Minggu, 01 Juli 2012

contoh proposal skripsi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dan kemampuan anak didik sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi karena dengan pendidikan manusia akan dapat hidup berkembang sesuai dengan cita-cita.[1]
Menurut Surya Subrata, “Pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan terencana untuk membantuk perkembangan potensi dan kemampuan anak”. Dilihat dari sudut perkembangan yang dialami oleh anak, maka usaha yang sengaja dan terencana (yang disebut pendidikan) tersebut ditunjukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan perkembangan anak.[2]
Bila ditelusuri secara mendalam proses belajar mengajar merupakan inti dari aktivitas pendidikan, di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran yang dikelompokkan kedalam tiga kategori utama, yaitu: guru,  siswa dan tujuan dari pembelajaraan itu sendiri.[3]


Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang mempunyai tanggung jawab untuk terus mendidik siswanya. Untuk itu sekolah menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar sebagai realisasi tujuan pendiikan yang telah ditetapkan. Adapun penanggung jawab kegiatan proses belajar-mengajar di dalam kelas adalah guru. Karena gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi siswa agar terjadi proses belajar yang efektif.
Diantara faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses belajar mengajar adalah faktor kemampunan guru dalam melaksanakan  proses belajar mengajar dengan antara interaksi antara guru dengan siswa. Faktor  tersebut harus dimiliki guru di dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sebab di dalam proses belajar-mengajar terdapat bermacam-macam perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh kemampuan guru dalam mengajar, pengetahuan yang dimilikinya, dan latar belakang pendidikannya. [4]
Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya.[5]
Pada dasarnya, fungsi dan peranan penting guru dalam proses belajar mengajar ialah sebagai “director of learning” (direktur belajar). Artinya, setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan proses belajar mengajar. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa peranan guru dalam dunia pendidikan modern seperti sekarang ini semakin meningkat dari pengajar menjadi direktur belajar. Konsekuensinya, tugas dan tanggung jawab guru pun menjadi lebih kompleks dan berat pula. Perluasan tugas dan tanggung jawab guru tersebut membawa konsekuensi timbulnya fungsi-fungsi khusus yang menjadi bagian integral (menyatu) dalam kompetensi profesionalisme keguruan yang disandang oleh para guru.[6]
Dalam hal aspek profesionalisme guru, Kunandar menjelaskan bahwa:
“…guru profesional pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, membedah aspek profesionalisme guru berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki seorang guru”. [7]

Undang Undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa:

“Pasal 10 (1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.[8]

Semakin jelaslah bahwa faktor kemampuan sangat penting dimiliki oleh setiap guru dalam proses belajar mengajar. Semakin tinggi kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, diduga semakin tinggi pula prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.[9]
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing pihak itu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu atau yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan seatu kegiatan/pekerjaan. Begitu juga untuk belajar sangat diperlakukan adanya motivasi. “Motivation is an essential condition of learning”. Hasil belajr akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.[10]
Proses belajar dikelas selalu menuntut adanya motivasi dalam diri setiap siswa. Keberadaan motivasi dalam proses belajar merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi seluruh aspek-aspek belajar dan pembelajaran. Siswa yang termotivasi akan menunjukkan minatnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas belajar, merasakan keberhasilan diri, memunyai usaha-usaha untuk sukses, dan memiliki strategi-strategi kognitif dan afektif dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan padanya.[11]
Telah lama dipahami bahwa motivasi merupakan pendorong bagi setiap individu untuk berperilaku. Perilaku belajar pada manusia muncul tidak terlepas dari adanya motivasi yang ada di dalam dirinya. Para ahli pendidikan dan psikologi menyatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku manusia baik melalui latihan maupun penglaman. Apabila ada motivasi yang kuat, maka seseorang akan bersungguh-sungguh dalam mencurahkan segala perhatiannya untuk mencapai tujuan belajarnya.
Dalam proses belajar mengajar motivasi itu sangat penting dan menentukan kegiatan dalam belajar. Bila remaja tidak punya motivasi, maka guru tidak menjamin penempatan siswa di kelas tertentu, baik kegiatan belajarnya maupun keberhasilannya. Motivasi sangat penting karena suatu kelompok yang tidak mempunyai motivasi (belajarnya kurang atau tidak berhasil).[12]
Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seseorang anak didik. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Selain memiliki bukunya, ringkasan yang lengkap dan rapi. Setiap ada kesempatan selalu mata pelajaran yang disenangi itu yang dibaca.[13]
Jadi, dalam proses belajar mengajar sangat penting adanya guru sebagai pengajar dan pentransfer ilmu yang prosefesional dan siswa sebagai penerima ilmu dari pengajar tersebut mempunyai motivasi yang besar dalam belajarnya. Karena dengan adanya guru yang profesional dan motivasi belajar siswa yang tinggi akan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Dari penjelasan di atas maka peneliti memberikan judul skirpsi yaitu “pengaruh profesionalisme guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri”.

B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah dalam penelitian tersebut sebagai berikut:
1.      Bagaimana profesionalisme guru kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri?
2.      Bagaimana motivasi belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri?
3.      Bagaimana prestasi belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri?
4.      Adakah pengaruh profesionalisme guru terhadap prestasi siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri?
5.      Adakah pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri?
6.      Adakah pengaruh profesionalisme guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri?

C.    Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui profesionalisme guru di MTsN 2 Kediri.
2.      Untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.
3.      Untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.
4.      Untuk mengetahui pengaruh profesionalisme guru terhadap prestasi  belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.
5.      Untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.
6.      Untuk mengetahui pengaruh profesionalisme guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.


