Senin, 21 Mei 2012

tafsir


SIGNIFIKANSI KEDISIPLINAN GURU
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP
 HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII
DI SMP NEGERI 2 PAPAR

Proposal ini disusun untuk memenuhi salah satu
 tugas mata kuliah “ TAFSIR 3 “
Dosen Pengampu :
H. Moh. Akib Muslim, M. Ag
Description: STAINK_2
Disusun Oleh :
teguh winarno           932100910
JURUSAN TARBIYAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 ( STAIN ) KEDIRI
2011
PROPOSAL
SIGNIFIKANSI KEDISIPLINAN GURU
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP
 HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII
DI SMP NEGERI 2 PAPAR

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses yang sangat menentukan untuk perkembangan individu dan perkembangan masyarakat. Kemajuan suatu masyarakat dapat dilihat dari perkembangan pendidikannya.
Nana Sudjana mengemukakan, bahwa Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia pada dasarnya adalah “upaya mengembangkan  kemampuan atau  potensi  individu sehingga bisa hidup optimal, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota  masyarakat  serta  memiliki nilai-nilai moral dan sosial sebagai pedoman hidupnya”[1]
Dalam UU RI No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]

Keberadaan guru merupakan masalah yang menarik untuk diteliti, hal ini terbukti dengan banyaknya sorotan dari masyarakat yang menganggap guru sekarang ini banyak berbuat seenaknya sendiri tanpa mentaati peraturan yang ada, sehingga program pendidikan terkesan tidak teratur.
Nana Sudjana mengemukakan, faktor terpenting dalam kegiatan belajar adalah guru, oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya guru tidak hanya memiliki standart pengetahuan, keterampilan dan pengalaman tetapi juga harus disiplin. Bagaimana mungkin seorang siswa akan berkembang dengan baik bila gurunya kurang sadar akan makna dan tugasnya sebagai guru.[3] Jadi apalah artinya pengetahuan tinggi bila dalam mengajar tidak efektif dan efisien, apalah artinya pengalaman bila tidak diimbangi dengan sikap yang mencerminkan ketauladanan yang baik.
Kesuksesan belajar mengajar tidak terlepas dari disiplin guru dalam mengajar. Seorang guru dapat dikatakan berdisiplin dalam mengajar apabila terbiasa melakukan kegiatan mengajar tepat waktu, tempat dan menurut aturan yang ada. Untuk membentuk kedisiplinan guru perlu disusun tata tertib yang mana bisa menumbuhkan benih kedisiplinan guru.
Menurut E. Mulyasa, Disiplin dimaksudkan bahwa “Guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten, atas kesadaran profesional, karena bertugas untuk mendisiplinkan para siswa di sekolah, terutama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dalam menanamkan disiplin guru harus memulai dari dirinya sendiri, dalam berbagai tindakan dan prilakunya.”[4]
Kedisiplinan guru pendidikan agama Islam haruslah diperhatikan karena semua itu akan ditiru oleh semua siswa dan semua itu juga akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu guru diharapkan menerapkan kedisiplinan didalam kegiatan megajar, merangsang minat belajar dan menjaga supaya siswa tetap memiliki motivasi sehingga dapat belajar lebih banyak dan cepat, supaya siswa bisa dapat memperoleh hasil dan prestasi yang lebih baik dalam belajar.
Sekolah menengah pertama Papar II yang merupakan sebuah sekolah pertama setelah pendidikan dasar membangun siswanya mampu berkompetisi di sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh siswa, merupakan sekolah negeri yang berada di wilah Papar, namun ketika melihat pendidikan agama Islam disekolah tersebut relative kurang, dikarenakan tenaga pengajar agama Islam hanya 3 orang dengan pengalaman mengajar yang berbeda-beda, maka berangkat dari masalah tersebut diatas, ada sesuatu yang menarik dan perlu dicermati lebih lanjut. Penulis tertarik untuk meneliti tentang “PENGARUH KEDISIPLINAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 2 PAPAR”.

B.     Rumusan Masalah
Setelah diketahui variabel-variabel penelitian, dan diketahui pula kedudukan dan hubungan masing-masing variabel, dan untuk menyederhanakan masalah penelitian yang masih umum tersebut, berikut peneliti merumuskannya dalam rumusan-rumusan masalah yang spesifik.
1.      Bagaimanakah kedisiplinan guru pendidikan agama Islam kelas VII di SMP Negeri 2  Papar?
2.      Bagaimanakah hasil belajar  siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar?
3.      Adakah pengaruh kedisiplinan guru pendidikan agama Islam kelas terhadap hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar?

