Kamis, 24 Mei 2012

dakwah islam


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi dan merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.1 Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Dalam hal ini kebudayaan sangat erat kaitannya dengan masyarakat, seperti halnya tentang anggapan masyarakat Jawa tentang bulan Syuro atau bulan Muharram menurut kalender Islam. Anggapan masyarakat Jawa tentang kehadiran bulan Syuro yang dianggap sebagai bulan misteri. Dalam bulan ini masyarakat Jawa melaksanakan berbagai macam ritual – ritual. Sudah menjadi ‘keyakinan’ bagi sebagian masyarakat Indonesia –Jawa khususnya– bahwa pada bulan Muharram mereka menghentikan aktivitas–aktivitas yang bersifat hajatan besar, menghindari perjalanan jauh, dll, sebab hari itu mereka anggap sebagai hari naas atau sial.
Masyarakat Jawa selalu memandang datangnya bulan Suro sebagai datangnya masa-masa prihatin dalam kehidupan manusia, dan sebagai pintu gerbang untuk masuk ke sebuah keadaan yang baru. Karena itu sebagian besar masyarakat Jawa yang masih kental memegang tradisi budayanya mereka selalu menjalankan laku prihatin, yaitu paham kejawen. Salah satu daerah yang masih mempunyai budaya yang sangat kental tentang keberadaan bulan Syuro adalah di Desa Menang Kec. Pagu Kab. Kediri, dimana pada Bulan Suro mereka menyelenggarakan ritual-ritual khusus, seperti penyucian benda-benda pusaka bertuah, ruwatan untuk membuang sial yang ada dalam diri seseorang, serta pemujaan-pemujaan di tempat yang dianggap keramat.
Karena sangat kentalnya kepercayaan masyarakat terhadap kesakralan bulan Syuro, maka disini peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui proses kegiatan tersebut serta berapa besar pengaruh hal di atas dengan ketentuan syari’at dalam Islam. Dalam hal ini penulis mengangkat judul “ PERSPEKTIF MENYIMPANG MASYARAKAT TERHADAP KESAKRALAN BULAN SYURO”.




  1. Rumusan Masalah
Dengan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah :
  1. Bagaimana pemahaman masyarakat desa menang mengenanai kesakralan bulan syuro?
  2. Sejauhmana penyimpangan masyarakat desa menang terhadap ritual pada bulan syuro?
  3. Apa sinkretisme antara ajaran islam dengan budaya yang berlaku di masyarakat desa menang
  1. Tujuan Penelitian
Sebagaimana permasalahan yang telah penulis rumuskan, maka penelitian ini bertujuan :
  1. Mengetahui pemahaman masyarakat desa menang mengenanai kesakralan bulan syuro
  2. Mengetahui hal – hal yang menyimpang pada masyarakat desa menang terhadap ritual pada bulan syuro? .
  3. Mengetahui sinkretisme tradisi menyimpang budaya yang berlaku di masyarakat desa menang dengan syri’at Islam.


  1. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka dalam penelitian ini diharapkan dapat mendatangkan manfaat yang besar:
  1. Bagi penulis
    1. Sebagai suatu wacana untuk memperluas cakrawala pemikiran tentang pemahaman kesakralan bulan syuro.
    2. Sebagai salah satu sumbangan pemikiran dari penulis yang merupakan wujud aktualiasi dalam mengabdi pada agama, negara dan bangsa.
  1. Bagi masyarakat
  1. Sebagai salah satu sumber informasi tentang pentingnya pemahaman akan kesakralan bulan syuro.
  2. Sebagai salah satu referensi pelurusan dan titik temu antara budaya jawa di desa menang dengan syariat islam

  1. Bagi pengembangan dakwah
  1. Penelitian ini diharapkan menjadi wahana baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan sehingga tercipta perubahan yang lebih baik dalam system dakwah utamanya ritual agama dewasa ini.



METODOLOGI PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian
Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis kritis. Bogdan dan Taylor, sebagaimana dikutip oleh Moleong, mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.2
Menurut Imron Arifin, penelitian kualitatif pada hakekatnya mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.3
Adapun pengertian penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan sifat-sifat atau karakteristik individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu.4 Jadi, penelitian diskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.5
Setelah gejala, keadaan, variabel, gagasan, dideskripsikan, kemudian penulis menganalisis secara kritis dengan upaya melakukan studi perbandingan atau hubungan yang relevan dengan permasalahan yang penulis kaji.

