Senin, 05 November 2012

tasawuf



PENGERTIAN DAN ASAL USUL TASAWUF
               Secara etimologi tasawuf erat kaitannya dengan kata sufi.Kebanyakan para penulis mengaitkan kata sufi dengan kata:
1.   Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa.
2.   Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan.
3.   Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi.
4.   Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf.
5.   Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.
Diantara semua pendapat itu, asal kata sufi terdapat pada kata “suf” jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani.
Secara terminologi menurut Al-Junaidi, “ Tasawuf membersihkan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh budi yang asal (instink) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan dari hawa nafsu, mendekati sifat-sifat kerohanian, dan bergantung pada ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada umat manusia, memegang janji dengan Alloh SWT dalam hal hakikat, dan mengikuti contoh Rasulullah SAW dalam hal syari’at”.
Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya sehingga kehadiran-Nya senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan. Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan.
Munculnya tasawuf setelah sufi mulai dikenal pada abad ke-2 Hijriyah, tepatnya pada tahun 150 H. Orang yang pertama memperkenalkan istilah ini ke dunia islam adalah Abu Hasyim al-Kufi di Irak. Tetapi pendapat lain menyebutkan tasawuf baru muncul di dunia islam pada awal abad ke-3 H yang dipelopori oleh Al-Kurkhi, seorang masihi. Beberapa tokoh lainnya yang muncul pada periode ini adalah Al-Suqti (w. 253 H), Al-Muhasibi (w. 243 H) dan Dzunnun Al-Hasri (w. 245 H).
Tasawuf kemudian semakin berkembang dan meluas ke penjuru dunia Islam pada abad ke-4 dengan sistem ajaran yang semakin mapan. Belakangan, Al-Ghazali menegaskan tasawuf sebagai keilmuan yang memiliki kekhasan tersendiri di samping filsafat dan ilmu kalam. Pada abad ke-4 H dan ke 5 H hingga abad berikutnya terjadi konflik pemikiran antara kaum sufi dan fuqoha. Pemikiran tasawuf muncul sebagai reaksi terhadap kemewahan hidup (hedonisme), perkembangan teologi yang cenderung mengedepankan rasio dan kering dari aspek-aspek moral-spiritual, dan katalisator yang sejuk dari realitas umat yang secara politis maupun teologis didominasi oleh nalar kekerasan. Karena itu, sebagaian ulama’ memilih menarik diri dari pergulatan kepentingan yang mengatasnamakan agama dengan praktek-praktek yang berlumuran darah. Menurut Hamka, kehidupan sufistik  lahir bersama dengan lahirnya Islam itu sendiri.
Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar.
Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai, walaupun untuk sementara, berhati baik, pemurah dan suka menolong.
Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. .
Dari agama Buddha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana yang dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad, yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan.
Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan, "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."