C.    Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah sebagaimana dikemukakan diatas maka tujuan penelitian  ini, antara lain:
1.      Untuk mengetahui sejauh mana kedisiplinan guru pendidikan agama Islam kelas VII di SMP Negeri 2 Papar.
2.      Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar
3.      Untuk menguji apakah kedisiplinan guru pendidikan agama Islam kelas VII  berpengaruh terhadap hasil belajar siswa di SMP negeri 2 Papar.

D.    Kegunaan Penelitian
Setiap hasil penelitian tentu mempunyai arti, mempunyai makna dan manfaat. Baik dalam kaitannya dengan pengembangan Ilmu Pengetahuan yang sedang dicermati, maupun manfaat  untuk kepentingan praktis. Hasil penelitian ini sekurang-kurangnya memiliki manfaat sebagai berikut:
1.      Secara teoritis
Hasil penelitian  ini  diharapkan  dapat  menyumbang perkembangan   Ilmu Pengetahuan  khususnya dalam Ilmu Pengetahuan pendidikan agama Islam.
2.      Secara Praktis
Dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi guru  atau pendidik serta menyadari bahwa kedisiplinan merupakan aspek moral yang perlu diperhatikan dan dibina dalam menentukan hasil belajar siswa yang baik.




E.     Hipotesis Penelitian
           Hipotesis dapat diartikan sebagai “suatu jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.” [5]
            Berangkat dari perumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:
1.      Hipotesis Kerja (Ha)
     Ada  pengaruh antara kedisiplinan guru pendidikan agama Islam  dengan  hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar.
2.      Hipotesis Nihil (H0)
Tidak ada pengaruh antara  kedisiplinan guru  pendidikan agama Islam dengan hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar.

F.     Ruang Lingkup Keterbatasan Penelitian.
Ruang lingkup hasil penelitian ini mencakup masalah tentang kedisiplinan guru pendidikan agama Islam dan hasil belajar siswa. Selanjutnya agar pembahasan dalam penelitian dapat terfokus pada permasalahan yang akan diteliti,maka penelitian ini penulis batasi pada masalah kedisiplinan guru pendidikan agama Islam dan pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar. Sedangkan obyek penelitian ini adalah siswa kelas VII dan hasil belajar siswa kelas VII. Penelitian ini di batasi pada aspek kognitif saja yang berupa nilai raport.

G.  Definisi Operasional  
Agar diperoleh gambaran yang jelas tentang judul tersebut dan untuk menghindari salah pengertian dalam memahami judul skripsi tersebut, maka penulis akan memberi pengertian yang jelas atas beberapa definisi yang terkandung dalam judul tersebut, antara lain:
1.      Disiplin Guru Pendidikan Agama Islam
            “Disiplin adalah Adanya kesediaan untuk mematuhi peraturan – peraturan dan larangan-larangan. Kepatuhan disini bukan hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan kepatuhan yang disadari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan pentingnya peraturan-peraturan dan larangan-larangan tersebut”.[6]
“Guru adalah Orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.”[7]
Guru agama adalah orang yang memiliki profesi sebagai pengajar, pendidik dan pelatih bertanggung jawab terhadap anak didik dibidang keagaman, agar menjadi manusia yang paripurna.
Adapun kedisiplinan guru pendidikan agama Islam adalah “suatu keadaan tertib dan teratur yang dimiliki oleh guru dalam mengajar disekolah tanpa adanya pelanggaran-pelanggaran yang merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dirinya, teman sejawatnya, dan terhadap sekolah secara keseluruhan” [8]
Indikator kedisiplinan guru pendidikan agama Islam yakni melaksanakan tata tertib dengan baik yang meliputi :
a.       Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan.
b.      Menggunakan kurikulum yang berlaku atau satuan pembelajaran.
c.       Menguasai materi pelajaran pendidikan agama Islam
d.      Rajin dalam mengajar
e.       Tepat waktu dalam mengajar
f.       Tidak pernah keluar kelas ketika mengajar.
g.      Tidak suka malas dalam mengajar
h.      Mempersiapkan materi pelajaran terlebih dahulu
i.        Membuat rencana pembelajaran
j.        Membantu kelancaran proses belajar mengajar. [9]
2.      Hasil Belajar
Hasil belajar adalah nilai hasil dari proses belajar dimana siswa berhasil atau tidak dalam menguasai materi maupun dapat dilihat dari perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa setelah melakukan proses belajar mengajar yang dituangkan dalam nilai raport.
Indikator hasil belajar ini dikategorikan sebagai berikut, seperti yang tercantum pada raport:
1.      Apabila nilai 10 dikategorikan Istimewa
2.      Apabila nilai 9 dikategorikan Baik sekali
3.      Apabila nilai 8 dikategorikan Baik
4.      Apabila nilai 7 dikategorikan Lebih dari cukup
5.      Apabila nilai 6 dikategorikan Cukup
6.      Apabila nilai 5 dikategorikan Hampir cukup
7.      Apabila nilai 4 dikategorikan Kurang
8.      Apabila nilai 3 dikategorikan Kurang sekali
9.      Apabila nilai 2 dikategorikan Buruk
10.  Apabila nilai 1 dikategorikan Buruk sekali
Dari penjelasan di atas dapat di ketahui Variabel (x) dan Variabel (y). Variabel (x) yang dimaksudkan  adalah Kedisiplinan Guru Pendidikan Agama Islam yang mengajar kelas VII di SMP Negeri 2 Papar. Sedangkan Variabel (y) adalah Hasil Belajar Siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar.