  1. Lokasi Penelitian
Berdasarkan tempat penelitian, maka penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan dalam kehidupan yang sebenarnya. Penelitian ini pada hakikatnya adalah penelitian yang digunaan untuk menemukan secara spesifik dan realisasi apa yang sedang terjadi pada suatu saat di tengah-tengah masyarakat.
Pada intinya penelitian ini bertujuan untuk menyelesaiakn masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.6 Penelitian ini bertempat di kota kediri, tepatnya berada di daerah Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri, yang mana daerah tersebut masih sangat menjunjung tinggi tradisi kejawen yang salah satunya adalah tradisi yang dilakukan pada bulan Syuro. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperoleh data-data yang berhubungan dengan judul dalam proposal ini.

  1. Kehadiran peneliti
Kedudukan seorang peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analisis dan penafsir data dan pada akhirnya sebagai pelapor dari pengamatan yang telah dilakukan.
Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai partisipasi pasif, yaitu peneliti hanya mengumpulkan data dari kegiatan yang telah diamati, tetapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut.7 Kehadiran peneliti dengan harapan untuk mendapatkan data-data akurat tentang judul yang diangkat oleh peneliti, yaitu “PERSPEKTIF MENYIMPANG MASYARAKAT TERHADAP KESAKRALAN BULAN SYURO”.

TELAAH PUSTAKA
Masyarakat Jawa, bulan Suro merupakan bulan istemewa. Selain bulan pertama dalam kalender Jawa, bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang sangat keramat. Untuk menyambut datang bulan istimewa ini masyarakat Jawa umumnya akan mengadakan berbagai bentuk ritual dan perayaan yang bertujuan agar selalu mendapatkan keberkahan dalam kehidupan dan dihindarkan dari berbagai malapetaka. Dalam hal ini tradisi ini merupakan tradisi menyimpang yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, sebab hal di atas merupakan bentuk penyimpangan terhadap syari’at agama.
Masyarakat Jawa selalu memandang datangnya bulan Suro sebagai datangnya masa-masa prihatin dalam kehidupan manusia, dan sebagai pintu gerbang untuk masuk ke sebuah keadaan yang baru. Karena itu sebagian besar masyarakat Jawa yang masih kental memegang tradisi budayanya mereka selalu menjalankan laku prihatin, yang bertujuan agar mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar bisa menjalani hidup dengan baik.
Bentuk lain ritual yang digelar masyarakat Jawa demi menyambut datangnya bulan Suro, diantaranya adalah menjamas pusaka serta melarung berbagai macam sesaji di tempat-tempat keramat yang dalam hal ini adalah Laut Selatan. Ritual di bulan Suro yang paling populer adalah larung sesaji ke Laut Selatan. Yang mana dalam ritual ini ada satu sosok yang menjadi tokoh sentral yaitu Nyi Roro Kidul, yang mana dipandang sebagai sosok penguasa alam gaib di tanah Jawa. Dari kacamata lslam, sekali lagi, menurut ajaran islam, Muharram bukanlah bulan seram atau menakutkan dan membawa sial. Sehingga umat manusia di bumi ini harus melakukan suatu ritual khusus untuk membuang sial atau menolak bencana. Muharram memang awal permulaan dari tahun baru lslam (hijriyah). Dan banyak peristiwa-peristiwa penting telah terjadi di bulan Muharram. Namun, bagi kaum muslimin, mengisi dan menyambutnya dengan ajaran-ajaran yang tidak ada di dalam lslam sangat dilarang. Terlebih, bila kegiatan atau ritual-ritual itu sarat dengan unsur kesyirikan dan penyimpangan-penyimpangan. Seperti ritual-ritual yang bermuatan pujaan dan penghambaan kepada selain Allah serta permintaan bantuan kepada makhluk lain untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.
Tidak mudah memang bagi masyarakat untuk memahami semua itu, mana yang tradisi mana yang keyakinan. Tetapi, setiap kita, kaum muslimin, dituntut untuk lebih berhati-hati. Bahaya dan bencana yang ditakutkan belum tentu tertolak dengan ritual tersebut, tapi bencana tauhid dan syariat sudah pasti menimpa. Jangan sampai, niatnya membuang sial, justru yang kita dapat adalah kesialan berat, di dunia apalagi di akhirat.
kerangka teori
dalam agama islam jawa banyak sekali hal-hal yang perlu diketahui apakah hal itu memeng ajaran islam , atau ajaran islam yang sudah dikolaborasikan dengan ajaran-ajaran sebelum islam yang sudan ada di tanah jawa ini, hal ini sangat penting karena tidak semua hal yang dikolaborasikan dengan islam cocok dengan ajaran islam itu sendiri, bahkan kadang-kadang malah menyalahi ajaran islam sendiri, dan parahnya lagi hal itu sudah menjadi budaya yang diyakini bersumber dari ajaran islam.
Terkait dengan bulan asyura (dalam bahasa jawa) atau lebih tepatnya dalam bahasa arab bulan muharram memang dalam islam sendiri termasuk salah satu dari 4 bulan mulia dalam agama islam, sebagaimana disebutkan dalam hadis nabi:
عن أبي بكرة - رضي الله-عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض ، والسنة اثنا عشر شهراً ، منها أربعة حرم : ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان )) الحديث . متفق عليه8) .
Dalam ajaran islam yang dibawa olah nabi akhir zaman yakni nabi Muhammad SAW mengajarkan lewat hadisya yang mulia untuk menghormati bulan yang mulia yaitu bulan asyura’ dengan dianjurkannya berpuasa, sebagaimana hadis nabi :
روى مسلم وأهل السنن أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل أي الصيام بعد شهر رمضان أفضل؟ فقال:((شهر الله المحرم9 ))
Sedangkan dalan ajaran islam jawa kita dapat menemukan hal melebihi dari apa yang telah dibawa oleh nabi, hal ini dikarenakan percampuran budaya jawa yang memang sudah ada sebelum islam masuk, sebagaimana dijelaskan oleh mark R woodward, “Dalam pengertiannya yang riil, agama peribadatan jawa adalah suatu bentuk kepercayaan sejarah.”10
Selain itu, dikarenakan tokoh-tokoh utama dalam agama peribadatan jawa kebanyakan adalah para raja dan pahlawan-pahlawan semimitologi masa lalu11, dan hal inilah yang memang sangat mempengaruhi adaptasi ajaran islam yang kental dengan budaya jawa