Dasar-Dasar Al-quran dan Faktor-Faktor Lahirnya Tasawuf

Dasar-Dasar Qurani Tasawuf.
Tasawuf pada awal pembentukannya adalah manifestasi akhlak dan keagamaan. Moral keagamaan ini banyak disinggung dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian, sumber utama tasawuf adalah ajaran-ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari Al-Quran, As-Sunnah, dan amalan-amalan serta ucapan sahabat. Amalan serta ucapan sahabat tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan begitu, justru dua sumber utama tasawuf adalah Al-Quran dan As-Sunnah itu sendiri.
Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasannya tasawuf berazaskan kezuhudan sebagaimana yang di praktekan oleh nabi muhammad saw, dan sebagian besar dari kalangan sahabat dan tabi’in. Kezuhudan ini merupakan implementasi dari nash-nash Al-quran dan hadist-hadist nabi yang berorentasi akhirat dan berusaha untuk menjauhkan diri dari kesenangan duniawi yang berkebihan yang bertujuan untuk mensucikan diri, bertawaqkal kepada Allah SWT, takut terhadap ancaman-Nya, mangharap rahmat dan ampunan dari-Nya dan lain sebagainya. Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata sufi akan tetapi jalan yang di tempuh jalan yang di tempuh kaum sufi berlandaskan islam. Diantaranya ayat-ayat Allah SWT, yang di jadikan landasn akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia adalah firman Allah SWT. Diantara ayat-ayat al-quran yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepada Allah SWT, dan hanya berharap kepada-Nya di antaranya adalah firman Allah SWT, dalam QS. As-Sajadah ayat 16 .
Faktor Lahirnya Tasawuf.
Para sarjana, baik dari kalangan orentalis maupun dari kalangan islam sendiri saling berbeda pendapat tentang faktor yang mempengaruhi munculnya tasawuf dalam islam. Abul A’la ’Afifi dalam kata pengantar edisi arab, Fit Tashawuf al-Is-lami wa Tarikhihi, mengklasifikasikan pendapat para sarjana tentang faktor tasawuf ini menjadi empat aliran.
1.      Dikatakan bahwa tasawuf berasal dari india melalui Persia.
2.      Berasal dari asketisme Nasrani.
3.      Dari ajaran Islam sendiri.
4.      Berasal dari sumber yang berbeda-beda kemudian menjelma menjadi satu konsep.
Nicholson lebih condong menyimpulkan bahwa tasawuf itu sedikit banyak telah dipengaruhi oleh faktor Nasrani (Nicholson, 1969). Namun hal ini di bantah oleh al-Taftazani (1970) bahwa dalam Islam tidak ada sistem kependetaan (rahbaniyah) sebagaimana terdapat dalam agama Nasrani. Adanya kesamaan antara tasawuf dengan rahbaniyah dalam Nasrani tidak bararti islam mengambil daripadanya, karena kehidupan semacam tasawuf merupakan kecenderungan universal yang terdapat dalam semua agama atau bisa juga dikatakan bahwa sumber agama adalah satu, sekalipun berbeda dalam segi formal dan detailnya. Maka dengan demikian adanya kesamaan itu adalah logis


Sejarah dan Perkembangan Tasawuf
               Sejarah perkembangan tasawuf melalui beberapa fase, diantaranya :
1) fase Abad I dan II (fase pembentukan).
2) fase abad III dan IV Hijriah (masa pengenbangan)
3) fase abad V Hijriah (masa konsulidasi)
4) fase adab VI (masa falsafi)

Pengertian maqomat dan akhwal
Al-Maqomad (kedudukan) adlah istilah para sufi yang menunjukkan arti, nilai, etika yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang salik ( seorang perambah kebenaran sepiritual dalam praktk ibadah)
Al-hal atau Al-Ahwaal atau hal (keadaan) menurut kaum sufi adlah makna nilai atau rasa yang hadir dalam hati secara otomatis (dengan sendirinya).
Konsep maqomad dan ahwal dimata tokoh-tokoh tasawuf
Al-kalabadzi menyebutkan adanya 10 maqom yang harus dilalui oleh para sepiritual sebagai bereikut.
1)      Al-taubah (tobat)
2)      Al-zuhd (zuhud)
3)      Al-shabr (sabar)
4)      Al-faqr (kemiskinan)
5)      Al-tawadhu’ (kerendahan hati)
6)      La-tawakkal (tawakkal)
7)      Al-taqwa (takwa)
8)      Al-ridho (ridho)
9)      Al-mahabbah (cinta)
10)  Al-ma’rifah (pengetahuan tentang tuhan dan hakikat sesuatu)
Menurut Al-Ghozali
1)      Al-taubah (tobat)
2)      Al-shabr (sabar)
3)      Al-faqr (kemiskinan)
4)      La-tawakkal (tawakkal)
5)      Al-mahabbah (cinta)
6)      Al-ma’rifah (pengetahuan tentang tuhan dan hakikat sesuatu)
7)      Al-ridho (ridho)
Definisi maqomad secara etimologi adalah bentuk jamak dari kata maqom, yang berarti kedudukan sepiritual. Banyak pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan maqomad, diantaranya: Al-Qusyairi, menjelaskan maqomad adalah etika seorang hamba dalam wushul (mencapai menyambung) kepadanya dengan macam upaya,diwujudkan dengan tujuan pencarian dan ukuran tugas.  

