Sabtu, 25 Mei 2013

materi tuna laras mata kuliah ABK anak berkebutuhan khusus

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial.
Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
            KARAKTERISTIK ANAK TUNALARAS MENURUT HALLAHAN DAN KAUFFMAN
            Karakteristik yang dikemukakan Hallahan dan kauffman (1986) berdasarkan dimensi tingkah laku anak tuna laras adalah sebagai berikut:
-          Anak yang mengalami gangguan perilaku
a.        Berkelahi, memukul menyerang
b.       Pemarah
c.       Pembangkang
d.      Suka merusak
e.        Kurang ajar, tidak sopan
f.       Penentang, tidak mau bekerjasama
g.      Suka menggangu
h.      Suka ribut, pembolos
i.        Mudah marah, Suka pamer
j.        Hiperaktif, pembohong
k.      Iri hati, pembantah
l.        Ceroboh, pengacau
m.    Suka menyalahkan orang lain
n.      Mementingkan diri sendiri

-          Anak yang mengalami kecemasan dan menyendiri:
a.       Cemas
b.      Tegang
c.       Tidak punya teman
d.       Tertekan
e.       Sensitif
f.       Rendah diri
g.      Mudah frustasi
h.       Pendiam
i.        Mudah bimbang

-           Anak yang kurang dewasa
a.       Pelamun
b.      Kaku
c.       Pasif
d.      Mudah dipengaruhi
e.        Pengantuk
f.       Pembosan

-          Anak yang agresif bersosialisasi
a.       Mempunyai komplotan jahat
b.       Berbuat onar bersama komplotannya
c.        Membuat genk
d.       Suka diluar rumah sampai larut
e.        Bolos sekolah
f.        Pergi dari rumah

Bukan masalah yang sederhana untuk menentukan batasan mengenai anak yang mengalami gangguan tingkah laku atau lebih dikenal dengan istilah tunalaras. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Yang menjadi pokok pembahasan adalah anak yang mengalami gangguan tingkah laku yang memerlukan layanan pendidikan luar biasa.
            Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Prestasi mereka rendah “bukan karena bodoh”, tetapi disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Disamping anak yang berinteligensi rendah, tidak berarti bahwa anak yang memiliki inteligensi tinggi tidak bermasalah. Anak berinteligensi tinggi seringkali mempunyai masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Anak yang pintar dengan hambatan ego emosional seringkali mempunyai anggapan yang negatif terhadap sekolah. Ia menganggap sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan terlalu lambat.

Bimbingan bina pribadi dan sosial antara lain :
1.         Membina rasa Ketuhanan dan budi pekerti
Membina rasa Ketuhanan hakekatnya berbicara masalah kualitas keimanan. Cara membina rasa Ketuhanan anak gangguan emosi dan tingkah laku antara lain dimulai dengan menanamkan nilai dan norma iman, karena keimanan mengandung nilai dan norma Ketuhanan.Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi perisai dari agresi kejahatan, materi dan keputusasaan anak dalam hidup. Sifat mudah marah, emosional, agresif, merusak dan mengganggu orang lain disebabkan karena lemahnya kadar keimanan seseorang. Sehingga ia tidak ada rasa takut atas resiko kerugian yang ditimbulkan dari perbuatannya.
Caranya :
a. Tanamkan pengertian melalui contoh-contoh kongrit sederhana bahwa perbuatan melanggar norma agama membuahkan dosa dan akan mendapatkan siksa.
b. Sebaliknya kepada anak juga perlu ditanamkan pengertian bahwa perbuatan baik dan terpuji sesuai norma agama membuahkan pahala dan akan mendapatkan imbalan dari Tuhannya.
c. Berikan contoh-contoh kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam kehidupan keagamaan yang praktis dan fungsional.
Bimbingan budi pekerti pada anak gangguan emosi dan sosial dimaksudkan agar anak menjadi manusia yang berbudi luhur, sopan santun, andap asor, jujur, disiplin, dan memiliki rasa setia kawan. Bentuk bimbingan budi pekerti antara lain :
a.       Menanamkan sikap sopan santun
b.      Menganjurkan berpakaian rapi dan bersih
c.       Petunjuk menghindari perkelaian
d.      Menanamkan sikap patuh pada tata tertib keluarga dan sekolah
e.       Memperbanyak mengkaitkan materi pelajaran dengan nilai keagamaan
f.       Bimbingan waktu luang