H. METODOLOGI PENELITIAN
1. Jenis dan Rancangan Penelitian
Menurut Mardalis, metode disini diartikan sebagai “suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian”. Sedangkan penelitian itu sendiri diartikan sebagai “upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran”.[10]
Sehubungan dengan permasalahan yang akan diangkat yaitu tentang "Pengaruh Kedisiplinan Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII" maka  penelitian yang penulis gunakan merupakan jenis penelitian kuantitatif. Dalam rancangan penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif. Menurut Sumanto metode deskriptif yaitu “merupakan data untuk menguji hipotesis yang berkaitan dengan status atau kondisi obyek yang diteliti pada saat dilakukan penelitian”.[11]
Penelitian ini akan meneliti dua variabel, yakni variabel bebas (x) dan variabel terikat (y) yang diduga mempunyai pengaruh. Variabel (x) yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kedisiplinan guru pendidikan agama Islam yang mengajar di SMP Negeri 2 Papar. Sedangkan variabel (y) yakni yang berupa hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar yang dituangkan dalam nilai raport. Dengan menguji dua variabel tersebut diharapkan dapat terjawab permasalahan dalam penelitian yaitu pengaruh kedisiplinan guru pendidikan agama Islam terhadap hasil belajar siswa kelas VII.  Terkait dengan mata pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut, dalam mata pelajarannya berpengaruh pada hasil belajar siswa kelas VII tersebut..

2. Populasi dan Sampel
1.   Populasi
 Menurut Sumanto, Populasi adalah “keseluruhan dari jumlah subyek penelitian. Hal ini dimaksudkan apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam  wilayah penelitian”.[12]
Dalam penelitian kuantitatif, penentuan populasi merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum melakukan kegiatan penelitian. Menurut Sugiyono populasi adalah “ wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek atau obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik kesimpulan”.[13]
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa di SMP Negeri 2 Papar. Akan tetapi penulis hanya mengambil sebagian dari siswa di SMP Negeri 2 Papar yakni siswa kelas VII.

2.      Sampel
         Sampel merupakan sekelompok yang dipilih untuk mewakili seluruh kelompok yang menjadi generalisasi kesimpulan yang diperoleh. Menurut Sugiono, sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.[14]
         Untuk menentukan ukuran sampel yang praktis maka harus menggunakan tabel dan nomogram seperti yang tergambar dibawah ini:
 














         Dari responden siswa kelas VII sebanyak 300 siswa. Bila dikehendaki kepercayaan sampel terhadap populasi 95 % atau tingkat kesalahan 5 % maka jumlah yang diambil 45 % ( tarik angka 300 melewati taraf kesalahan 5 % maka akan ditemukan titik diatas 50, titik itu kurang lebih 45 ) 45 % dari 300 siswa adalah 135 siswa.
         Berdasarkan nomogram tersebut, maka penulis dalam penelitian ini mengambil sampel dengan maksud untuk mempermudah penelitian dalam menganalisis data. Sampel yang penulis gunakan adalah sampel kuota atau quota sample yaitu tehnik sampling yang dilakukan tidak mendasarkan diri pada jumlah yang sudah ditentukan. [15] Dikarenakan kelas VII bersifat paralel ada 7 kelas, dari jumlah 135 dibagi dengan 7 kelas tersebut maka hasil yang diperoleh 19,28 yang dibulatkan 20 siswa perkelas.

