Sabtu, 25 Mei 2013

fenomena anak berbakat dan penanganannya

Fenomena Anak Berbakat dan Penanganannya

OPINI | 19 October 2011 | 11:39 Dibaca: 975   Komentar: 2   Nihil
Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5, ayat 4).
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b).
(Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional)
Siapapun ingin, memiliki buah hati yang berprestasi. Namun pengertian prestasi yang dipahami oleh orang tua kebanyakan hanyalah  “nilai raport dengan angka yang tinggi”. Semakin tinggi angkanya, semakin senang mereka. Padahal prestasi yang demikian hanyalah prestasi dibidang akedemis. Tak salah memang mengharapkan anak mendapatkan nilai akedemis yang tinggi. Siapa yang tak bangga bila putra / putrinya mendapat angka 9 untuk pelajaran matematika, atau IPA, dua pelajaran yang menjadi momok di sekolah. Namun sebaiknya kita juga harus fair, sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengakomodir berbagai kecerdasan yang ada pada setiap siswa, yang ada hanyalah kurikulum yang menguraikan target kompetensi di setiap pelajarannya. Hingga tak heran bila banyak “mutiara-mutiara” berserakan yang luput dari pengamatan. Mereka adalah anak yang memiliki bakat khusus di bidang tertentu, namun tidak terdeteksi di sekolah. Padahal pemerintah telah mengakomodir keistimewaan potensi anak berbakat ini dalam wadah undang-undang. Mengapa keberadaan  anak berbakat terkadang luput dari perhatian pihak sekolah? Setidaknya ada dua alasan untuk bisa menjelaskannya, yaitu :
  1. Generalisir bukan uniquely
Perlakuan guru sebagai personal maupun sekolah sebagai lembaga masih memperlakukan siswa sama halnya seperti tukang sablon kaos. Setiap baju harus disablon dengan warna, gambar dan model yang sama, sehingga terciptalah ribuan baju yang sama dengan proses yang sama pula. Padahal kenyataanya tidak semua baju bisa disablon, sablon hanya cocok dengan baju berbahan kaos, itupun tidak semua kaos cocok untuk disablon. Bagaimana dengan kaos bermotif, kaos rombeng compang camping atau baju safari? Akan jadi apa bila dipaksakan untuk disablon?
Artinya perlakuan yang sama terhadap semua siswa akan memandulkan potensi anak itu sendiri. Seperti anak yang diibaratkan kaos rombeng compang camping, yaitu anak yang  kesehariannya sama sekali tidak ada keistimewaaanya, sering jadi “trouble maker”, selalu mendapat nilai jelek, bila terus dipaksakan disablon seperti kaos yang lainnya, maka hasilnya tak akan bagus, malah sebaliknya. Kaos rombeng compang camping, mengapa tidak dijadikan kostum untuk pementasan drama atau musik? Bukankah akan nyata kebermanfaatannya? Begitu pula dengan anak berbakat yang diibaratkan baju safari, bila diperlakukan sama seperti kaos yang lain dengan disablon  maka akan merusak baju safari tadi. Kesimpulannya setiap siswa adalah unik, jangan digeneralisir. Proseslah mereka sesuai dengan potensi dan bakatnya masing-masing seharusnya : uniquely bukan generalisir !
2. Pemahaman keliru
Banyak orang dewasa menghargai prestasi anak hanya dari tingginya nilai raport, sebaliknya anak akan kurang mendapat apresiasi bila semua nilai di raportnya jeblok, seakan tidak ada kebanggan di sana. Padahal siapa tahu diantara anak yang nilainya jeblok itu terdapat anak yang berbakat. Berapa banyak anak berbakat yang memiliki kecerdasan naturalis dan berpotensi menjadi ahli botani,  animalogi atau peneliti. Namun, karena tak bisa menjawab perhitungan rumit matematika atau tak kuasa menghafal tahun dan  peristiwa bersejarah, maka ia luput dari perhatian orang dewasa di sekitarnya. Atau anak yang dicap pendiam, menarik diri, pemalu dengan prestasi yang biasa-biasa saja, padahal sebenarnya ia adalah anak berbakat yang memiliki  kecerdasan eksistensial, laiknya plato atau Socrates! Jadi tak selamanya anak berbakat hanyalah sekumpulan anak dengan IQ tinggi, bisa menghitung cepat, mampu merecall semua data entry, dsb. Sebagai contoh; Galang Rambu Anarki putra Iwan Fals, sama sekali tidak menonjol di sekolah, semua nilainya hancur, sekolahpun jarang masuk. Namun di usia sangat muda (SD) ia sudah bisa memainkan berbagai alat musik, membuat lagu, mengaransemen, dan tampil di berbagai panggung. Artinya ia adalah anak berbakat di bidangnya yaitu musik. Demikian pula dengan Ali (bukan nama sebenarnya) kapten tim kesebelasan AC Milan Indonesia yang berhasil menjuarai turnamen sepakbola Internasioanal di Italia. Ia adalah anak dari orang tua tidak mampu, dengan prestasi sekolah yang tidak baik pula. Tapi sebenarnya ia adalah anak berbakat di bidangnya, yaitu sepak bola. Jadi, ubahlah paradigma bahwa anak berbakat hanyalah anak yang memiliki prestasi akedemis yang tinggi di sekolah.
Solusi
Anak berbakat akan merasa frustasi bila diperlakukan sama dengan anak lainnya, seperti perumpamaan “sablon kaos” di atas. Robert Boyle, bapak ilmu kimia yang menemukan “Hukum Boyle” saja memutuskan untuk keluar SD, karena merasa bosan dan jenuh di sekolah karena dalam banyak hal pemikiran dan kemampuannya di atas teman-temannya, bahkan  guru-gurunya pun merasa kewalahan dengan sikap kritisnya. Oleh karenanya harus ada penanganan khusus bagi anak anak berbakat, seperti :
1)      Menyiapkan perangkat khusus di sekolah bagi anak berbakat, sehingga tanpa harus dipisahkan dari anak
lainnya,    kemampuan dan bakatnya tetap dapat dimaksimalkan
2)      Program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat
3)      Home-schooling, pendidikan non formal di luar sekolah (Thomas Alva Edison, Hellen Keller, Robert Boyle
adalah  siswa home schooling di masanya)
4)      Menyiapkan guru yang dapat melakukan pendekatan individual, walau harus mengajar di kelas
konvensional, dilengkapi dengan program sekolah yang jelas sofe ware/hard warenya.
5)      Membangun kelas khusus untuk anak berbakat.
Kelimanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun setidaknya ada usaha untuk tidakterjadi proses pembiaran terhadap para anak berbakat ini, sehingga bakat dan potensinya tidak hilang percuma.
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/19/fenomena-anak-berbakat-dan-penanganannya-404769.html


0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;