DAFTAR PUSTAKA
  • Abdullah bin abdul aziz bin ahmad at tau yajri, al bida’ al khauliyah, thesis 1406 H
  • ---, at tazkiyah baina ahli as sunnah wal sufiyyah
  • mark R woodward, islam jawa, (jokjakarta: lkis cet ke 1; 1999)
  • Mardalis, metode penelitian:suatu pendekatak proposal, (jakarta:bumi kasara, 2003)
  • Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung : Alfabeta, 2007)
  • Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993)
  • Mudji Santoso, Hakekat, Peranan, dan Jemis-jenis Penelitian pada Pembangunan Lima Tahun Ke VI, dalam Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan (Malang: Kalimasahada, 1996)
  • Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan (Malang: Kalimasahada, 1996)
  • Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitiaan Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1989)
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya. Diakses tanggal 11 April 2012

1 http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya. Diakses tanggal 11 April 2012

2 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitiaan Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1989), hlm. 3.

3 Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan (Malang: Kalimasahada, 1996), hlm. 22.

4 Mudji Santoso, Hakekat, Peranan, dan Jemis-jenis Penelitian pada Pembangunan Lima Tahun Ke VI, dalam Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan (Malang: Kalimasahada, 1996), hlm. 13.

5 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993), hlm. 310.

6 Mardalis, metode penelitian:suatu pendekatak proposal, (jakarta:bumi kasara, 2003), 28.

7 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung : Alfabeta, 2007), 312.

8 Abdullah bin abdul aziz bin ahmad at tau yajri, al bida’ al khauliyah, thesis 1406 H

9 ---, at tazkiyah baina ahli as sunnah wal sufiyyah

10 mark R woodward, islam jawa, (jokjakarta: lkis cet ke 1; 1999) 11

11 Ibid hal 11

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;