2.         Membina konsep diri dan pengenalan diri
Anak tunalaras hidup dalam lingkungan sosial, ia berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya. Konsep dan pemahaman diri sangat diwarnai oleh hasil dari komunikasi sosial, sehingga pada diri anak dapat timbul penilaian atas dirinya, baik penilaian diri sebagai subyek maupun dirinya sebagai obyek. Untuk dapat mendudukkan diri sebagai subyek dan sebagai obyek biasanya bertolak dari persepsi diri terhadap kondisi fisik diri, kondisi psikis diri, dan kondisi sosial diri.
Konsep diri positif biasanya dilandasi oleh :
a. Pada diri anak telah mengalami nilai dan prinsip tertentu
b. Dapat menyesali tindakan sendiri yang ternyata salah (dapat merugikan diri dan orang lain) dan bersedia memperbaikinya
c. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu dengan kecemasan
d. Memiliki keyakinan pad kemampuan diri untuk mengatasi persoalan (kegagalan, kelainan) sambil bertawakkal pada kepastian illahi
e. Merasa setara dengan orang lain dan hanya nilai taqwa yang bisa membedakannya
Sedang persepsi negatif biasanya dilandasi oleh adanya ketidaktahanan dalam menerima kritik atas dirinya, ejekan, sangat responsif terhadap pujian, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain.
Stuart & Sundeen (1991) mendeskripsikan konsep diri yang terdiri atas gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran, dan identitas diri. Seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat biasanya dilandasi oleh gambaran diri yang positif dan akurat, ideal diri realistik, konsep diri positif, harga diri yang tinggi, adanya kepuasan penampilan peran serta adanya identitas diri yang jelas.
3.         Membina emosi/perasaan dan sikap sosial
Perasaan sosial akan mempengaruhi sikap sosial seseorang. Perasaan sosial yang altrimistis, egoistis, maupun individualis sama-sama tidak baik pengaruhnya terhadap pembentukan sikap sosial. Adanya sikap sosial yang antipati dan antipati juga tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian seseorang. Anak-anak tunalaras perlu dibina perasaan sosial dan sikap sosial yang positif.
Paling tidak ada 2 aspek yang perlu ditanamkan kepada mereka yaitu :
a.       Kemampuan mengadakan relasi sosial, seperti :
·      Kemampuan bergaul
·      Bekerjasama dengan orang lain
·      Dimilikinya peran sosial yang sesuai dan jelas
·      Kemampuan mengadakan penyesuaian sosial
b.      Kemampuan mengadakan integrasi sosial
Hasil akhir dari pembinaan perasaan sosial dan sikap sosial adalah anak dapat bergaul dan bekerjasama dengan orang lain dalam kelompok, yahu akan perannya dan dapat menyesuaikan diri dengan peran tersebut, dapat memahami tugas dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dapat memahami batas-batas dari perilakunya, dapat menyesuaikan dengan lingkungan sosial, etika pergaulan, agama dan tidak memisahkan diri, tidak rendah diri dan tidak berlebihan serta mampu bergaul secara wajar dengan lingkungannya.
4.         Membina kehendak
Kehendak adalah dorongan/kekuatan dari dalam untuk berbuat guna mancapai sesuatu yang dikehendaki daan menghindrai sesuatu yang tidak dikehendaki. Kemauan adalah kehendak yang berhubungan dengan kerokhanian.
a.       Membina kebiasaan
Kebiasaan yang sudah berlangsung lama dapat mewarnai kepribadian seseorang. Namun, anak tunalaras perlu dilatih segala aktivitas yang positif dan konstruktif agar apabila anak sanggup mengerjakannya berulang-ulang dapat membentuk kepribadian yang baik. Misalnya kebiasaan hidup tertib, aktif beraktivitas, hidup bersih, hidup sehat, rajin belajar.
b.      Membina nafsu
Nafsu merupakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nafsu ada beberapa macam yaitu nafsu amarah (penggerak), nafsu musawwilah (penipu diri), nafsu lawwamah (penimbang), nafsu muthmainnah (ketenangan/kesadaran). Dengan memahami nilai dan norma agama, maka nafsu yang cenderung mendorong orang berbuat negatif dan jahat dapat dicegah dan melahirkan nafsu muthmainnah.
c.       Membina kecenderungan/kegemaran/hobby
Kecenderungan/kegemaran/hobby adalah suatu dorongan yang datangnya relatif selalu timbul. Cara membina kecenderungan/kegemaran.hobby antara lain dengan cara mengarahkan pada aktivitas yang positif dan tidak bertentangan dengan nilai dan norma di masyarakat.
d.      Membina kemauan
Kemauan merupakan tenaga jiwa yang memberi ketetapan untuk menepati atau melaksanakan keputusan bathin. Membina kemauan anak tunalaras adalah melalui menyalurkan kemauan itu ke kegiatan yang positif, berikan hadiah dan hukuman yang sesuai, biasakan berbuat baik guna membentuk kata hatinya. Kemauan pada hakekatnya dapat dididik, oleh karena itu ada seloka sebagai berikut :
·      Keputusan bathin akan dapat disepakati, kalau kemauan kuat
·      Kemauan dapat kuat, kalau motif kuat
·      Motif dapat kuat kalau berdasar keyakinan.


