Senin, 05 November 2012

laporan Learning Disability (LD) kesulitan belajar



1.      Pengertian Learning Disability (LD)
Secara harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “Learning Disability” yang berarti ketidakmampuan belajar, kata disability diterjemahkankesulitan” untuk memberikan kesan optimis bahwa anak sebenarnya masih mampu untuk belajar.[1] Disini pengertian secara istilah juga terdapat banyak perbedaan dalam mendefinisikannya, yaitu: 1). Menurut Sunarta (1985:7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yang dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkahlaku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.[2] 2). Kesulitan belajar lebih didefinisikan sebagai gangguan perseptual, konseptual, memori maupun ekspresif di dalam proses belajar. Kendatipun gangguan ini bisa terjadi di dalam berbagai tingkat kecerdasan, namun ‘kesulitan belajar’ lebih terkait dengan tingkat kecerdasan normal atau bahkan diatas normal. Anak-anak yang berkesulitan belajar memiliki ketidakteraturan dalam proses fungsi mental dan fisik yang bisa menghambat alur belajar yang normal, menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan berbahasa. Umumnya masalah ini nampak ketika anak mulai mempelajari mata pelajaran dasar seperti menulis, membaca, berhitung, dan mengeja.[3]
Dengan demikian dari kedua pandapat diatas, kita dapat menarik kesimpulan pengertian mengenai kesulitan belajar adalah kesulitan yang dialami oleh siswa-siswi dalam proses kegiatan belajar karena ketidakterturan dalam proses fungsi mentalndan fisik yang menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan bahasa, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkahlaku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh oleh siswa. Meskipun demikian, individu yang mengalami kesulitan dalam belajarnya juga bisa sukses di sekolah, di dunia kerja, dalam hubungan antar-individu, dan di dalam masyarakat bila disertai dengan dukungan dan perhatian yang tepat.
Anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau  lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung. Disini kita akan mencoba mengidentifikasi individu yang kemungkinan individu tersebut mengalami kesulitan dalam belajarnyadi sekolah.

2.      a). Identifikasi Siswa Kesulitan Belajar
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya dengan lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kepekaan orangtua, guru di sekolah serta orang-orang di sekitarnya sangat membantu dalam mendeteksinya, sehingga anak dapat memperoleh penanganan dari tenaga profesional sedini dan seoptimal mungkin, sebelum menjadi terlambat. Kesulitan Belajar kadang-kadang tidak terdeteksi dan tidak dapat terlihat secara langsung. Setiap individu yang memiliki kesulitan belajar sangatlah unik. Pada umumnya, individu dengan kesulitan belajar memiliki intelegensi rata-rata bahkan diatas rata-rata. Seseorang terlihat normaldan tampak sangat cerdas tetapi sebaliknya ia mengalami hambatan dan menunjukkan tingkat kemampuan yang tidak semestinya dicapai dibandingkan dengan yg seusia dengannya.

Identitas Siswa
Nama lengkap                  : M.Rizal Fahlevi
Nama Panggilan               : Rizal
Tempat / Tanggal lahir     : Kediri, 17 september 2002
Jenis Kelamin                   : Laki-laki
Anak ke-                          : 2 dari 3 bersaudara
Alamat                             : Jalan SMA 6
  Rejo Mulyo  Kota Kediri
Asal Sekolah                    : MI. Mambaul Ulum Kelas 5
Nama Orang Tua             
   Ayah                           : Bpk. M. Salim
   Ibu                               : Ibu Khoiriyah           
Pekerjaan                          : Wiraswasta

b). Observasi dan Test
Observasi dan tes ini dilaksanakan pada :
Hari                         : Sabtu
Tanggal       : 25 Nopember 2011
Pukul           : 09.00 WIB sampai dengan selesai.
Tempat        : MI Mamba'ul Ulum Rejomulyo Kec.Kota Kediri

3.      Hasil Observasi
a.      Gangguan Menulis (Disgrafia)
1)      Pengertian Disgrafia
Disgrafia adalah sebuah kekurangan dalam kemampuan untuk menulis, terlepas dari kemampuan untuk membaca, bukan karena kerusakan intelektual dan mungkin karena kelainan neurologis yang menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.
Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan.
2)      Ciri-Ciri Disgrafia
Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya adalah:
a)      Terdapat ketidak konsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
b)      Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
c)      Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
d)     Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
e)      Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
f)       Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
g)      Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
h)      Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
3)      Metode Observasi yang Digunakan
Metode yang digunakan dalam melakukan observasi yaitu dengan menyuruh anaknya tersebut untuk menyalin tulisan dengan melihat.
Ø  Teks menyalin dengan melihat:
1.      Saya pergi mencari cangkul.
2.      Petani pergi mencabut wortel.
3.      Saya mencari rumput.
4.      Ifan pergi ke sawah.
5.      Saya mandi dengan air.