Hubungan tasawuf dengan kalam, filsafat, fiqih dan psikologi .
Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persolan tuhan. Persolan-persoaln kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar argumentasi, baik nakliah maupun naqliah.dalam kaitanya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagi berikut:
1.      Sebagai pemberi wawasan sepiritual dalm pemahaman kalam.
2.      Berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf.
3.      Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohani dalam perdebaatan-perdebatan kalam.

Terdapat perbedaan titik tolak antara tasawuf dan filsafat namun tujuan berlabuhnya sama, yakni sama-sama mencari kebenaran. Tasawuf bertolak dari rasa, namun kemudan naik pada seni. Memasuki alam tasawuf menuju kelam ma’rifat kemudian bertemu dengan kebenaran yang meyakinkan. Adapun landasan berpijaknya ialah rasio, dari landasan rasio itu dimasukinya alam filsafat dengan menjelajahi beberapa sistam dan metode berfikir, kemudian sampai pada kesimpulan dan pembuktian kebenaran.
Ilmu fiqih membahas tentang hukum-hukum lalmiyah yang berpauatan sengan tingkah laku mukalaf, para ahli fiqih mengatakan “barang siapa mendalami fiqih, tetapi belum bertasawuf berarti ia fasik. Barang siapa bertasawuf, tetappi belum mendalami fiqih, berarti ia zindiq. Dan barang siapa melakuakn kedunya berarti melakukan kebenaran. Tasawuf dan fiqih adalah dua ilmu yang saling menyempurnakan. Jika ada pertentangan antar keduanya berarti disitu ada kesalahahn dan penyimpangan.
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tetang  hubungan jiwa dengan badan.yang dikehendaki dari uraian tetang hubungan antara jiwa dan badan tasawuf tersebut adalah terciptanya keserasian antara keduanya. Pembahasan tetang  jiwa dan badan ini dikonsepsikan oleh sufi dalam rangka melihat sejauh mana hubungan prilaku yang dipraktikkan manusia dengan dorongan yang dimunculakn jiwanya saehingga perbuatan itu dapat terjadi itu tadi hubungna tasawuf dan psikologi.


Tasawuf Sunni
Tasawwuf sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari'at,  yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur'an, Sunnah dan Shirah para sahabat.
Aliran ini muncul dikarenakan ada ketegangan-ketegangan dikalangan seorang sufi, baik yang bersifat eksternal maupun internal yaitu para sufi, ulama zahir, dan para mutakalim.
Pada intinya tasawuf ini sangat menolak pendekatan kepada allah SWT dengan akal rasio, sebagaimana yang dikatakan Harun Nasution yang mengomentari pendapat Dzun An-Nun Misri tentang pengetahuan ( makrifat), Bahwa makrifat   yang paling tertinggi  ialah yang diperoleh oleh para wali Allah  ( sufi).
Tokoh-tokoh tasawuf sunni
Diantara sufi yang berpengaruh dari aliran-aliran tasawuf sunni dengan antara lain sebagai berikut: Hasan Basri, Robiah al-Adawiah, Zin-zinun Almisri, dan Al Ghozali.
1.      Hasan Basri
Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi.
Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan datang yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.
2.      Robiah al adawiyah
Semula yang tingkatan seorang hasan basri dengan takut dan pengharapan kepada Allah. Kemudian ditingkatkan lagi oleh rabiah dengan zuhud karena cinta.
Sesungguhnya cinta yang murni tersebut derajadnya lebih tinggi daripada takut dan pengharapan saja. Karena cinta yang murni adalah tidak mengharapkan sesutu kecuali mengharapkan kepada Allah semata.
Beliau juga menuangkan melalui syair-syair apa yang ia maksud dengan al-muhabbah, atau sebenarnya tujuan zuhud robiah tidak lain yang dituju adalah karena allah.


