yang dianggap tak memenuhi kriteria moral yang disepakati.

Jelaslah bahwa keduanya menimbulkan korban, dan inilah kritik mendasar akan keduanya, yang sekaligus merupakan persamaan bagi kedua paham tersebut.
Posted by Asri Aisyah El Zahra at Friday, March 11, 2011 Description: http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif
0 comments:
Post a Comment
Description: http://1.bp.blogspot.com/_fHbhlky4wCk/R6FP-WAYo4I/AAAAAAAAASs/dP3Y640vXhY/s320/Thoyibi.jpg
CARING II
[Catatan – Ringan ]
FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA
[Editor : M Thoyibi]
Gudang kami sengaja untuk memilih karya yang dieditori oleh, M Thoyibi karena disamping kaya akan catatan yang mudah dicerna, buku ini merupakan kumpulan tulisan pakar filsafat ilmu. Namun kurang bijak rasanya kalau dikupas secara tuntas, karena akan melanggar karya cipta intelektual, juga akan mencundangi penerbit. Oleh karenanya akan dibahas terbatas, dengan gaya mencuplik sana-sani. Secara keseluruhan buku ini merupakan kumpulan tulisan dari sembilan orang penulis, masing-masing:
  1. Hakikat Dasar Keilmuan [ Jujun. S. Suriasumantri]
  2. Filsafat Ilmu, Sejarah Kelahiran, Serta Perkembangannya [Koento Wibisono Siswomihardjo]
  3. Teori Pengetahuan dan Perannya dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan [Charles M.Stanton]
  4. Filsafat Yunani Batu Pertama untuk Kultur Modern [Muchlis Hamidy]
  5. Ilmu Pengetahuan, kelahiran dan Perkembangannya, Klasifikasi, Sserta Strategi Pengembangannya [Koento Wibisono Siswomihardjo]
  6. Metode Mencari Ilmu Pengetahuan : Rasionalisme dan Empirisme [H.B.Sutopo]
  7. Pragmatisme dan Realisme Modern [D.Edi Subroto]
  8. Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Konteks Masa Kini dan Masa Mendatang
  9. Pengembangan Metode Keilmuan di Perguruan Tinggi dalam kecenderungan IPTEK Dewasa ini [S. Farid Ruskanda]
Selanjutnya dicuplik beberapa tulisan, antara lain tulisan : Jujun. S. Suriasumantri, Koento Wibisono Siswomihardjo dan H.B.Sutopo.
Cuplikan-cuplikan
[Jujun. S. Suriasumantri]
Apakah Ilmu?
Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi. Dengan demikian, penjelasan ini memungkinkan kita untuk mengontrol gejala tersebut. Untuk itu, ilmu membatasi ruang jelajah kegiatan pada daerah pengalaman manusia. Artinya, obyek penjelajahan keilmuan meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat pancaideranya.
Secara epistemology, ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara pikiran secara rasional dan berpikir secara empiris. Kedua cara berpikir tersebut digabungkan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran.

Apakah Kebenaran?
Ilmu, dalam menemukan kebenaran, mensandarkan dirinya kepada beberapa criteria kebenaran, yakni:
  • Koherensi
  • Korespondensi
  • Pragmatisme.
Apa Koherensi?
Koherensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria konsistensi suatu argumentasi
Apa Korespondensi?
Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan obyek yang dikenai pernyataan tersebut.
Apa Pragmatisme?
Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kreteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang, dan waktu tertentu.
Apa Metode Ilmiah?
Metode ilmiah merupakan langkah-langkah dalam memproses pengetahuan ilmiah dengan menggabungkan cara berpikir rasional dan empiris dengan jalan membangun jembatan penghubung yang berupa pengajuan hipotesis.
Apa Hipotesis ?
Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik secara rasional dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat koheren dengan pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebelumnya.
Apa langkah-langkah Metode Ilmiah?
Langkah metode ilmiah adalah langkah yang berporoskan “troika”
  • Penyusunan kerangka berpikir berdasarkan logika deduktif
  • Pengajuan hipotesis sebagai kesimpulan dari kerangka berpikir tersebut
  • Pengujian [verifikasi] hipotesis.
    Berdasarkan troika ini maka metode ilmiah dikenal sebagai proses:
“Logiko-Hipotetiko-Verifikatif atau Dedukto-hipotetiko-verifikatif”

Bagaimana Proses Kegiatan Ilmiah?
Proses kegiatan ilmiah pada hakikatnya adalah kegiatan berpikir yang bersifat analitis. Logika merupakan alur jalan pikiran yang dilalui dalam kegiatan analisis agar kegiatan berpikir tersebut membuahkan kesimpulan yang sahih. Kegiatan ilmiah pada pokoknya mempergunakan dua jenis logika yakni :
  • Logika deduktif
  • Logika Induktif
Apa Logika Deduktif?
Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat umum kepada pernyataan yang bersifat khas.
Apa Logika Induktif?
Merupakan cara penalaraan kesimpulan dari penyataan yang bersifat individual [khas] kepada pernyataan yang bersifat umum.