Hasil tulisan tangan Rizal adalah dibawah ini:

Teks menulis dikte
Teks:
1.      Saya pergi ke sawah melihat padi.
2.      Saya sedang mengupas jagung.
3.      Saya sedang mengupas tebu.
4.      Saya sedang mencabut wortel.
5.     



Ibu saya sedang memotong kacang panjang.

4)      Analisa
Kesalahan yang ditemukn pada menulis:
1.      Penempatan huruf besar tidak pada tempatnya.
2.      Tidak bisa memenggal kata satu dengan yang lainya (dengan spasi).
3.      Mengganti huruf "F" dengan huruf "P" pada kata Ifan.
4.  Menulis huruf "Y" menyerupai huruf "S", menulis huruf ”G” menyerupai huruf ”Y”.
Setelah memberikan test dikte dan menulis pada object, penulis hanya menemukan penulisan yang kurang  memperhatikan penggalan diantara kata satu dengan kata yang lainnya, dan dalam penulisan kata, pembalikan huruf, mengurangi/ menambah huruf atau penggantian huruf penulis tidak menemukan kesalahan.
Kesimpulan:
Dari hasil analisa pada test menulis dengan melihat dan menulis dengan dikte menunjukkan bahwa object mengalami disgraphia pada point:
·         Tidak bisa memenggal kata satu dengan yang lainya (spasi).
·         Penempatan huruf besar tidak pada tempatnya.
·         Mengganti huruf "F" dengan huruf "P" pada kata Ifan.
·         Menulis huruf "Y" menyerupai huruf "S", menulis huruf ”G” menyerupai huruf ”Y”.
b.      Gangguan Membaca (Disleksia)
1)      Pengertian Disleksia
Disleksia atau kesulitan membaca adalah kesulitan untuk memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan membaca pemahaman. Penyandang disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis, dan beberapa aspek bahasa yang lain.
Disleksia dibedakan menjadi dua, yaitu developmental dan acquired. Pada disleksia developmental, 70 persennya disebabkan oleh keturunan. "Juga disebabkan oleh kondisi saraf (neurologis) dan disandang seumur hidup. Penyandang disleksia umumnya mengalami masalah dalam membaca, mengeja, dan menulis.Itu tak hanya berhenti pada tiga hal di atas. Masalah lain yang menguntit pengidap disleksia adalah susah konsentrasi, daya ingat yang pendek, kesulitan mengurutkan huruf A-Z dan mengorganisasi, serta cenderung tak teratur.
Tanda-tanda disleksia bisa dideteksi sejak dini. Pada usia prasekolah, pengidap disleksia biasanya kidal atau tak mahir jika cuma memakai satu tangan, bingung atau sering tertukar kanan dan kiri. Selain itu, mereka suka tergesa-gesa, miskin kosakata, atau kesulitan memilih terminologi atau nama yang tepat. Misalnya, "Saya tak mau berenang karena kolamnya tebal," (baca: dalam) atau "Kemarin saya diberi kue sama si itu."
2)      Ciri-Ciri Disleksia
Adapun ciri-ciri kesulitan membaca di antaranya berupa:
1.      Penambahan (Addition)
Menambahkan huruf pada suku kata
Contoh :   suruh è disuruh; gula è gulka; buku è bukuku
2.       Penghilangan (Omission)
Menghilangkan huruf pada suku kata
Contoh  :   kelapa è lapa; kompor è kopor; kelas è kela
3.      Pembalikan kiri-kanan (Inversion)
Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik kiri-kanan.
Contoh  :  buku è duku; palu è lupa
4.       Pembalikan atas-bawah (ReversalI)
Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik atas-bawah.
Contoh :  m è w; uè n; nana è uaua; mama è wawa; 2 è 5;    6 è 9
5.       Penggantian (Substitusi)
Mengganti huruf atau angka.
Contoh :   mega è meja; nanas è mamas
3)      Metode Observasi yang Digunakan
Test membaca teks :
Kedermawanan Itu Adalah Jernih
Seorang pria dari kaum Quraisy bercerita:
"Suatu saat, Muhammad bin Al-Munkadir dari Bani Taim bin Murrah pergi untuk berhaji. Dia seorang yang sangat dermawan. Sebelum berangkat dia memberikan sedekah kepada orang-orang. Semua barang miliknya sudah habis, yang tersisa hanyalah sebuah baju yang dia pakai, dia berangkat haji bersama kawan-kawannya.
Dalam perjalanan, dia singgah di telaga air. Saat itu datanglah wakilnya dalam rombongan itu dan berkata, 'Kita tidak punya apa-apa, bahkan meski sisa uang satu dirham saja,' Mengetahui hal itu, Muhammad meneriakan bacaan talbiyyah dan diikuti oleh semua kawan-kawannya, bahkan juga orang-orang yang sama-sama singgah di telaga itu. Di antara orang-orang itu ada Muhammad bin Hisyam. Setelah mendengar suara talbiyah menggema, Muhammad bin Hisyam berkata, 'Demi Allah, aku yakin di sekitar telaga ini ada Muhammad bin Al-Munkadir, cobalah kalian lihat.' Ternyata memang benar Muhammad bin Al-Munkadir ada di situ. Kemudian Muhammad bin Hisyam berkata, 'Aku kira dia tidak mempunyai uang. Bawalah uang sebanyak 4.000 dirham ini kepadanya'.