3.      Zin-nun
Boleh dikatan bahwa beliaulah puncaknya kaum sufi dalam abad ketiga. Dzu al-Nun memandang bahwa ulama-ulama Hadits dan Fiqih memberikan ilmunya kepada masyarakat sebagai salah satu hal yang menarik keduniaan disamping sebagai obor bagi agama.
Menurutnya cinta adalah timbal balik antara sang Khaliq dengan makhlukNya, yaitu antara yang mencintai dan yang dicintai.
Dzu al-Nun menerangkan, bahwa ciri-ciri makrifat itu ialah seseorang menerima segala sesuatu itu adalah atas nama Allah dan memutuskan segala sesuatu itu dengan menyerahkan kepada Allah, serta menyenangi segala sesuatu hanya semata-mata karena Allah.

4.      Al Ghozali
Menurut Abu al-Wafa’ al-Ganimi al-Taftazani, ada dua corak tasawuf yang berkembang di kalangan sufi, yaitu pertama, corak tasawuf sunni, di mana para pengikutnya memagari tasawuf mereka dengan Alquran dan as-Sunnah serta mengaitkan keadaan dan tingkatan rohaniah mereka dengan keduanya. Kedua, corak tasawuf semi-filosofis.
Konsepsi al-Gazali yang mengkompromikan antara pengalaman sufisme dengan syariat telah dijelaskan di dalam kitabnya yaitu Ihya Ulumuddin. Karya besar ini terdiri dari 4 jilid.
Jilid pertama dan kedua berisi ajaran syariat dan aqidah disertai dasar-dasar ayat-ayat suci Al-qur’an serta hadis dan penafsirannya. Dibahas pula bagaimana tingkat-tingkat pengamalan syariat yang sempurna lahir batin.
Pada jilid ketiga dan keempat, khusus membahas tasawuf dan tuntunan budi luhur bagi kesempurnaan sebuah pengamalan syariat.
Dengan demikian, corak tasawuf al-Gazali lebih menekankan pada aspek pendidikan moralitas bagi para pencari kebenaran.
Maqomat-maqomat dalam tasawuf Al-Ghozali
Maqamat-maqamat yang diajarkan terdapat di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, khususnya juz IV. Di dalam bagian tersebut diuraikan secara berturut-turut sebagai berikut: Kitab al-Taubah, Kitab al-Sabr wa al-Syukr, Kitab al-Khauf wa al-Raja, Kitab al-Faqr wa al-Zuhd, Maqamat-maqamat tersebut didalamnya mencakup beberapa penjelaskan penting untuk memahami konsep tasawuf yang diajarkan oleh al-Gazali, konsep itu adalah: Konsep taubat, zuhud, tawakkal, dan ma’rifah.
a.    Taubat
Taubat menurut al-Gazali mencakup tiga hal: Ilmu, sikap (hal), dan tindakan. Ilmu adalah pengetahuan seseorang tentang bahawa yang diakibatkan dosa besar. Pengetahuan itu melahirkan sikap sedih dan menyesal, yang melahirkan tindakan untuk bertaubat. Tobat harus dilakukan dengan kesadaran hati yang penuh dan berjanji pada diri seindiri untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.