      3.   Instrumen Penelitian
      Untuk memperoleh data hasil penelitian yang sempurna, maka penulis menggunakan instrumen-instrumen sebagai pengumpul data, sebagai jawaban dari masalah-masalah dalam penelitian ini instrumennya ada beberapa metode-metode antara lain :
            A.  Angket
   Metode angket merupakan serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis, kemudian diisi oleh responden, setelah diisi, angket dikembalikan kepada peneliti. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang kedisiplinan guru pendidikan agama Islam.
B.     Pedoman Observasi.
         Obsevasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematika fenomena yang disediakan. Ditujukan pada guru dan siswa yng menjadi objek penelitian untuk menggali data berkaitan dengan :
1.   Kedisiplinan guru pendidikan agama Islam
2.   Hasil belajar siswa dalam hal nilai akhir ujian pelajaran pendidikan agama Islam.
C.     Pedoman Dokumentasi
               Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian sosial. Pada intinya yang digunakan untuk menelusuri data histories,. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar atau nilai siswa dan data lain yang berhubungan dengan penelitian. Pedoman dokumentasi ini kami gunakan sebagai :
1. Alat untuk mengetahui berapa jumlah guru dan siswa.
2. Alat untuk mengetahui berapa data nilai raport.

            D.  Pedoman Interview
         Pedoman interview digunakan sebagai alat untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian yang tentunya langsung dijawab oleh responden.
         Adapun yang berkaitan dengan pedoman interview ini antara lain :
1.   Data tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 2 Papar.
                  2.   Data tentang jumlah dan keadaan guru dan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Papar.
3.   Data tentang sarana dan prasarana yang dimiliki lembaga pendidikan SMP Negeri 2 Papar.

4.  Pengumpulan Data
                  Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
a.       Metode  Angket
Menurut Suharsimi Arikunto bahwa sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti tentang pribadinya.[16]
Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan penyerahan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Untuk memudahkan dalam menggunakan tehnik ini, tentu saja para responden harus mempunyai tingkat pendidikan yang memadai untuk dapat membaca dan menuliskan jawabannya.
Adapun metode angket ini kami gunakan sebagai alat untuk mencari data tentang kedisiplinan guru pendidikan agama Islam kelas VII di SMP Negeri 2 Papar, yang akan diisi oleh siswa.
Angket yang digunakan adalah angket langsung tertutup yaitu angket yang langsung diberikan kepada responden serta jawaban yang diberikan sudah tersedia sehingga responden tinggal memilih jawabannya.
b.      Metode Observasi
         Menurut Sutrisno Hadi yaitu “pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki secara langsung maupun tidak langsung.”[17] 
         Metode ini kami gunakan sebagai alat untuk mencari data kedisiplinan guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Papar.
c.  Metode Dokumentasi
Menurut Suharsimi Arikunto, yaitu “metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal- hal atau variabel yang berupa catatan agenda, buku dan sebagainya.”[18]
Dalam metode ini penulis gunakan  untuk memperoleh data tentang daftar guru dan staf, daftar siswa, struktur organisasi sekolah, sarana dan prasarana.
d.   Metode Interview
               Menurut Suharsimi Arikunto yaitu “alat pengumpul data dan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan yang dilakukan pewawancara (Interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara.”[19]

