Minggu, 24 Juni 2012

media dan teknologi pembelajaran


Nama   : Teguh Winarno
Nim     : 932100910
Tugas   : Hasil Observasi (Media dan Teknologi Pendidikan)
Hasil Observasi Di SLB Putra Asih Balowerti – Kediri
Banyak orang yang tidak paham mengenai sekolah SLB ini sehingga sering dikonotasikan dengan sekolah untuk anak yang cacat fisik dan terbuang. Padahal tidak demikian. Positifnya bila anak sekolah di SLB adalah anak tidak perlu menghafal dan menerima pelajaran yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan bagi kehidupan kelak. Anak hanya diberi pelajaran yang berguna buat kemandirian hidup dan dilatih ketrampilan sederhana yang nantinya jangka panjang bisa menopang kehidupan anak.
Pada hari senin, 9 mei 2011 tepat jam 7.30 STAIN mengadakan observasi tentang Bagaiman Proses Belajar  Mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Petra Balowerti – Kediri, yang di ikuti oleh seluruh siswa Prodi PAI semerter 4, Yang dipimpim oleh bapak Muhammad Yasin Muhsin M,ag., M.pd.selaku dosen mata kuliah Media Dan Teknologi Pembelajaran.
Dari observasi yang telah saya lakukan, saya mendapatkan informasi seputar tentang bagaimana Proses Belajar- Mengajar yang Berlangsung di SLB tersebut.
SLB Putra Asih tersebut adalah sekolahan Luar biasa yang mempunyi peserta didik dengan keadaan fisik dan mental yang kurang sempurna.Inputnya terdiri dari : Tuna Grahita yaitu Ideot, Embisil, Debil dan Slow Leaner, akan tetapi sekolah ini tidak melayani bagi anak yang ideot. diterangkan bahwa tingkatan masing-masing yaitu:
Tuna Grahita adalah seseorang / siswa yang memiliki IQ rendah:
v  Idiot adalah seseorang yang mempunyai IQ 25, dia tidak bisa melakukan apa-apa (mampu rawat)
v  Embisil adalah seseorang yag mempunyai IQ 39, dia mampu dilatih seperti dilatih memakai baju, memakai celana, tetapi dia tidak mampu menerima materi pelajaran, dan tidak bisa membedakan warna, cirri-ciri penderita embisil :

a.       Rata-rata usia sampai 30 tahun
b.      Bibirnya tebal
c.       Giginya tidak rata
d.      Matanya sipit
e.       Kulitnya semakin besar semakin kasar
f.       Kepalanya mogoloid(keci) dan hidro(besar)
v  Debil adalah orang yang mempunyai IQ 80, dia bisa dididik, Debil ini seperti/sepadan dengan anak kelas 5 SD, Tapi tidak semuanya seperti itu.
v  Slow leaner adalah orang yang mempunyai IQ 81-89, ini adalh golongan yang berada dibawahnya normal dan diatasnya debil, masih bisa di didik di SD, kemampuannya bisa dimaksimalkan dengan didikan yang tlaten dan dibantu konsumsi vitamin yang lebih.
v  Autis adalah orang yag mempunyai kelainan tingkah laku, dari 100% oaring Autis 80% masuk dalam SLB  dan 20% seperti orang normal biasanya.untuk mengetahui seberapa besar Iq yang dimiliki, maka harus dibawa ke psikologis.penderita autism ini menunjukkan penyebaran Ciri-ciri orang Autis :
a)      Hyperaktif
b)      Mempunyai tatapan mata yang kosong
c)      Kebanyakan dekat dengan ibu
d)     Selalu Asyik dengan dunianya sendiri
e)      Selalu melihat TV dengan jarak yang terlalu dekat
f)       Suka bermain-main sendiri tanpa mengetahui manfaat dari permainan itu.
g)      Menyukai sesuatu tapi tidak mengerti
h)      Tidak mau disentuh orang lain
i)        Makan/ minum dengan berjalan
j)        Tidak mau menoleh jika dipanggil.
Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru di SLB adalah pengajaran individu, yang mana pendidik (guru) mendekati muridnya satu persatu agar mereka mampu menerima materi yag disampaikan oleh guru.Seperti yang sayaamati pada hari itu, bahwa proses pembelajaran yang terjadi di kelas 6B  yaitu kelas tuna wicara dan tuna rungu, pada hari itu yang mengikuti pelajaran hanya 3 orang siswa saja,metode pembelajaran yang ada yaitu:
·         Pertama siswa di suruh berdoa sebelum pelajaran dimulai, kemudian siswa disuruh latihan membaca sendiri – sendiri dan maju di hadapan guru.
·         Latihan mengenal dan membaca bangun ruang yang dilakukan bersama- sama kemudian dilanjutkan maju satu- satu dan menyebutnya di depan guru
·         Belajar matematika (menggambar bangun ruang kubus dan balok) serta menekankan peragaan tangan dan mulutnya satu-satu di depan guru.
Kemudian saya mengamati kelas 2 SD untuk kategori yang sama, disini siswanya berjumlah 6 anak, di kelas ini siswa disuruh membaca soal- soal kewarganegaraan dengan cara praktek maju satu persatu dan membacakannya di depa guru dengan peragaan mulut dan tangannnya.Selanjutunya di kelas 1-2 SMA, disini siswa berjumlah 6 orangyang terdiri dari penderita autis, tuna grahita dan debil, menurut penjelasan guru yang ada dikelas saat itu, proses pembelajaran dengan sistem 1-6 artinya satu guru untuk enam siswa, meskipun demikian penekanan pembelajaran dengan mendekati masing - masing siswanya karena kemampuan siswa itu berbeda-beda untuk bisa menerima pelajaran/ materi yang disampaikan. Pada saat guru memberikan pelajaran agama, pelajaran agama yang di ajarkan untuk anak kelas 1-2 SMA ini masih setara dengan pelajaran agama anak kelas 6 SD normal. Karena keterbatasan kondisi fisik dan rendahnya IQ mereka sehingga berpengaruh terhadap kemampuan berfikir, dan tingkah laku mereka. Akibatnya mereka selalu berperilaku layaknya anak-anak maksimal seperti anak kelas 6 SD normal. Akan tetapi mereka mempunyai malu dengan keadaan mereka seperti itu, apabila ditanya mereka akan menjawab seperti anak-anak yang normal sebelumnya..
Beberapa hikmah yang saya dapat dari hasil penelitian ini yaitu ;
·         Saya dapat mengerti dan bisa membedakan orang yang menderita penyakit apa yang di drita anak seperti itu.
·         Lebih menghargai adanya mereka karena mereka juga Makhluk Allah yang layak memperoleh kasih sayang.
·         Mengetahui bagaimana cara kita harus bersikap kepada mereka
·         Tidak membeda- bedakan kita dalam bergaul jika suatu saat kita mendapatkan teman yang seperti mereka
·         Mengetahui cara memberikan pendidikan kepada mereka.

1 komentar:

Iketut Catur mengatakan...

mantep gan ditambah sumber biar lebih mantep

Poskan Komentar

Pages

 
;