Senin, 22 Oktober 2012

OTORITAS ALLAH TERHADAP PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK TUHAN YANG SEMPURNA


OTORITAS ALLAH TERHADAP PENCIPTAAN MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK TUHAN YANG SEMPURNA
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pÏù `tB ßÅ¡øÿム$pÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ
30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
31.  Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"[1]
A.    Latar Belakang masalah
Di dalam Al-quran Allah telah menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan makhluk selain malaikat yang nantinya aakn menjadi khalifah di bumi. Makhluk yang sempurna berbeda dengan makhluk Allah yang lain. Makhluk tersebut adalah manusia. Makhluk yang diberi pengetahuan agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik sebagai khalifah. Bila dilihat dari proses belajar (manusia) untuk mendapatkan pengetahuan sama dengan konsep teori gestalt yaiti pemahaman terhadap permasalahan.
Untuk mengetahui secara menyeluruh gtentang hubungan antara penciptaan manusia sebagai khalifah dan konsep teori gestalt akan fibahas secara rinci dalam isis makalah ini.
B.    Rumusan Masalah
1.     Bagaimana penafsiran Q.S Al-Baqarah ayat 30-31?
2.     Bagaimana konsep teori gestalt
3.     Bagaimana pendapat mufassir tentang penciptaan manusia sebagai makhluk yang sempurna?
4.     Bagaimana implikasi teori gestalt terhadap tugas manusia sebagai khalifah?

C.    Setting Historis
Ibnu Abbas membaca surat tersebut “liya’rifuun” (agar mereka mengenal aku). Pengetahuan merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Dan barang kali penekatan yang terbaik berkenaan dengan tafsir ayat tersebut adalah apa yang disampaikan oleh Syekh muhammad Abduh “dialog yang terdapat dalam ayat tersebut adalahurusan Allah SWT dengan para malaikat-Nya dimana Dia menggambarkan kepada kita kisah ini dengan ucapan, pertanyaan dan jawaban. Kita tidak mengetahui hakekat hal tersebut. Tetapi kita mengetahui bahwasanya dialog tersebut tidak terjadi sbagaimana lazimnya yang dilakukan oleh sesama manusia”. Dari dialog tersebut nabi adam mengetahui bahwa iblis adalah makhluk yang memakai atribut keburukan dan sifat yang tecela. Ia meminta kepada Allah agar mengekalkannya sampai hari kebangkitan. Iblis tidak ingin mati namun Allah mengetahui bahwa ia akan tetap hidup sampai hari yang ditentukan. Ia akan hidup sampai menjemput ajalnya dan kemudian mati. Nabi adam mengetahui bahwa Allah SWT telah melaknat iblis dan telah mengusirnya dari rahmat-Nya. Ahirnya nabi adam mengetahui musuh abadinya.[2]

D.    Tafsir Mufrodat
ZpxÿÎ=yz yang artinya pengganti atau artinya jenis lain dari makhluk sebelumnya, bisa juga di artikan sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan perinhtah-perintah-Nya. 7Ïÿó¡o mempunyai arti yang sama yakni mengalirkan atau menumpahkan.  ¨Ïds)çR artinya menetapkan sifat-sifat yang layak bagi Allah yakni sifat-sifat ang sempurna.[3]   À!$oÿôœF{$# N¯=tæu maksudnya nama-nama semua benda. NåkyÎztäNèOartinya benda-benda tadi yang ternyata bukan saja benda-benda mati tapi juga makhluk yang berakal.  ûüÏ%Ï»|¹NçFZä.bÎ) artinya bahwa tidak ada yang lebih tahu daripada kamu di antara makhluk-makhluk yang Kuciptakan atau bahwa kamulah yang lebih berhak untuk menjadi khalifah.[4]