D.    Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian menurut Moh. Ali adalah “jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang dirumuskan atas dasar terkaan peneliti yang akan diuji dengan data.”[14]
Hipotesis penelitian dalam skripsi ini sebagai berikut:[15]
a.       Hipotesa kerja atau disebut dengan Hipotesa Alternatif disingkat Ha. Yaitu ada pengaruh antara profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa, motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa dan ada pengaruh profesionalisme guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.
b.      Hipotesa Nol (nol hypotheses) disingkat Ho, yaitu tidak ada pengaruh antara profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa, motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa dan tidak ada pengaruh profesionalisme guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTsN 2 Kediri.

E.     Kegunaan penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai sumbangan pemikiran terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang ilmu pendidikan.
2.      Untuk dijadikan tambahan khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dalam peningkatan profesionalisme guru dimanapun berada.
3.      Bagi MTsN 2 Kediri yang merupakan obyek dari penelitian penulis, semoga dapat dijadikan dasar pemikiran dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru, motivasi belajar siswa dan prestasi siswa.
4.      Bagi peneliti, penelitian ini semoga menjadi ilmu untuk meningkatkan kualitas mengajar kepada anak-anak. Dan bisa dijadikan dorongan dan intropeksi diri jika kelak menjadi seorang guru.

F.     Ruang lingkup
Untuk mempermudah pembahasan, maka perlu adanya ruang lingkup agar pembahasan masalah tidak mengalami kesimpang-siuran serta peneliti lebih bisa fokus terhadap masalah yang ada. Apapun ruang lingkupnya dibatasi pada hal-hal yang ada pada judul yaitu lokasi, subyek, dan variabel penelitian.
1.      Lokasi penelitian dilaksanakan di MTs Negeri 2 Kediri.
2.      Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri
3.      Penelitian ini menggunakan dua macam masalah variabel yaitu variabel bebas dan terikat.
a.       Variabel bebas adalah profesionalisme dan motivasi belajar siswa dengan indikatornya:
Indikator profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar diantaranya:
1)      Mampu menguasai bahan bidang studi
2)      Mampu menggunakan macam-macam metode mengajar
3)      Mampu menggunakan media pendidikan
4)      Mampu mampu mengenal kemampuan anak didik[16]
Indikator dari motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar diantaranya:
1)      Tekun dalam menghadapi tugas,
2)      Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa),
3)      Lebih senang bekerja mandiri,
4)      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.[17]
b.      Variabel terikat adalah prestasi belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri yang diambil dari nilai raport siswa. Karena raport merupakan akumulasi dari beberapa unsur, yaitu:
1.      Hasil  tes formatif atau nilai harian
Nilai formatif merupakan penilaian yang dilaksanakan setelah menyelesaikan satu pokok ahasan atau sub pokok bahasan.
2.      Nilai mid semester
Nilai mid semester adalah nilai yang diambil setelah murid dan guru menyelesaikan separo dari materi yang harus diajarkan dalam satu semester baik itu dalam semester ganjil maupun semester genap.
3.      Nilai ujian akhir semester
Penilaian jenis ini diadakan pada akhir setiap semester. Ujian ini dilaksanakan secara serentak oleh sekolah atau madarasah di suatu wilayah.

G.    Penegasan Istilah
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penafsiran yang keliru sehubungan dengan judul skripsi “pengaruh profesionalisme guru dan kedisipinan belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri 2 Kediri tahun 2010-2011”, maka akan ditegaskan istilah-istilah di atas sebagai berikut:
a.       Profesionalisme guru
Guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.[18]
b.      Motivasi belajar siswa
Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.[19]
c.       Prestasi belajar siswa
Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mutu pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai test atau nilai angka pada raport siswa.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Tinjauan tentang profesionalisme guru
1.      Pengertian profesionalisme guru
2.      Ciri-ciri profesionalisme guru
3.      Syarat-syarat profesionalisme guru
4.      Kompetensi profesionalisme guru
5.      Upaya peningkatan profesionalsime guru
B.     Tinjauan tentang motivasi belajar siswa
1.      Pengertian motivasi belajar
2.      Macam-macam motivasi belajar
3.      Fungsi motivasi dalam belajar
4.      Bentuk motivasi dalam belajar
a.       Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar
b.      Upaya meningkatkan motivasi belajar
C.     Tinjauan tentang prestasi belajar siswa
1.      Pengertian prestasi belajar
2.      Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
D.    Pengaruh profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa
E.     Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa




[1] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 1-2.
[2] Surya Subrata, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), 11
[3] Abi Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan; Perangkat Sistem Pengajaran Modul (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 155.
[4] Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajr Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), 4-5.
[5] Kunandar, Guru Profesional, impimentasi kurikulum tingkat satuan pendidikan dan sukses dalam sertifikasi guru (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), 48.
[6] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), 250.
[7] Kunandar, Guru Profesional, 51.
[8] Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen
[9] Cece wijaya, Kemampuan Dasar Guru.
[10] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 84-85.
[11] Esa Nur Wahyuni, Motivasi Dalam Pembelajaran (Surabaya: UIN-Malang PRESS, 2009), 3-4.
[12] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Akasara, 2001), 179.
[13] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 121.
[14] Muhammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan (Bandung: Aksara, 1993), 43.
[15] Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 70-71.
[16] Cece, Kemampuan Dasar Guru, 25-27.
[17] Sardiman, M.A., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Grafindo Persada, 2010), 83.
[18] Moh. User Usman, Menjadi Guru Professional (Bandung: rosdakarya,1998), 15.
[19] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengaja (Jakarta: Bumi Akasara, 2001.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;