4)      Analisa
Dalam pengamatannya, Penulis menemukan kesalahan-kesalahannya yang muncul dalam praktek membaca, yaitu:
1.      Kurang memperhatikan tanda baca, khususnya pada tanda titik ( . ) dan koma ( , ).
2.      Penghilangan huruf pada kata"menggema" di baca "mengema".
3.      Tersendat-sendat.
4.      Memenggal suku kata "Hisyam" di baca "His yam".
Kesimpulan:
Setelah melakukan test membaca, penulis menemukan beberapa ciri dari disleksia yang telah di paparkan pada point analisa diatas.
c.       Gangguan Matematik (Diskalkulia)
1)      Pengertian Diskalkulia
Diskalkulia adalah kesulitan dalam menggunakan bahasa simbol untuk berpikir, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide yang berkaitan dengan kuantitas atau jumlah. Kemampuan berhitung sendiri terdiri dari kemampuan yang bertingkat dari kemampuan dasar sampai kemampuan lanjut. Oleh karena itu, kesulitan berhitung dapat dikelompokkan menurut tingkatan, yaitu kemampuan dasar berhitung, kemampuan dalam menentukan nilai tempat, kemampuan melakukan operasi penjumlahan dengan atau tanpa teknik menyimpan dan pengurangan dengan atau tanpa teknik meminjam, kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian.
2)      Ciri-Ciri Diskalkulia
Disini lebih dijabarkan ukuran-ukuran kemampuan dasar dalam berhitung, yaitu sebagai berikut:
a)      Mengelompokkan  (classification), yaitu kemampuan mengelompokkan objek sesuai warna, bentuk, maupun ukurannya. Objek yang sejenis dikelompokkan dalam suatu himpunan, misalnya himpunan kursi, himpunan kelereng merah, himpunan bola besar, dan lain-lain.  Pada anak yang kesulitan mengklasifikasi, anak tersebut kesulitan menentukan bilangan ganjil dan genap, bilangan cacah, bilangan asli, bilangan pecahan, dan seterusnya.
b)      Membandingkan (comparation), yaitu kemampuan membandingkan ukuran atau kuantitas dari dua buah objek. Misalnya:
·         Penggaris A lebih panjang dari penggaris B
·         Bola X lebih kecil dari Bola Y 
·         Bangku Merah lebih banyak dari Bangku Biru, dan seterusnya.
c)      Mengurutkan (seriation), yaitu kemampuan membandingkan ukuran atau kuantitas lebih dari dua buah objek. Pola pengurutannya sendiri bisa dimulai dari yang paling minimal ke yang paling maksimal atau sebaliknya.  Contohnya:
·         Penggaris A paling pendek, Penggaris B agak panjang, dan Penggaris C paling panjang; 
·         Bola X paling besar, Bola Y lebih kecil, dan Bola Z paling kecil;
·         Bangku Merah paling banyak, Bangku Biru lebih sedikit, dan Bangku Hijau paling sedikit;
·         5 – 4 – 3  atau 20 – 40 – 70 – 80 – 100; dan seterusnya.
d)     Menyimbolkan  (simbolization), yaitu kemampuan membuat simbol atas kuantitas yang berupa angka/bilangan (0-1-2-3-4-5-6-7-8-9) atau simbol tanda operasi dari sebuah proses berhitung seperti tanda + (penjumlahan),  - (pengurangan),  x (perkalian), atau  ÷ (pembagian), < (kurang dari), > (lebih dari), dan = (sama dengan) dan lain-lain. Penguasaan simbol-simbol tanda ini akan berguna saat anak melakukan operasi hitung.
e)      Konservasi, yaitu kemampuan memahami, mengingat, dan menggunakan suatu kaidah yang sama dalam proses/operasi hitung yang memiliki kesamaan. Bentuk konkret dari konservasi adalah penggunaan rumus atau kaidah suatu operasi hitung. Dalam sebuah operasi hitung berlangsung proses yang serupa untuk objek kuantitas yang berbeda. Misalnya dengan memahami konsep penjumlahan anak akan tahu bahwa  2+5 adalah 7 dan 4+9 adalah 13; karena meskipun jumlah angkanya berbeda tetapi pola hitungannya sama. Anak akan mengalami kesulitan saat menterjemahkan kalimat bahasa menjadi kalimat matematis pada soal cerita.
3)      Metode Observasi yang Digunakan
Soal test menghitung:
Ø  4 + 5                        6 + 16
Ø  4 x 4                        3 x 3
Ø 