H.B.Sutopo:
Apa Rasionalisme ?
Faham rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal [ratio]. Kebenaran dan kesesatan pada dasarnya terletak di dalam gagasan manusia, bukan di dalam diri barang sesuatu. Kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja. Pengalaman tidak dingkari, tetapi ia hanya sebagai perangsang pikiran. Seorang-orang bernama Descartes merupakan bapak rasionalisme yang berusaha menemukan kebenaran [pengetahuan] dengan menggunakan metode berpikir deduktif.
Seorang pengikut rasionalisme menggunakan pikir untuk memperoleh kebenaran-kebenaran yang harus dikenalnya, bahkan sebelum adanya pengalaman.
Apakah Empirisme?
Paham ini mementingkan pengalaman indera. Pengetahuan diperoleh lewat pengalaman indera. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan dan membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari penginderaan serta refleksinya. Akal manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil pengeinderan kita.
Jhon Locke adalah seorang-orang tokoh empirisme dengan teorinya yang kerap disebut dengan “tabula-rasa”.
Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkret dan diungkap lewat penginderaan gejala bila ditelaah lanjut akan menghasilkan pola yang teratur mengenai kejadian tertentu. Dengan mengumpulkan pengalaman, kita akan bisa melihat kesamaan dan perbedaan gejala yang ada, yang selanjutnya menjadi pengetahuan.
Bagaimana kata akhir pertentangan antara Rasionalisme dengan Empirisme?
Perang pikir antara Empirisme dan Rasionalisme, ternyata dipadamkan oleh faham “fenomenalisme” ajaran Immanuel Kant [1724-18-04]. Oleh karenanya ia dianggap mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur “apriori” dalam pengenalan, terlepas dari segala pengalaman. Empirisme menekankan unsur-unsur “Aposteriori”, yang berarti unsur yang berasal dari pengalaman.
Menurut Kant keduanya berat sebelah. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur aposteriori. Dari sintesis tersebut dapat dirumuskan beragam yang lengkap baik secara empiris maupun dilandasi penalaran yang logis dan dapat lebih jelas dirumuskan kaitan [sebab-akibat] dari suatu gejala yang terjadi di alam ini.

Koento Wibisono Siswomihardjo
Merujuk buah pikir Van Peursen:
Menghadapi perkembangan pemikiran umat manusia dewasa ini, ternyata dapat diskemakan dengan tiga tahapan pemikiran yakni :
  • Mistis
  • Ontologis
  • Fungsional
Apa tahapan pemikiran Mistis?
Dalam tahapan ini kebenaran atau kenyataan adalah sesuatu yang “given”, mistis, dan tidak perlu ditanyakan
Apa tahapan pemikiran Ontologis?
Pada tahapan ini manusia dan masyarakat mendambakan kebenaran substansial
Apa tahapan pemikiran Fungsional?
Pada tahapan ini kebenaran dan kenyataan diletakkan pada fungsi atau relasi kemanfaatannya.
Aktualisasi ketika dinamika perkembangan manusia, dalam bidang keilmuan:
Orang mulai mempertanyakan”apa hakikat ilmu pengetahuan” itu, yang jawabnya tidak semudah sebagaimana diperkirakan. Implikasi dari perkembangan manusia membuahkan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, cabang ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain. Garis demarkasi antara ilmu-ilmu murni dan ilmu-ilmu terapan menjadi kabur;
Kedua, dengan semakin kaburnya garis demarkasi itu, timbullah persoalan mengenai sejauh mana nilai-nilai etik dan moral dapat intervensi dalam kegiatan ilmiah.
Ketiga dengan kehadiran teknologi yang mendominasi kehidupan manusia di segala bidang, timbul pertanyaan filsafati apakah dengan dominasi ilmu pengetahuan itu kehidupan menjadi maju atau justru sebaliknya. Itulah sebabnya filsafat menjadi actual, khususnya filsafat ilmu yang kita butuhkan dari interdependensi antar cabang ilmu yang satu dengan cabang ilmu yang lain, juga dengan filsafat sendiri.
Apa Filsafat ilmu?
Filsafat ilmu [Philosophy Of Science, Wissenchaftlehere, Wetenschapleer] merupakan penerusan dalam pengembangan filsafat pengetahuan, sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah ‘a higher level dalam perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, obyek kedua cabang filsafat ini disana sini berhimpitan, namun berbeda salam aspek pembahasannya.
Strategi Pengembangan Ilmu.
Berbicara tentang strategi pengembangan ilmu, dewasa ini terdapat tiga macam pendapat:
Pertama, ilmu berkembang dalam otonomi tertutup, dalam hal ini pengaruh konteks dibatasi, bahkan disingkirkan.
Kedua, ilmu harus lebur dalam konteksnya, tidak hanya merupakan refleksi, melainkan juga memberikan alasan pembenaran konteksnya.
Ketiga, ilmu dan konteksnya saling meresapi dan saling mempengaruhi untuk memberi kemungkinan bagi timbulnya gagasan-gagasan baru yang actual dan relevan bagi pemenuhan kebutuhan sesuai dengan waktu dan keadaan.
Wusana kata.
Filsafat ilmu bukanlah sekedar metodologi ataupun tata cara penulisan karya ilmiah. Filsafat ilmu merupakan refleksi secara filsafati akan hakikat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam menuju sasaran yang akan dicapai., yaitu kebenaran dan kenyataan.
Memahmi filsafat ilmu berarti memahami seluk beluk ilmu pengetahuan sehingga segi-segi dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu, kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar [cabang] ilmu yang satu dengan yang lain.
Filsafat ilmu perlu disebarluaskan untuk dikuasai oleh para tenaga pengajar dan peneliti, agar memungkinkan mereka untuk mensublimasikan disiplin ilmu yang ditekuninya ke dataran filsafati sehinga sanggup memikirkan spekulasi-spekulasi yang terdalam untuk menciptakan paradigma-paradigma baru yang relevan dengan budaya masyarakat bangsanya sendiri.
