E.     Substansi Ayat
Q.S al-baqarah ayat 30-31 menjelaskan tentang bagaimana Allah menciptakan manusia (Adam) sebagai khalifah di bumi untuk menjaga alam dan tidak membuat kerusakan. Allah membekali manusia dengan pengetahuan yang di letakkan dalam kalbunya. Sehingga dengan bekal itu manusia bisa mengembangkannya dan mengaplikasikannya di bumi. Tentunya dengan banyak pengalaman manusia dapat memperoleh penfetahuan yang lebih. Di bumi manusia mendapatkan masalah dan dari situ akan berusaha menyelesaikannya. Jadi dalam proses itulah manusia mendapatkan pegetahuan tentang apa yang di hadapi.
Ribuan orang menganggap diri mereka bukanlah pemimpin mereka sering kali tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka adalah pemimpin bagi mereka diri sendiri. Hampir semua orang menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing terlepas dari besar kecilnya jumlah orang dalam kelompok tersebut. Meski hanya satu orang saja pengikutnya maka ia masih dikatakan sebagai seorag pemimpin. Bahkan manusia seorang diri pun harus mampu memimpin dirinya sendiri. Ketidaksadaran inilah acapkali mengakibatkan orang tidak mau mengembangkan ilmu kepemimipinannya. Apalagi bila ia mampu menciptakan serta menghidupkan kebesaran jiwa di kalbu anak-anaknya. Tidak ada istilah orang kecil, semua orang sama di mata Allah dan setiap manusia dalah khalifah Allah di bumi.[5]
Dari penjelasan ayat diatas bahwasanya q.s al-baqarah ayat 30-31 mempunyai korelasi dengan quran surat an-nur ayat 45 dan q.s al-faathir ayat 38 yang berbunyi:
ª!$#ur t,n=y{ ¨@ä. 7p­/!#yŠ `ÏiB &ä!$¨B ( Nåk÷]ÏJsù `¨B ÓÅ´ôJtƒ 4n?tã ¾ÏmÏZôÜt/ Nåk÷]ÏBur `¨B ÓÅ´ôJtƒ 4n?tã Èû÷,s#ô_Í Nåk÷]ÏBur `¨B ÓÅ´ôJtƒ #n?tã 8ìt/ör& 4 ß,è=øƒs ª!$# $tB âä!$t±o 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇÍÎÈ
45.  Dan Allah Telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( an-nur ayat 45)[6]
uqèd Ï%©!$# ö/ä3n=yèy_ y#Í´¯»n=yz Îû ÇÚöF{$# 4 `yJsù txÿx. Ïmøn=yèsù ¼çnãøÿä. ( Ÿwur ߃Ìtƒ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# öNèdãøÿä. yZÏã öNÍkÍh5u žwÎ) $\Fø)tB ( Ÿwur ߃Ìtƒ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# óOèdãøÿä. žwÎ) #Y‘$|¡yz ÇÌÒÈ
39.  Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Qs.fathir:39)[7]
Dalam isi kandungan quran surat an-nur ayat 45 Allah menegaskan bahwa Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air yang memancar sebagaimana dia menciptakan tumbuhan dari air yang tercurah. Lalu allah menjadikan hewan-hewan itu beraneka jenis, potensi dan fungsi. Maka sebagian dari mereka yakni hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya seperti buaya, ular dan hewan melata lainnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki seperti manusia dan burung sedang sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki seperti kambing, sapi dll dan ada juga yang berjalan dengan menggunakan lebih dari empat kaki seperti seperti kalajengking, laba-laba dan lain-lain. Memang allah maha kuasa lagi maha bijaksana  karena itu Allah secara terus menerus menciptakan apa dan dengan cara serta bahan yang dikehendaki-Nya, sebagai bukti kekuasaan-Nya. Betapa penciptaan binatang tidak menunjukkan kekuasaan Allah sekaligus kekuasaan-nya yang mutlak. Dari satu sisi penciptannya sama yaitu air tetapi air di jadikannya berbeda-beda lalu dengan perbedaan itu Dia menciptakan makhluk yang memiliki potensi dan fungi yang berbeda-beda puka yang sungguh berbeda dengan substansi serta kadar air yang merupakan bahan kejadiannya.[8] Dalam quran surat faathir ayat 39, Dialah yang menjadukan kamu khalifah-khalifah di muka bumi yakni sutu kaum menggantikan kaum yang lain. Hal ini sebagaiman firman allah Ta’ala dan Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Barang siapa yang kafir maka kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Yakni bencana kekafirannya kitu menimpa dirinya sendiri dan kekafiran orang-orang kafir itu tiada lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi tuhannya. Karena mereka terus menerus berada dalam kekafiran maka Allah Ta’ala memurkai mereka. Hal ini berbeda dengan kaum mukmin yang semakin panjang usianya semakin bagus amalnya, semakin tinggi derajat dan kedudukannya di surga, semakin bertambah pahalanya dan semakin di cintai oleh makhluk dan khalik, Tuhan semesta alam.[9]
Selain itu Qur’an surat al-baqarah ayat 30-31 juga memiliki korelasi dengan sebuah hadits yang artinya “lalu mereka datang kepada adam seraya berkata engkau adalah bapak manusia Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaannya. Dia membuat malaikat bersujud padamu dan dia mengajarimu nama-nama seluruh perkara. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan adam sebagai salah satutanda kekuasan-Nya serta mengajari Adam nama-nama makhluk dan benda-benda baik benda mati maupun berakal.[10] Ibnu jarir berkata dari ibnu abas menyangkut makna hadist diatas.”apakah engkau akan menjadikan di bumi orang selain kami atau bukan dari golongan kami yang akan membuat kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah. Padahal kami akan senang tiasa bertasbih dan memujiMU serta mensucikanMU”. Para malaikat menduka bahwa seluruh bani adam akan menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muaka bumi ini mereka tidak mengetahui bahwa diantara mereka ada yang menjadi nabi, wali dan orang-orang saleh yang akan memelihara bumi dan melaksanakan tugasnya dan sebagai kolifah dimuka bumi ini dengan baik. [11]
F.     Pendapat Mufasir