5.      Tehnik Analisis Data
Menurut Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi, analisa data adalah “suatu proses penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan.”[20]
Setelah data terkumpul, maka langkah berikutnya adalah mengolah dan menganalisa data, untuk membuktikan atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menggunakan tehnik statistik. Dengan menentukan skor kedisiplinan guru pendidikan agama Islam terlebih dulu dan hasil belajar siswa. Kemudian menguji hipotesis kerja (Ha) antara variabel bebas (x) dalam hal ini adalah kedisiplinan guru pendidikan agama Islam tersebut dan variabel terikat (y) hasil belajar siswa. 
Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik koefisien “Correlation Product Moment“ dengan rumusan sebagai berikut :
            r=                                 
Keterangan:
rxy       : Angka indeks korelasi “r” product moment ( antara x dan y)
∑xy     : Jumlah perkalian antara skor (x) dan skor (y)
∑x       : Jumlah satuan skor (x)
∑y       : Jumlah satuan skor (y)
N         : Number of Cases ( Jumlah sampel)[21].
Dari rumus diatas maka diperoleh nilai korelasi (xy) kemudian r akan dikonsultasikan dengan nilai r dalam tabel product moment, sehingga dapat diketahui diterima atau tidaknya hipotesis yang diajukan. Interpretasi dengan menggunakan tabel harga kritik dari “r” Product Moment maka langkah yang diambil adalah:

Tabel interprestasi nilai r
Besarnya nilai r
Interprestasi
Antara 0,00 – 0,20



Antara 0,20 – 0,40

Antara 0,40 – 0,70

Antara 0,70 – 0,90

Antara 0,90 – 0,100
Antara variabel X  dan variabel Y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi itu sangat lemah atau sangat rendah sehingga korelasi itu diabaikan atau dianggap tidak ada korelasi
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang lemah atau rendah
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi
Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi [22]

Setelah diketahui nilai product moment, langkah selanjutnya adalah  memberi interpretasi terhadap hasil perhitungan“rxy”dengan menggunakan tabel nilai koefisien korelasi “r” product moment, namun terlebih dahulu dicari derajat frekuensinya (df) dengan rumus sebagai berikut:
df = N – Nr
Keterangan:
df  =  Derajat frekuensi
N  =  Jumlah responden
Nr = Banyak variabel[23]









DAFTAR PUSTAKA

Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Bandung: Sinar Baru, 1989.

UU RI No 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Cemerlang.

Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru Al-Gensindo, 1992.

Nana sudjana, Dasa-dasar Proses Belajar, Bandung: Algensindo, 1999.
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1993.

Amier Dien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1973.

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Ali Imron, Pembinaan Guru di Indonesia Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1990.
Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994.

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Sumanto, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Yogyakarta: Andi Offset, 1995.

Sugiono, Statistik Untuk Penelitian Bandung: Alfa Beta, 2009.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1998.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1998.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research II, Yogyakarta: Fakultas UGM, 1991.
Masri Singarimbun, Sofyan Efendi, Metodologi Penelitian Survey, Jakarta: Pustaka, 1990.





















OBSERVASI ANAK BERKESULITAN BELAJAR
(LEARNING DISABILITY)

Laporan Observasi Ini Disusun Sebagai Tugas
Mata Kuliah “KESULITAN BELAJAR”

Dosen Pengampu :
Imron Muzakki, M.Psi

Logo Stain Kediri Warna
 









Disusun Oleh:
ALVIN NUR KHOLIDAH
(NIM : 9321 064 09)





JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2011




Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo, 2001.





















\


[1] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, ( Bandung : Sinar Baru, 1989 ), 2.
[2] UU RI No 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional,( Jakarta: Cemerlang), 7.
[3] Nana sudjana, Dasar – Dasar Proses Belajar, (Bandung: Algensindo, 1999), 13.
[4] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2005), 37.
[5] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta : Rineka Cipta,
1993 ), 62.
[6] Amier Dien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional,1973), 141.
[7] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000 ), 142.
[8]  Ali Imron, Pembinaan Guru di Indonesia ( Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1990 ), 114.
[9] Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya,1994), 18-19
[10] Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal  (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 24.
[11] Sumanto, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan (Yogyakarta: Andi Offset,1995), 77.
[12] Ibid.,102.
[13] Sugiyono, Statiatik Untuk Penelitian, 55
[14] Sugiono, Statistik Untuk Penelitian (Bandung : Alfa Beta, 2009),81.
[15] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Jakarta : Rineka Cipta, 1998),130
[16] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Jakarta : Rineka Cipta, 1998) 124
[17]  Sutrisno Hadi, Metodologi Research II, ( Yogyakarta : Fakultas UGM, 1991 ), 136
[18]  Suharsimi Arikunto, Prosedur…….,131.
[19]  Ibid …, 132
[20] Masri Singarimbun, Sofyan Efendi, Metodologi Penelitian Survey (Jakarta: Pustaka, 1990), 203.
[21] Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta : Raja Grafindo, 2001), 193.
[22]  ibid., 180.
[23] Ibid., 181.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;