Memperoleh Ilmu Pengetahuan
A.          Pendahuluan
Dari lahir hingga matinya, manusia tak akan lepas dari proses mengumpulkan pengetahuan. Contoh paling mudah adalah pengetahuan yang didapat melalui proses sensori indera. Pengetahuan tentang warna, tentang nada, tentang perbedaan panas dingin semuanya didapat melalui pengalaman langsung inderawi.
Pengalaman inderawi hanya menjadi bagian kecil bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Dalam perkembangannya, cara memperoleh pengetahuan telah merentang sedemikian jauh diiringi dengan ragam pengetahuan itu sendiri.

Berbicara ilmu pengetahuan maka tidak terlepas dari pada ilmu filsafat, dan kita pun harus bersentuhan dengan ilmu filsafat sebagai mana fungsinya bahwa, ia menelaah baik ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah maupun cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan ilmiah.
Perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia tidaklah memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?
B.           Macam metode untuk memperloleh pengetahuan
1.      Empirisme
Empirisme adalah suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.
2.      Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal.
3.      Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
4.      Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
C.          Pembahasan
Sumber ilmu pengetahuan mempertanyakan dari mana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme.
Selanjutnya pada kesempatan ini penulis akan membahas dua metode ini yakni, pengalaman (emperi) dan akal (ratio), guna mempertajam pengertian dan menggali lebih dalam integrasi antara kedua metode tersebut.
1.      Pengalaman (emperi)
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Tokoh-Tokoh Empirisme Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
a.       Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
b.      Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
c.       Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
d.      Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
e.       Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f.       Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Telaah Kritis Metode Empirisme
Meskipun aliran filsafat empirisme memiliki beberapa keunggulan bahkan memberikan andil atas beberapa pemikiran selanjutnya, kelemahan aliran ini cukup banyak. Prof. Dr. Ahmad Tafsir mengkritisi empirisme atas empat kelemahan, yaitu:
1. Indera terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil padahal tidak. Keterbatasan kemampuan indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya.
2. Indera menipu, pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
3. Obyek yang menipu, conthohnya ilusi, fatamorgana. Jadi obyek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan pengetahuan inderawi salah.
4. Kelemahan ini berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sisi meta) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan dan kerbau juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan. (Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, 2006, hlm. 21-22.)
Metode empiris tidak dapat diterapkan dalam semua ilmu, juga menjadi kelemahan aliran ini, metode empiris mempunyai lingkup khasnya dan tidak bisa diterapkan dalam ilmu lainnya. Misalnya dengan menggunakan analisis filosofis dan rasional, filosuf tidak bisa mengungkapkan bahwa benda terdiri atas timbuanan molekul atom, bagaimana komposisi kimiawi suatu makhluk hidup, apa penyebab dan obat rasa sakit pada binatang dan manusia. Di sisi lain seluruh obyek tidak bisa dipecahkan lewat pengalaman inderawi seperti hal-hal yang immaterial.
2.      Akal (ratio)
Rasionalisme sangat bertentangan dengan empirisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sangat sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Lebih detail, Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran yang berdasarkan rasio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.
Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas-asas pertama yang pasti. Tokoh-tokohnya, Rene Descartes (1596-1650), Nicholas Malerbranche (1638-1775), B. De Spinoza (1632-1677 M), G.W.Leibniz (1946-1716), Christian Wolff (1679-1754), Blaise Pascal (1623-1662 M).
Telaah Kritis Metode Rasionalisme
Kelebihan rasionalisme adalah mampu menyusun sistem – sistem kefilsafatan yang berasal dari manusia. Umpamanya logika, yang sejak zaman Aristoteles, kemudian matematika dan kebenaran rasio diuji dengan verifikasi kosistensi logis.
Kemudian Rasionalisme memberikan kontribusi pada mereka yang tertarik untuk menggeluti masalah – masalah filosofi. Rasionalisme berpikir menjelaskan dan menekankan kala budi sebagai karunia lebih yang dimiliki oleh semua manusia.
Adapun kelemahan yang dimiliki metode ini adalah, bahwa Doktrin – doktrin filsafat rasio cenderung mementingkan subjek daripada objek, sehingga rasionalisme hanya berpikir yang keluar dari akal budinya saja yang benar, tanpa memerhatikan objek – objek rasional secara peka. Kelemahan rasionalisme adalah memahami objek di luar cakupan rasionalitas sehingga titik kelemahan tersebut mengundang kritikan tajam , sekaligus memulai permusuhan baru dengan sesama pemikir filsafat yang kurang setuju dengan sistem – sistem filosofis yang subjektif tersebut.
D.          Penutup
Sebagai metode untuk mendapatkan pengetahuan, baik Rasionalisme yang diusung oleh Descartes maupun Empirisme yang didukung oleh Hume masing - masing memiliki kelemahan-kelemahan yang mendasar. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah metode lain yang lebih dapat dimunculkan sebagai sebuah metode yang handal untuk pencarian pengetahuan tersebut. Salah satunya adalah dengan mengawinkan Rasionalisme dengan Empirisme sehingga kelemahan – kelemahan masing-masing aliran sebagai sebuah metode dapat diatasi.
Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini dapat digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.