Dari penjelasan Qur’an surat al-baqoroh 30-31 bahwasanya beberapa mufasir berpendapat, pertama konsep kholifah mengharuskan secara pasti bahwa tidak ada pihak yang bisa menggantikan baik secara total maupun sebagian, baik karena kematian, sudah tidak mampu atau yang lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melakukan aktifitasnya.[12] Kedua alaikat adalah mahluk yang ta’at dan patuh pada perintah Allah. Mereka di perintahkan Allah untuk menyembah dan tunduk kepada adam, dan iblis atau setan adalah mahluk yang ingkar dan durhaka kepada Allah. Iblis adalah musuh adam dan anak cucunya. Ia yang memperdayakan dan membisikan kepada ruh adam supaya berbuat kejahatan.[13] Ketiga kholifah adalah pengganti Allah di bumi.pengertian kolifah ini juga mencangkup seluruh manusia yang berciri mempunyai kema mpuan berfikir yang luar biasa sekalipun kita tidak mengerti rahasia kholifaqh jenis terakhir ini termasuk tidak mengetahui bagaimana prosesnya. Dengan kemampuan akal manusia bisa mengelola alam semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah pertambangan dan tumbuh-tumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan, dan udara serta dapat merubah wajah bumi yang tandus menjadi subur. Jadi tak ada bukti yang lebih jelas didalam hikmah Allah menciptakan manuysia jenis ini kecuali manusia itu mempunyai keistimewaan dengan bakat-bakat yangada pada diri mereka sehingga mampu mengemban tugas kolifah dimuka bumi ini.[14] Keempat kholifah yang dimaksud adalah pengganti malaikat karena malaikat itu adalah makhluk yang berdiam di bumi atau bermakna khalifah allah di bumi. Allah mengajarkan kepada Adam dengan jalan menciptakan ilmu dharuri atau dengan jalan ilham.[15] Kelima, kepentingan mengenai pengangkatan Adam dan bahwa di antara anak cucunya ada pula yang taat dan ada pula yang durhaka hingga terbukti dan tampaklah keadilan diantara keadilan. Maka Allah pun menciptakan adam dari tanah atau lapisan bumi dengan jalan mengambil dari setiap corak dan warnanya lalu di aduk dengan berbagai jenis air kemudian di tiypkannya roh hingga menjadi makhluk yang dapat merasa. Kemudian Allah mengajarkan kepada adam nama-nama benda dengan jalan memasukkan  ke dalam kalbunya pengetahuan itu.[16]
G.    Imlplikasi Ayat Dengan Teori
1.     Teori pendidikan (Teori Gestalt)
Teori ini dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880-1943). Ia dilahirkan di Praha dan ia mencapai gelar doktornya di Wurzburg tahun 1904. Menurut teori ini bahwa yang utama dalam kehidupan manusia adalah mengetahui dan bukan respon. Suatu konsep yang penting dalam psikologi gestalt adalah tentang insight yaitu pemahaman dan pengamatan mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.[17]
Beberapa prinsip penerapan teori gestalt adalah:
a.      Belajai itu berdasarkan keseluruhan. Teori gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna daripada bagian-bagian. Bagian-bagian itu hanya berarti apabila dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta akan tetapi berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah tersebut siswa dapat mempelajari fakta.
b.     Anak yang belajar merupakan keseluruhan. Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak bukanlah hanya mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada pada diri anak.
c.      Belajar berkat insight. Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan pada suatu persoalan yang harus dipecahkan.
d.     Belajar berdasarkan pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.[18]
2.     Penjelasan Ayat
Menurut Warren Bennis[19] yang di maksud dengan pemimpin (khalifah) adalah orang yang mampu mengekspresikan diri sepenuhnya. Proses menjadi seorang pemimpin pada dasarnya adalah proses menjadi seorang manusia seutuhnya.
Bennis menyimpulkan bahwa pokok pemimpin ada 2 hal yaitu sebagai berikut:
a.      Para pemimipin itu memerluukan usaha bukan sekedar bakat dari lahir dan lebih anyak di bentuk oleh diri sendiri dari pada hal-hal eksternal.
b.     Seprang pemimpin tidak ada yang menyatakan dirinya pemimpin tetapi sebaliknya yaitu mengekspresikan diri secara bebas dan sepenuhnya.[20]
Jadi pada intinya manusia adalah seorang pemimpin (khalifah) yang memiliki bakat yang luar biasa dan hanya bisa dikaembangkan melalui pribadi sendiri. Begitu pula dengan konsep teori gestalt yakni pemahaman secara keseluruhan untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Dalam hidup di dunia ini mansia senantiasa mendapatkan hambatan dan masalah dan untuk menyelesaikan masalah tersebut manusia di bekali bakat ataupun pengetahuan mendasar oleh Allah SWT kemudian dipahami secara menyeluruh tentang masalah tersebut hingga mendapatkan suatu hasil akhir yaitu penyelesaian. Dalam proses itulah manusia bisa mendapatkan pengetahuan yang bisa digunakan untuk pegangan dalam menjalankan tugasnya menjai khalifah.
H.    Pesan Moral
Dengan dipaparkannya penjelasan diatas dapat diambil beberapa pesan moral, diantaranya:
·       Sebagai petunjuk atau meningkatkan kepada setiap hambanya bahwa kekuasaanya Allah SWT sangatlah agung dan dapat menghendaki apapun yang ia kehendaki.
·       Sebagai motivasi agar manusi meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.
·       Memotivasi kita untuk selalu belajar mendapatkan pengetahuan agar dapat menjalankan tugasnya menjadi khalifah.
·       Mengingatkan pada diri sendiri bahwa hidup di dunia mempunyai tugas yang mulia yang nantinya akan di perttanggungjawabkan di akherat kelak.




