b.    Zuhud
Dalam keadaan ini seorang calon sufi harus meninggalkan kesenangan duniawi dan hanya mengharapkan kesenangan ukhrawi. Al-Gazali membagi tingkatan zuhud dari segi tingkatan motivasi yang mendorongnya kepada tiga tingkatan:
Ø  Zuhud yang didorong oleh rasa takut terhadap api neraka dan yang semacamnya.
Ø  Zuhud yang didorong oleh motif mencari kenikmatan hidup di akhirat.
Ø  Zuhud yang didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari memperhatikan apa saja selain Allah dalam rangka membersihkan diri daripadanya dan menganggap remeh terhadap apa yang selain Allah.
c.    Tawakal
Tawakal dalam tasawuf diartikan berserah diri kepada kehendak Tuhan seperti halnya mayat di depan orang yang memandikannya. Tawakal dalam pengertian tasawuf adalah suatu syarat mutlak sebagai tangga memutuskan segala ikatan dengan dunia secara total. Tanpa jiwa tawakal seperti itu, hati tidak akan terbebas dari belenggu.
d.   Ma’rifah.
Ma’rifah (gnosis) secara umum diartikan sebagai ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Sedangkan menurut tasawuf, ma’rifah berarti mengetahui Allah Swt dari dekat.







Tasawuf Falsafi
Adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketingkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud).
Dalam ajaran ini pendekatannya lebih menonjol pada teoritis sehingga lebih mengdepankan rasio dengan pendekatan filosof yang sangat sulit di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Tokoh-tokoh taswuf falsafi
1.    Abu Yazid Al-Bustami
Sebelum membuktikan dirinya seorang sufi, ia terlebih dahulu menjadi seorang fakih dari mazhab hanafi. Salah seorang gurunya, Abu Ali As-Asindi mengajarkan ilmu tuhid, ilmu hakikat, dan ilmu lainya. Hanya saja ajaran sufi Abu yazid tidak ditemukan dalam buku.
Dalam menjalani kehidupan zuhud selama 13 tahun, ia mengembara dugurun-gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.
Ajaran-ajarannya:
a.       Fana dan Baqa’
Adalah ajaran terpenting Abu Yazid, kata fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Didefinisikan: hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala kegiatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan menghilangkan segala kepentingan ketika berbuat sesuatu.
Adaun Baqa’ berasal dari kata baqiya artinya tetap. Berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Keduanya tidaka dapat dipisahkan, jika seorang sufi sedang mengalami fana’, ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.
b.      Ittihad
Hanya saja dalam literature klasik, pembahasan tentang ittihad tidak ditemukan. Karena pertimbangan keselamatan jiwa ataukah ajaran ini sangat sulit dipraktekkan merupakan pertanyaan yang baik untuk di analisis. Al Busthami dipandang sebagai sufi pertama yang menimbulkan ajaran fana dan baqa’ untuk mencapai ittihad dengan tuhan.


2.    Ibn Arabi 
Ajaran pertamanya adalah wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang merupakan ajaran sentralnya. Mrnurut Ibn Arabi hanya ada satu wujud dari semua wujud yang ada, adapun wujud makhluk  merupakan hakikat dari wujud khaliq tidak ada perbedaan antara keduanya dari segi hakikat. Selanjutnya Arabi menjelaskan hubungan antara tuhan dengan alam, menurutnya alam adalah bayangan tuhan atau bayangan wujud yang hakiki dan alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya.
3.    Al Hallaj
Ajaran-ajaran tasawuf al-hallaj:
a.    Hulul, salah satu konsep tasawuf salafi yang menyakini terjadinya kesatuan antara khaliq dengan makhluk.
b.    Alhaqiqatul Muhammadiyah, segala kejadian amal perbuatan dan ilmu pengetahuan, dan dengan perantaranyalah seluruh ala mini dijadikan.
c.    Kesatuan Segala Agama, bilamana batin seorang insane telah suci bersih dan menempuh perjalanan, akan naiklah tingkat hidupnya itu dari satu maqam ke maqam yang lain.
Perkembangan Tasawuf Falsafi
Sebenarnya perkembangan puncak dari tasawuf falsafi telah mencapai pada konsepsi al wahjatul wujud sebagai karya piker Ibn Arabi. Pada umumnya konsep ini diterima dan berkembang dari kaum syi’ah dan bermazabkan  mu’tazilah.
Diterimanya konsep-konsep atau pola fikir tasawuf falsafi di kawasan Persia, karena dimungkinkan disana dulu adalah kawasan sebelum islam sudah mengenai filsafat.