Artikel Terkait
Makalah

Label: Makalah
















Jun
07
Transendent
Filsafat Ontologi
(by.Abu Muslim)
A. Latar Belakang
Mengetahui apa sesungguhnya ilmu, tidaklah melalui ilmu itu sendiri, tetapi melalui filsafat ilmu. Melalui filsafat ilmulah segala penjelasan mengenai ilmu diperoleh. Karena itu, filsafat ilmu demikian penting untuk didalami oleh setiap ilmuan agar ia mengenal hakikat sesuatu yang dimilikinya, yaitu ilmu.
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang salah satu cabang dalam filsafat, yakni ontologys; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?. Dan yang paling utama ontology sesungguhnya membahas tentang bagaimana sesungguhnya eksistensi Tuhan.
Objek telaah ontology adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontology banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Persoalan tentang ‘ada’ (being) menghasilkan cabang filsafat metafisika. Meta berarti di balik physika berarti benda-benda fisik. Pengertian sederhana dari metafisika yaitu kajian tentang sifat paling dalam dan radikal dari kenyataan. Dalam kajian ini para filosof tidak mengacu pada ciri-ciri khusus dari benda-benda tertentu, akan tetapi mengacu pada ciri-ciri universal dari semua benda. Metafisika sebagai salah satu cabang filsafat mencakup persoalan ontologys, kosmologis dan antropologis. Ketiga hal itu memiliki titik sentral kajian tersendiri.
Untuk bisa mengerti lebih baik tentang makna ontology agar tidak terjebak hanya pada satu pola filsafat saja maka dalam makalah ini akan kita bandingkan konsep filsafat islam yang dibangun berdasarkan pemahaman terhadap ajaran Islam atau berdasarkan pemahaman terhadap Al-Qur’an dengan filsafat Barat yang bangunan konseptualnya tidak dilandasi pada konsep keimanan atau dengan kata lain “terpenggal leher-leher kerohaniannya” .

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka masalah pokoknya adalah Bagaimana sesungguhnya ontology itu dilihat dari sudut pandang Filsafat Barat dan Filsafat Ilmu Islami?. Untuk memudahkan pembahasannya maka akan dibahas sub masalah sebagai berikut:

1. Apa Pengertian dari ontology itu sendiri?
2. Bagaimana pandangan tentang ontology yang dibangun berdasar konsep Filsafat Barat?
3. Bagaimana sesungguhnya Objek Materi Ilmu Pengetahuan Menurut Filsafat Barat?
4. Bagaimanapula Pandangan ontology berdasarkan Al-Qur’an?
5. Bagaimana Objek Materi Ilmu menurut pandangan ontologys Qur’ani?