8 – 2                        10 – 2




4)      Analisa
Kesimpulan:
Dari soal test matematika diatas menunjukkan bahwa object tidak mengalami kesulitan pada penjumlahan dan pengurangan, namun pada hasil perkalian ditemukan kesalahan dalam menghitung, dan proses penghitungnnya juga belum lancar yaitu masih menggunakan bantuan semua jari tangannya.
d.      Program Pembelajaran Individual (PPI)
Hakikat Pembelajaran Individual
1.      Pengertian PPI
Program Pembelajaran Individual dikenal dengan The Individualized Education Program (IEP) yang diprakarsai oleh SAMUEL GRIDLEY HOWE tahun1871, yang merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan bagi ABK. Bentuk pembelajaran ini sudah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1992, yang merupakan satu rancangan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus agar mereka mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya dengan lebih memfokuskan pada kemampuan dan kelemahan kompetensi peserta didik.
MERCER and MERCER (1989) mengemukakan bahwa “program pembelajaran individual menunjuk pada suatu program pembelajaran dimana siswa bekerja dengan tugas-tugas yang sesuai dengan kondisi dan motivasinya”. Hal ini disebabkan karena perbedaan antara individu pada ABK sangat beragam, sehingga layanan pendidikannya lebih diarahkan pada layanan yang bersifat individual, walaupun demikian layanan yang bersifat klasikal dalam batas tertentu masih diperlukan.
Progrm Pembelajaran Individual harus merupakan program yang dinamis, artinya sensitif terhadap berbagai perubahan dan kemajuan peserta didik, yang diarahkan pada hasil akhir yaitu kemandirian yang sangat berguna bagi kehidupannya, mampu berperilaku sesuai dengan lingkungannya atu berperilaku adaptif.
2.      Fungsi Program Pembelajaran Individual
1)   Untuk memberi arah pengajaran; dengan mengetahui kekuatan, kelemahan dan minat siswa maka program yang iindividualisasikan terarah pada tujuan atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan tahap kemampuannya saat ini.
2)   Menjamin setiap ABK memiliki suatu progrm yang diindividualkan untuk mempertemukan kebutuhan khs mereka dan mengkomunikasikan program tersebut kepada orang-orang yang berkepentingan.
3)   Meningkatkan keterampilan guru dalam melakukan asesmen tentang karakteristik kebutuhan belajar tiap anak dan melakukan usaha mempertemukan dengan kebutuhan-kebutuhan siswa.
4)   Meningkatkan potensi untuk komunikasi antar/dengn anggota tim, khususnya keterlibatan orang tua, sehingga sering beretemu dan saling mendukung untuk keberhasilan ABK dalam pendidikan.
5)   Menjadi wahana bagi peningkatan usaha untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih efektif.
3.      Komponen Program Pembelajaran Individual.
Secara garis besar komponen Progrm Pembelajaran Individual meliputi :
1)   Deskripsi tingkat kecakapan/kemampuan saat ini (performance levels): tingkat kemampuan/kecakapan yang diketahui setelah dilakukan asesmen, sehingga guru kelas dapat mengetahui kekuatan, kelemahan dan kebutuhan pembelajaran siswa yang bersangkutan. Informasi ini umumnya berkaitan dengan kemampuan akademik, pola perilaku khusus, keterampiln menolong diri, bakat voksional, dan kemampuan berkomunikasi.
.
2)   Sasaran program tahunan/tujuan pengajaran tahunan ( longrange or annual goals) Komponen ini merupakan kunci komponen pembelajaran karena dapat memperkirakan program jangka panjang selama kegiatan sekolah dan dapat dipecahpecah menjadi beberapa sasaran. Kerjasama antara guru dan orangtua perlu dilakukan sehingga tujuan pembelajaran lebih realis. Merumuskan tujuan PPI harus memperhatikan empat kriteria yaitu:
