Selasa, 15 November 2011

masalah sekolah

Sekolah Rusak, Murid Belajar di Rumah Warga  
Salli Nawali dan Edy Junaedi


Liputan6.com, Sumenep: Murid-murid Sekolah Dasar Negeri Totosan I Batang-Batang, Sumenep, Jawa Timur, terpaksa belajar di lantai rumah warga yang berdekatan dengan sekolah. Tentu saja dengan kondisi seadanya. Sebagian murid lainnya belajar di musala.
Kusnadi, guru SDN Totosan I, Senin (31/10), mengatakan, situasi belajar memprihatinkan ini terjadi karena gedung sekolah yang hancur akibat diterjang puting beliung dua tahun lalu tak juga diperbaiki. Namun, tak lama lagi gedung sekolah akan dibangun kembali. Dinas Pendidikan Sumenep berencana memulai proyek itu beberapa pekan mendatang.
Sementara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, puting beliung yang melanda Jumat lalu masih menyisakan jejak-jejak kerusakan. Rumah-rumah nelayan di pesisir Pantai Mangaramba, Kelurahan Takatidung, masih porak-poranda. Ini membuat para istri nelayan yang tengah ditinggal melaut oleh suaminya bersedih karena tak ada yang memperbaiki rumahnya.
Namun, kemarin siang, mereka bisa berlega hati. Pasalnya, puluhan tentara dari Kodim 1402 Taro Ada Taro Gau atau Tatag, Polewali Mandar, turun tangan untuk membantu memperbaiki rumah mereka. Karena tak ada bantuan bahan bangunan dari pemerintah daerah, perbaikan rumah hanya memanfaatkan dinding atau atap yang masih bisa digunakan.
…………………………………………………….
Atap Kelas Ambrol, Siswa Belajar di Halaman  
Mardianto


……………………………………………………
Liputan6.com, Banyumas: Ratusan siswa dari tiga kelas di Sekolah Dasar Negeri III, Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah, terpaksa belajar di sebuah lapangan olahraga. Mereka belajar di bawah terik matahari yang menyengat.

Menurut Suyono, Kepala Sekolah SDN III, Selasa (25/10), kondisi memprihatinkan ini sudah dijalani para siswa serta guru sejak atap sekolah mereka rusak dua hari lalu. Atas ruang kelas runtuh dan porak pornada akibat guyuran hujan deras disertai angin kencang.

Tak hanya atap kelas, buku-buku pelajaran juga rusak karena basah dan robek di sana-sini akibat guyuran hujan. Hanya bangku-bangku yang masih tersisa.
Belajar di ruang terbuka tentu tidak nyaman. Selain panas matahari, para siswa dan guru juga terkena hujan gerimis saat pelajaran berlangsung. Pihak sekolah sudah mengajukan proposal perbaikan gedung sekolah, namun belum ada tanggapan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas.
……………………………………………….......

Ini Kisah Sekolah yang Siswanya 100 Persen Tak Lulus
Kamis, 29 April 2010 | 08:48 WIB
foto   Guru Matematika SMA 15 Roni saat memberi tambahan pelajaran Matematika bagi siswa yang belum lulus Ujian Nasional (UN) di Jakarta Utara, Rabu (28/4). Tempo/Tony Hartawan
TEMPO Interaktif, Jakarta - “Saya masih berduka....” Sambil terus mengisap rokok filter di tangan kanan, Abdul Haris mengucapkan kalimat bernada putus asa itu. Kepalanya tertunduk.
Pria itu pun tak kuasa singgah di ruang kepala sekolah. Ia memilih mojok di salah satu ruang kecil di kompleks SMA Triwibawa di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pakaian yang ia kenakan seperti mewakili suasana hatinya, kemeja lengan panjang dipadu pantalon hitam. Abdul dan kolega guru-guru lainnya tengah berduka karena, dari 36 anak didiknya, tak satu pun lulus dalam ujian nasional yang hasilnya diumumkan pada Senin lalu, 26  April 2010. Tahun lalu tingkat kelulusan siswa lumayan, yakni 86 persen. "Saya di SMA ini sejak 1985, dan baru kali ini 100 persen anak didik saya enggak lulus ujian nasional,” katanya. Nafsu makannya mendadak hilang, dan matanya tak bisa terpejam setelah "Senin kelabu" itu.
Ia lantas menceritakan keseriusan para guru dalam menggenjot prestasi siswa. Pendalaman materi ujian terus diberikan. Jam pelajaran ditambah, plus beberapa kali tryout. Abdul yakin para siswa gagal ujian karena tak serius. Mereka sering membolos. “Apakah ada hubungannya dengan tingkat ekonomi keluarga mereka yang mayoritas tak mampu?”dia bertanya kepada Tempo kemarin.
Kesulitan mendidik para siswa juga dialami Syafi'i, Kepala SMA Yayasan Perguruan Dwisaka, di Jalan Tambak Nomor 32, Pegangsaan, Jakarta Pusat. Para siswanya bekas pemakai narkoba, pemulung, hingga anak yatim-piatu.
Mayoritas mereka juga murid "buangan" dari sekolah negeri. Namun para guru dituntut mampu mendidik mereka dengan kurikulum dan standar yang sama dengan sekolah negeri. Alhasil, 25 siswa dan 16 siswi kelas XII yang diajar oleh 16 guru tak lulus ujian nasional. Padahal tahun lalu hanya lima orang yang gagal.
Menurut Syafi'i, 48 tahun, metode mengajar tak jauh berbeda dengan di sekolah lain. Di sekolahnya, yang berdiri sejak 1954, jam belajar pukul 12.00-17.00 WIB. Tapi, selama tiga bulan menjelang ujian, mereka masuk pagi hingga sore. "Sayang yang datang segelintir," lulusan Universitas Jakarta ini mengeluh.
Sarana pendidikan di SMA Dwisaka juga tak memadai. Kelas-kelas beratap seng sangat panas di kala siang. "Kalau hujan, kelas bocor," kata Syafi'i. Dia yakin penyebab utama kegagalan dalam ujian adalah ketekunan para siswa yang memprihatinkan.

LISMA SAVITRI | HERU TRIYONO |Jobpie S



0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;