BAB II
PEMBAHASAN


1. Pengertian Ontology
Istilah ontology baru muncul pada pertengahan abad 17, yang pada waktu itu juga muncul istilah philosophia entis atau filsafat mengenai yang ada. Tapi sebagai pencarian jawaban menganai hakikat asal alam semesta, telah dipercakapkan sebelumnya oleh para filosof awal Yunani. Paling tidak, Thales, Anaximander dan Anaximenes yang berasal dari Miletus tercatat sebagai filosof yang berbicara mengenai hakikat segala sesuatu melalui usahanya untuk menjawab sumber segala sesuatu. Pembicaraan itu kemudian berlanjut hingga para fiosof Athena sampai kepada Aristoteles. Sebagian filosof sesudahnya menempatkan pembahasan masalah ontology sebagai pembahasan metafisika.
Ontology, sebagai sebuah istilah berasal dari bahasa Yunani, yaitu on (ada) dan ontos (berada), yang kemudian disenyawakan dengan kata logos (ilmu atau study tentang). Dalam bahasa Inggris ia diserap menjadi ontology dengan pengertian sebagai study atau ilmu mengenai yang ada atau berada.
Dalam kamus Filsafat Lorens Bagus terdapat beberapa Pengertian ontology antara lain:
1. Study tentang ciri-ciri esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari satu study tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari Yang Ada dalam bentuknya yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti: “Apa itu Ada-dalam dirinya sendiri? “Apa hakikat Ada sebagai Ada?
2. Cabang filsafat yang menggeluti tata cara dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan kategori-kategori seperti: ada/menjadi, aktualitas/noneksistensi, esensi, keniscayaan, yang-ada sebagai yang-ada, ketergantungan pada diri sendiri, hal mencukupi diri sendiri, hal-hal terlahir, dasar.
3. Cabang filsafat yang mencoba:
a. Melukiskan hakikat Ada yang terakhir (Yang Satu, Yang Absolut, Bentuk Abadi Sempurna).
b. Menunjukkan bahwa segala hal tergantung padanya bagi eksistensinya.
c. Menghubungkan pikiran dan tindakan manusia yang bersifat individual dan hidup dalam sejarah dengan realitas tertentu.
Objek kajian ilmu itu sendiri sesungguhnya dapat dibagi menjadi:
Objek materil: pembicaraan mengenai apa yang menjadi objek penyelidikan sehingga melahirkan ilmu mengenai objek tersebut.
Objek Formal: pembicaraan mengenai bagaimana pendekatan yang digunakan terhadap suatu objek ilmu.
Jadi ontology (dalam filsafat ilmu) adalah cara pandang mengenai objek materi suatu ilmu, pembicaraan mengenai hakikat objek materi ilmu. Atau dengan kata lain penjelasan tentang keberadaan atau eksistensi yang mempermasalahkan akar-akar (akar yang paling mendasar tentang apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan itu).
Sebagai bahan perbandingan mengenai konsep ontology ilmu yang islami, mari kita lihat QS. Ali Imran ayat 190-191 sebagai berikut:
#$9¡¡Jy»quºNÏ zy=ù,È ûÎ )Îc {[Tr'<Í yUƒt»M; ru#$9]kp$Í #$9©Šø@È ru#$z÷FÏ=n»#É ru#${FöÚÇ ru%èèãqŠY# %ÏŠu»JV$ #$!© ƒtõ.äãrbt #$!©%Ïïût ÈÉÒÊÇ #${F9ø6t»=É ru#${FöÚÇ #$9¡¡Ku»quºNÏ zy=ù,È ûÎ ruƒtGtÿx6¤ãrbt _ãZãq/ÎgÎNö ruãt?n4 ãtx#>z ùs)ÉYo$ ß6ösy»Yo7y /t»ÜÏxW dy»x# zy=n)øM| Bt$ u/­Zu$ ÈÊÒÊÇ #$9Z$Í
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dari ayat tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa Konsep Ontology Ilmu yang Islami memandang realitas dari sudut pandang ke-Khalik-makhluk-an. Artinya, melihat realitas dari pemahaman adanya Allah sebagai Khalik (pencipta) dan segala sesuatu selainNya sebagai makhluk, segala atribut yang bisa secara benar dilekatkan pada makhluk adalah perwujudan niscaya karena kemakhlukannya.
Olehnya itu, dapat ditarik kesimpulan tentang makna sesungguhnya ontology ketika kita coba menarik makna dari sudut pandang Islami sebagai mata rantai yang nyaris terlupakan dengan memberikan pengertian dasar Logos yang berarti Tuhan, jadi Ontologi disini mengandung pengertian tentang hakikat keberadaan Tuhan.