a)      dapat diukur -> pernyataan harus menggunakan kata kerja oprsional (menyebutkan, menjelaskan, mendefinisikan, mengidentifikasi, menulis dll) dan tidak menimbulkan penafsiran ganda (memahami, mengetahui, mengerti).
b)      positif -> tujuan itu harus membawa perubahan ke arah positif (mis. “siswa dpat merespon waktu dengan tepat” bukan “ siswa dapat bertahan menutup mulut”.
c)      orientasi pada siswa > merumuskan apa yang dipelajari bukan apa yang siswa pikirkan (mis: siswa dapat menanggapi secara lisan pertanyaan dengan dua-tiga prase).
d)     relevan -> sesuai dengan kebutuhan individu.
3)   Sasaran belajar jangka pendek (shortterm objectives) Sasaran belajar jangka pendek/tujuan jangka pendek harus dikonsep dan dikembangkan melalui analisa tugas, dipakai sebagai acuan dalam proses pembelajaran guna mencapai kemampuan yang lebih spesifik. Sasaran belajar ini harus dapat diamati, dapat diukur, berpusat pada siswa, positif dan hendaknya mencerminkan pengajaran antara tingkat kecakapan dan tujuan akhir. Tujuan khusus mempunyai beberapa komponen yaitu ABCD (Audience – Behavior – Condition – Degree); mis:
·         Jika ditunjukkan empat warna (condition) Budi (audience) dapat menyebutkan nama-nama warna tsb (behavior) 100% benar (degree).
·         Anak diberi empat macam uang logam bernilai Rp.25,- , Rp.50,- . Rp.100,- dan Rp.500,-; dapat menentukan nilai tiap mata uang logam tsb dengan ketepatan seratus persen.
4)   Diskripsi pelayanan(Description of services) , meliputi :
·         guru yang mengajar,
·         isi program pengajaran dan kegiatan pembelajaran,
·         alat yang dipergunakan.
5)   Tanggal pelayanan (Dates of service) -> dlam Program Pembelajaran Individual harus terdapat tanggal kapan pengajaran mulai dilaksanakan dan antisipasi lamanya pelayanan.
6)   Penilaian (Evaluation) ->terbagi dalam dua bagian yaitu:
a)      Penilaian untuk menentukan tingkat kecakapan sisiwa saat ini, menjelaskan kekuatan dan kelemahan siswa (assesment).
b)      Menili keberhasiln siswa dalam mencapai tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan.
Prosedur penilaian dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan.
Metodenya dapat melalui tes atau observasi.
4.      Referensi
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, Model Kurikulum Bagi Peserta Didik Yang Mengalami Kesulitan Belajar. Jakarta: 2007, atau lihat http://os2kangkung.blogspot.com/2009/09/contoh-model-kurikulum-bagi-peserta.html, diakses pada tanggal 08 Desember 2011.

Sanjaya, Ade. Pengertian Kesulitan Belajar, atau lihat di http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/08/pengertian-kesulitan-belajar.html, diakses pada tanggal 17 Oktober 2011.

Somantri, T.Sutjihati, Psikologi Anak Luar Biasa, Bandung: PT. Refika Aditama, 2007, atau lihat di http://devianggraeni90.wordpress.com/2010/04/05/definisi-kesulitan-belajar/, diakses pada tanggal 19 September 2011.






[2] Ade Sanjaya, Pengertian Kesulitan Belajar, atau lihat di http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/08/pengertian-kesulitan-belajar.html, diakses pada tanggal
17 Oktober 2011.

[3] T.Sutjihati Somantri, Psikologi Anak Luar Biasa (Bandung: PT. Refika Aditama , 2007) atau lihat di http://devianggraeni90.wordpress.com/2010/04/05/definisi-kesulitan-belajar/, diakses pada tanggal 19 September 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;