DAFTAR PUSTAKA


Al Jumadatul Ali, Al-Quran Dan Terjemahnya (Bandung:CV Penerbit Art,2005)
M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta:Lentera Hati,2002)Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Semarang:CV Toha Putra,1992)
Imam Jalaludin Al-Mahalli, Tejemahan Tafsir Jalalain (Bandung:Sinar Baru Algesindo,2008)
Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual (Jakarta:ARGA,2005)1
Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Taisiru Al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 (Jakarta:gema insani press,1999)974
M Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim (Jakarta:PT Hidakarya Agung,2004)
Teungku Muhammad Hasbi as-Shiddiqy, Al-Bayan Tafsir Penjelas Al-Quranul Karim (Semarang :PT Pustaka Rizki Putra,2002)
Muhammad Said, Psikologi Dari Zaman Ke Zaman (Bandung:Jemmars,1990)1
Margaret E.Bell Gredler, Belajar Dan Membelajarkan (Jakarta:PT grafindo persada,1994)
Andrias harEfa, Menjadi Manusia Pembelajar (Jakarta:Kompas,2008)










[1]              Al Jumadatul Ali, Al-Quran Dan Terjemahnya (Bandung:CV Penerbit Art,2005)7
[2]              M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta:Lentera Hati,2002)80
[3]              Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Semarang:CV Toha Putra,1992)131
[4]              Imam Jalaludin Al-Mahalli, Tejemahan Tafsir Jalalain (Bandung:Sinar Baru Algesindo,2008)17
[5]              Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual (Jakarta:ARGA,2005)155
[6]              Ibid 56
[7]              Ibid 132
[8]              Ibid 371
[9]              Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Taisiru Al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 (Jakarta:gema insani press,1999)974
[10]            Ibid 106
[11]            Ibid 108
[12]            Ibid 103
[13]            M Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim (Jakarta:PT Hidakarya Agung,2004)8
[14]            Ibid 130
[15]            Teungku Muhammad Hasbi as-Shiddiqy, Al-Bayan Tafsir Penjelas Al-Quranul Karim (Semarang :PT Pustaka Rizki Putra,2002)19
[16]            Ibid 18
[17]            Muhammad Said, Psikologi Dari Zaman Ke Zaman (Bandung:Jemmars,1990)170
[18]            Margaret E.Bell Gredler, Belajar Dan Membelajarkan (Jakarta:PT grafindo persada,1994)46
[19]            Warren bennis adalah salah satru pakar kepemimpinan sejati
[20]            Andrias harEfa, Menjadi Manusia Pembelajar (Jakarta:Kompas,2008)162

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;