2. Beberapa Pandangan Ontology (Filsafat Barat)
Dalam relevansinya dengan pembicaraannya filsafat pengetahuan, khususnya melalui filsafat Barat, sebenarnya pembahasan masalah ontology berpusat pada keinginan untuk menjawab pertanyaan apa sesungguhnya yang dimaksud sebagai kenyataan (reality)?. Dalam filsafat, pertanyaan tersebut merupakan masalah yang ditemukan beragam jawaban filsafatinya sesuai dengan keragaman “corak” sistem kefilsafatan yang mendasarinya. Untuk itu, dengan membatasi diri pada corak kefilsafatan Barat, dari mana filsafat Barat melandaskan diri untuk menemukan bentuknya dewasa ini, akan dikemukakan secara singkat pandangan-pandangannya mengenai realitas.
1. Naturalisme
Naturalisme adalah sebuah aliran filsafat yang secara harfiah mengandung arti sebagai faham serba alam. Secara sederhana, menurut naturalisme, kenyataan pada hakikatnya bersifat kealaman, yang kategori pokoknya adalah kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu. Apapun yang nyata pasti termasuk dalam kategori alam. Sesuatu yang dapat dikategorikan demikian itu, dapat “dijumpai” dan dapat dipelajari oleh manusia, dengan cara-cara sebagaimana dikenal dewasa ini dengan metode ilmiah.
Dengan demikian pandangan ontologys naturalisme mengenai kenyataan ialah apa saja yang bersifat alam, yakni segala yang berada dalam ruang dan waktu. Akibat dari pandangan ini adalah: (1) segala sesuatu yang dianggap ada, namun di luar ruang dan waktu, tidak mungkin merupakan kenyataan, (2) segala sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu kealaman, tidak mungkin merupakan kenyataan.
2. Materialisme
Hakikat kenyataan adalah materi. Demikian doktrin pandangan filsafat materialisme. Doktrin tersebut didasarkan pada argument filosofis bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakan nyata (1) pada hakekatnya berawal dari materi, atau (2) terjadi karena gejala-gejala yang bersangkutan dengan materi. Karena itu, materialisme menyatakan bahwa tidak ada entitas nonmaterial dan kenyataan supranatural. Pikiran dan aksi mental lain yang oleh kebanyakan orang dianggap tidak bersubstansi material, pada dasarnya adalah perwujudan dari gejala-gejala yang bersangkut paut dengan materi.
Materialisme menolak hal – hal yang tidak kelihatan. Baginya, yang ada sesungguhnya adalah keberadaan yang semata-mata bersifat material atau sama sekali tergantung pada material. Jadi realitas yang sesungguhnya adalah lambang kebendaan dan segala sesuatu yang mengatasi alam kebendaan. Oleh sebab itu seluruh realitas hanya mungkin dijelaskan secara materialistic.
3. Idealisme
Bertolak belakang dengan materialisme dan naturalisme, idealisme merupakan satu corak kefilsafatan yang berpandangan bahwa hakikat terdalam dari kenyataan tidaklah bersifat materi, melainkan bersifat rohani dan spiritual (kejiwaan). Karena itu istilah idealisme terkadang dikenal juga dengan istilah immaterialisme atau mentalisme.
George Barkeley yang dianggap sebagai bapak idealisme modern memadatkan inti idealisme dalam ungkapannya “Esse est Percipi” (untuk ada, berarti mengetahui atau diketahui). Sesuatu tidak mungkin dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak mengetahui atau tidak diketahui. Sesuatu yang mengetahui adalah jiwa, dan sesuatu yang diketahui adalah konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan yang berada dalam wilayah persepsi dan pengetahuan inderawi. Dengan demikian kita harus percaya adanya jiwa dan gagasan-gagasan itu. Segala sesuatu yang berada di luar lingkup pengetahuan, yaitu segala sesuatu yang objektif, tidak ada karena tidak diketahui.
4. Hilomorfisme
Hilomorfisme merupakan istilah yang dalam bahasa yunani merupakan bentukan dari dua kata yaitu hyle (materi) dan morphe (bentuk, rupa). Hilomorfisme meletakkan pandangannya dengan doktrin bahwa tidak satupun hal yang bersifat fisis yang bukan merupakan kesatuan dari esensi dan eksistensi. Artinya ia selalu memiliki sifat fisis dan hakikat tertentu. Eksistensi dapat dipersepsi secara inderawi dan esensi dapat dipahami secara akali. Misalnya sebuah kursi (sebagai suatu yang bereksistensi). Kursi itu adalah sesuatu yang ada. Berada dalam kenyataan, dan menapak dalam ruang dan waktu. Karena itu ia bereksistensi dan potensial dipersepsi secara inderawi. Apa seesungguhnya hakikatnya sebagai sesuatu yang bereksistensi?. Tidak lain adalah kursi. Ke’kursi’an adalah esensi dari kursi itu dan merupakan keapaan (whatness) kursi yang dapat dipahami secara akali. Dalam hal ini, upaya memahami keberadaan (isness) kursi yang bereksistensi tida dapat dipahami tanpa adanya dirinya dengan keapaan (whatness) sebagai kursi.


5. Positivisme
Positivisme adalah aliran filsafat yang secara radikal beranjak dan ketidak percayaan terhadap pandangan-pandangan dan pembicaraan-pembicaraan metafisis yang dilakukan oleh aliran filsafat sebelumnya. karena itu, para penganutnya menyatakan bahwa positivisme adalah suatu filsafat non metafisik.
Dalam pandangan positivisme, pertanyaan-pertanyaan metafisis sama sekali tidak mengandung makna, tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak ada gunanya. Pada dasarnya, satu-satunya tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui kenyataan adalah apa yang disebut sebagai keadaan yang dapat diverifikasi (criterion of veribality). Misalnya, pernyataan metafisis yang mengatakan bahwa “ada substansi terdalam dari segenap hal yang nampak”, jelas adalah pernyataan yang tidak ada gunanya karena tidak bermakna, karena tak satupun pengamatan inderawi yang bisa dilakukan untuk mengambil keputusan terhadap kebenaran pernyataan tersebut, dan karenanya ia tak bisa dipertanggungjawabkan.
Implikasi Pandangan Ontologys Pada Filsafat Barat.
Betapapun di atas telah ditunjukkan bahwa terdapat beberapa pandangan filsafati yang secara berbeda berbicara mengenai hakikat kenyataan, namun dalam filsafat Barat secara bersama ia menunjukkan cara pandang mengenai obyek materi ilmu dengan karakteristik :
i. Memandang obyek materi ilmu tidak dalam kerangka pandangan adanya pencipta yang memandang segala sesuatu selain pencipta adalah ciptaan.
ii. Memandang sesuatu sebagai suatu obyek materi ilmu sejauh ia berada dalam jangkauan indra dan/atau rasio manusia untuk bisa memahaminya, dan pemahaman atasnya merupakan fungsi dari indra dan/atau rasio itu.
iii. Memandang keberadaan obyek materi ilmu hanya dalam rangka ruang dan waktu dunia belaka.
iv. Memandang obyek materi ilmu diatur oleh hukum-hukum keberadaan, namun tidak mempersoalkan asal hukum-hukum keberadaan itu.
3. Objek Materi Ilmu Pengetahuan Menurut Filsafat Barat
Dengan karakteristik pandangan ontologys sebagaimana dikemukakan di atas, filsafat Barat akhirnya memandang bahwa pengetahuan ilmiah (scientific knowledge atau science atau ilmu) adalah pengetahuan mengenai obyek-obyek materi yang dapat dijangkau oleh indra lahiriah dan/atau pemahaman rasional manusia dianggap di luar wilayah obyek materi ilmu. Bahkan secara sempit, diantara filsuf science dan scientist ada yang hanya mengakui keberadaan obyek-obyek inderawi sebagai obyek materi ilmu, dengan implikasi bahwa yang disebut pengetahuan ilmiah (science) hanyalah pengetahuan mengenai obyek-obyek tersebut yang telah diperoleh melalui metode ilmiah ilmu-ilmu kealaman. Padangan demikian itu, terutama ditunjukkan oleh penganut empirisme, positivisme, naturalisme materialisme.
Dalam menegaskan wilayah obyek materi ilmu Jujun S. Suriasumantri (1990) menyatakan bahwa yang menjadi karakteristik obyek ontologys ilmu, yang membedakannya sebagai pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lain, ialah bahwa ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengamalan manusia. Untuk lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut, Suriasumantri mengajukan sebuah pernyataan “apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan neraka?” yang kemudian dijawabnya sendiri, “tidak; sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman kita”.