Sejarah tasawuf di Indonesia

Dalam kelahiran tasawuf dalam Islam. Ada beberapa pendapat yang berbeda. Menurut keyakinan sebagian besar orang Islam, lahirnya tasawuf bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri.
Di Indonesia sendiri, kelahiran ajaran tasawuf serta lembaga-lembaga tarekatnya bersamaan dengan kehadiara Islam di Indonesia. Tasawuf di Indonesia bany7ak diminati lantaran kebudayaan  lama bangsa Indonesia bersifat mistis maupun mitis-mitos yang banyak berkembang sebelum Islam
Tasawuf di Indonesia terbagi berdasarkan territorial wilayah beberapa wilayah yang sudah berkembang dan sudah banyak pengikutnya diantaranya:
Tasawuf masuk di pilau jawa ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam dipulau Jawa. Penyebaran agama Islam dipulau jawa oleh para wali sanga melalui pendekatan mistik. Pada perkembangan tasawuf di Indonesia lebih dikenal oleh Syeh Siti Jenar yang mengatakan bahwa “ ajaran Islam itu tidak palu yang perlu hanyalah hakikat, tuhan dan Muhammad adalah satu, karena Muhammad adalah nur dan Nur itu adalah Tuhan”.
Perkembangan tasawuf dipulau sumatar sama halnya dengan perkembangan tasawuf di pulau jawa, yakni untuk mengislamkan penduduk sumatra. Ulama’ sufi yang berpengaruh adalah hamzah pansur yang berfaham Wahdatul Wujud. Hamzah Pansur terkenal dengan tulisannya sehingga membuat ajaran tasawuf banyak dikenal oleh banyak orang.
Perkembanga tasawuf di kalimantan sama halnya perkembangan dipulau-pulau lain di nusantara salah seorang sufi yang terkemuka dikalimantan ialah syek Ahmad Khatib As-Sambasi. Ketika belajar dimakkah beliau lebih dikenal dengan Ahmad Khatib bin Abdul Ghofar As-Sambasi Al-Jawi. Sementara dikalimantan selatan sufi dikembangakan oleh Syek Muhammad Nafi Idris bin Husai Al-banjariyang diberi gelar oleh pengikutnya dengan nama Al-Maulana Al-Alamah.

Hampir sama perkembangan Tasawuf di Nusantara satu sama lain tidak jauh berbeda. Yakni untuk mengislamkan penduduk sekitar yang membedakan satu sama lain adalah Tarekan yang kemudian berkembangnya saja di sulawesi tasawuf yang berkembang bercorak dengan tasawuf sunidan falsafi meskipun dalam tasawuf falssfi mencampur adukkan ajaran tasawuf dengan ilmu hitamsehingga hal ini membingungkan masyrakat awam








Neo-Sufisme 

Sufisme menepatkan penghayatan keagaam melalui pendekatan batin. Konsep Neo-Sufisme, sesungguhnya menghendaki agar umat islam mampu melakukan keseimbngan antara pemenuhan kepeningan akhirat dan kepentingan dunia, serta umat islam harus mampu meformulasikan ajaran islam dalam kehidupan sosial.
Ciri – ciri Neo-Sufisme :
1.      menjadikan al-qur’an dan al-hadist serta ijtihad sebagai dasar pijakan
2.      menghidupkan kembali aktifis salafi dan menanamkan sikap positif kepada dunia
3.      memusatkan perhtian kepada rekontruksi sosio moral masyarakat modern
4.      aksentuasi khusus pada moral dan penerapan metode dzikir dan muraqabah atau konsentrasi keruhanian guna mendekati tuhan dengan doktrin salafi. Mempunyai karakter aktif.  

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;