  Kondisi/Keadaan Fisik
Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhanya baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya. Kondisi ini kadang menimbulkan perasaan inferioritas dan menyebabkan ketidakstabilan emosi anak yang pada akhirnya berujung pada gangguan perilaku.
2.      Masalah Perkembangan
Erikson (dalm Singgih D. Gunarsa,1985:107) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan berbagai tantangan satu krisis emosi. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini, individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan social atau masyarakat. Sebaliknya apabila individu tidak dapat menyelesaikan masalh tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terjadi pada masa kanak-kanak dan masa pubertas.
3.      Lingkungan Keluarga
Keluarga memiliki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai peasaan dan sikap social.
Aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah gangguan emosi dan tingkah laku, yaitu:
         Kasih sayang dan perhatian
         Kehormonisan keluarga
         Kondisi ekonomi
4.   Lingkungan Sekolah
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah berasal dari guru dan fasilitas pendidikan. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak menjadi tertekan dan takut menghadapi pelajaran, sehingga anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran. Fasilitas pendidikan juga mempengaruhi gangguan tingkah laku. Sekolah yang tidak mempunyai fasilitas untuk anak menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatka anak menyalurkan aktivitas pada hal-hal yang kurang baik.
5.   Lingkungan Masyarakat
Di dalam lingkugan masyarakat terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negative yang dapat memicu timbulnya perilaku menyimpang. Sikap masyarakat masyarakat yang negative ditambah banyaknya hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tngkah laku. Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat yang diterima oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang siftny negative.

Pendidikan pada anak Tunalaras.
­ Di dalam pelaksanaannya beberapa bentuk penyelenggaraan pendidikan anak tunalaras antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler. Jika diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal bersama-sama kawannya di kelas, hanya mereka mendapat perhatian dan layanan khusus.
b.      Kelas khusus apabila anak tunalaras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas. Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
c.       Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras tanpa asrama Bagi Anak Tunalaras yang perlu dipisah belajarnya dengan kata kawan yang lain karena kenakalannya cukup berat atau merugikan kawan sebayanya.
d.      Sekolah dengan asrama. Bagi mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan kawan maupun dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama adalah untuk keperluan penyuluhan.


Untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Berusaha mengatasi semua masalahnya dengan menyesuaikan proses pembelajaran sesuai dengan kondisi anak tunalaras
  2. Berusaha mengembangkan kemampuan fisik, mengembangkan bakat dan menegmbangkan intelektual
  3. Memberi keterampilan khusus untuk bekal hidupnya
  4. Memberi kesempatan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya
  5. Memberi rasa aman agar mereka punya percaya diri dan tidak merasa disia-siakan oleh lingkungan sekitar
  6. Menciptakan suasana yang tidak membuat anak merasa rendah diri dan rasa bersalah.


Klasifikasi Anak Tuna Laras

Secara garis besar anak tuna laras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (William.M. C., 1975 ) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (Socially Malasjusted Children):
Ø  The Semi-socialize child, anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.
Ø  Children arrested at a primitive level of socialization, anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.
Ø  Children with minimum socialization capacity, anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.

2. Anak yang mengalami gangguan emosi (Emotionally Disturbed Children), terdiri dari:
Ø  Neurotic Behavior, anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemas, marah, agresif dan perasaan bersalah. Disamping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkanoleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karenakesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.
Ø  Children with psychotic processes, anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan.



1 komentar:

Lasmaria Junita mengatakan...

Setuju bna..,

Poskan Komentar

Pages

 
;