4. Pandangan Ontology Berdasarkan Al-Qur’an
Sebelum kita mengemukakan sejumlah pandangan ontology berdasarkan al-quran, terlebih dahulu dikemukakan beberapa ayat al-quran sebagai landasannya sebagai berikut:
ÈÌÇ æt=ÎìLî «xÓóä> /Î3ä@eÈ rudèqu ( ru#$9ø7t$ÛÏ`ß ru#$9à©»g΍ã ru#$yFzōã #${FrAã dèqu
Terjemahnya:

Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Hadid (57): 3).

2à@eÈ zy»=Î,ß #$!ª ÈËÏÇ ru.Ï@× «xÓóä& .ä@eÈ ãt?n4 rudèqu ( «xÓóä&
Terjemahnya:
Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az Zumar (39): 62).

#$!ª ƒtGt\tAã BÏW÷=ngß`£ #${FöÚÇ ruBÏ`z œxÿo»quºN; y6öìy {y=n,t #$!©%Ï %sσÖ «xÓóä& .ä@eÈ ãt?n4 #$!© &rb9ÏFtè÷>sHçqþ#( /t÷]skå`£ #${FDöâ ÈËÊÇ ãÏ>øHR$ «xÓóä> /Î3ä@eÈ &rnt%Þx %sô #$!© ru&rb

Terjemahnya:

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. At-Thalaq (65): 12).

Dengan tidak melepaskan diri dari landasan Al-Qur’an di atas dapat dikatakan bahwa sejauh kita akan berbicara mengenai hakekat realitas sebagai realitas ciptaan Allah, maka pertama-tama, ia harus berangkat dari doktrin keniscayaan adanya pencipta sebagai sebab keterciptaannya. Sudah barang tentu, pencipta bukanlah ciptaan itu sendiri, sebab hal tersebut adalah mustahil. Selain itu, juga barang tentu pencipta adalah sesuatu yang transenden (mengatasi) ciptaan, sebab adalah mustahil sesuatu yang lebih sederhana akan menyebabkan keterciptaan sesuatu yang mengatasi (transenden terhadap) dirinya sendiri.
Sebenarnya, jika kita berpijak pada Al-Qur’an dalam membangun pikiran ontologism, maka segala sesuatu selain Al-Khaliq (Pencipta) adalah Makhluq (ciptaan). Hal ini dikenal dengan satu doktrin primum principium yang diistilahkan dengan doktrin “ke-Khaliqmakhluqan”. Dari sinilah landasan pemikiran ontologys kita yang Islami/Qurani dibangun. Dalam hal ini, Realitas itu sesungguhnya berlapis-lapis. Lapisan pertama adalah Tuhan dan ciptaann-Nya adalah manifestasi dari realitas-realitas yang lain.
Jika bertitik tolak dari doktrin tersebut, dengan tujuan membicarakan hakikat realitas dalam arti sehakiki-hakikinya, maka yang sungguh-sungguh ada, sebenarnya adalah dan hanyalah Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta) semata. Dengan kata lain, Al-Khaliq ialah Yang Ada Mutlak, sedangkan makhluq (ciptaan) adalah hanya mungkin ada karena ia di’ada’kan oleh Al-Khaliq. Secara singkat, makhluq sebagai “yang ada”, adalah “yang mungkin ada” karena ia di”ada”kan oleh Allah sebagai penciptanya. Yang mutlak “ada” adalah Al-Khaliq (Pencipta), sedangkan makhluq (ciptaan) hanyalah “yang mungkin ada” (wujud mumkin).
Atas dasar itulah, lebih lanjut dikemukakan bahwa dalam pembicaraan mengenai realitas (alam) Allah memberi petunjuk eksplisit bahwa ada realitas syahadah (realitas yang dapat dipahami karena adanya ciptan-Nya yang maujud secara syahadah (bendawi) tunduk dan berpijak pada hukum-hukum alam bendawi dan potensial dipersepsi secara inderawi) dan ada realitas gaib (realitas yang juga dapat dipahami, tetapi bukan karena adanya sebagai wujud secara bendawi atau dapat dipersepsi dengan indra lahiri). Karena itu, bertitik tolak dari petunjuk ini, maka dimensi-dimensi yang digunakan sebagai ukuran untuk memahami hakikat realitas tidak bisa secara ekstrim menggunakan satu untuk seluruh entitas pembentuk realitas.
5. Objek Materi Ilmu Menurut Pandangan Ontologys Qur’ani
Dapat dipahami, bahwa memang bisa timbul kebingungan bagi sementara kalangan terhadap pandangan ontologys qurani yang telah dikemukakan, khususnya bagi mereka yang berpijak pada cara pandang ontologysm filsafat Barat dewasa ini.
Betapa mungkin alam gaib juga dinyatakan sebagai obyek materi ilmu sementara secara epistemologis, atau lebih khusus lagi secara metodologis tidak dimungkinkan adanya suatu alat verifikasi yang dapat digunakan secara bersama oleh semua orang. Misalnya, bagaimana menggunakan verifikasi untuk menguji kebenaran pernyataan mengenai hal-hal yang bersifat gaib.
Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi sebab dalam rangka verifikasi, dunia ilmu sekuler sendiri telah mengakui salah satu acuan verifikasi adalah pernyataan-pernyataan otoritas. Verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang berkenaan dengan obyek alam gaib, dapat dilakukan mengenai verifikasi rasional terhadap pernyataan-pernyataan doctrinal yang berkenaan dengannya, yang bersumber dari Allah sebagai sumber ilmu sendiri. Jawaban tersebut memang masih dapat menimbulkan pertanyaan selanjutnya, yaitu bagaimana mungkin itu dilakukan oleh mereka yang tidak mengakui adanya Allah? Jawabnya adalah, dengan melihat pada substansi pernyataan itu sendiri. Apakah ia memenuhi syarat untuk menjadi acuan? Apakah ia dapat memberi penjelasan secara konsisten dan dapat diterima secara rasional?
Demikianlah sesungguhnya pandangan ontologys qurani sebagaimana dikemukakan diatas, dapat dibuktikan meniscayakan lahirnya sebuah proses ilmiah yang konsisten melahirkan sebuah pengetahuan ilmiah yang dapat diverifikasi.
Pandangan ontologys tersebut melahirkan pandangan mengenai obyek materi ilmu dengan pernyataan singkat sebagai berikut:
1. Obyek ilmu adalah alam syahadah maupun alam gaib
2. Membangun pengetahuan ilmiah mengenai alam tersebut dilakukan dengan acuan petunjuk Allah Swt sebagai penciptanya.
Selanjutnya, yang mesti menjadi perhatian adalah bahwa pandangan Islam tentang realitas sebagai objek kajian ilmu ternyata tidak hanya terpaku pada dunia empiric atau fiscal tetapi juga mencakup dunia ruh. Diri manusia sendiri adalah miniatur semesta yang tidak hanya terdiri atas jasad tetapi juga hati, perasaan, jiwa dan ruh yang merupakan “bagian” dari Tuhan. Karena itu, metodologi pemikiran Islam tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan dan kegeniusan rasio tetapi harus dengan kesucian hati.

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
1. Filsafat Barat memandang ontology (objek materi ilmu) tidaklah berkisar pada kerangka pencipta dan ciptaan, lebih kepada jangkauan inderawi dalam kerangka ruang dan waktu (dunia belaka) yang diatur oleh hukum-hukum keberadaan sehingga surga, neraka, malaikat, Tuhan dan nilai-nilai moral tidak dimasukkan dalam pengetahuan ilmiah. Sedangkan Ontology berdasarkan Al-Qur’an memandang segala sesuatu selain Al-Khaliq (Pencipta) adalah Makhluq (ciptaan) dimana ciptaan Allah tunduk pada hukum-hukum keberadaan (Sunnatullah). Lebih lanjut, objek ilmu adalh alam syahadah maupun alam gaib dan untuk membangun pengetahuan ilmiah mengenai alam tersebut dilakukan dengan acuan petunjuk Allah Swt, sebagai Penciptanya.
2. Kenyataan bahwa ada alam bendawi sebagai perwujudan dari alam syahadah (Filsafat Barat) dan ada alam non bendawi sebagai perwujudan alam gaib, tidak bisa dipungkiri sebagai suatu realitas. Demikian halnya terhadap keduanya ada alam ruh yang merupakan representasi dalam pikiran terhadap kedua alam tersebut juga tidak bisa dipungkiri. Dengan demikian, maka representasi realitas sebenarnya memiliki representasi pada tingkat bendawi, tingkat ide dan tingkat pikiran. Yang mengatasi keseluruhan tingkatan tersebut adalah alam Ilahi (Filsafat Ilmu Islam).
Pertanyaan yang muncul pada diskusi:
1. Apakah sesuatu yang gaib itu tergolong pada kajian materialism atau tidak?
2. Bagaimana Konsep Ke-Khaliq Makhlukan menjawab persoalan-persoalan yang berada pada tataran “yang mungkin ada”.
3. Apakah sesuatu yang berada di luar ruang dan waktu itu, tidak termasuk dalam kategori kenyataan?.
4. Apa perbedaan dan persamaan Materialisme dan Positivisme?
| Description: http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;