Selasa, 24 April 2012

filsafat pendidikan islam

Nama  : Teguh Winarno
NIM    : 9321 009 10
Kelas   :
 
Pengertian Filsafat Pendidikan Islam

            Filsafat berasal dari kata “philo yang berarti cinta” dan “sophos yang berarti ilmu atau hikmah”. Jadi filafat berarti “cinta kepada ilmu”. Secara historis filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman yunani kuno sampai zaman modern sekarang ini.
            Pendidikan bisa diartikan suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya fikir (inteletual) maupun daya perasaan (emosional), menuju kearah tabiat manusia dan manusia biasa.
            Islam adalah suatu agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat dan dipelopori oleh Muhammad SAW.
            Dari pengertian filsafat, pendidikan dan islam, kita dapat memahami bahwa sebenarnya kalimat tersebut memiliki kaitan yang sangat erat, sebagaimana yang dikatakan oleh john dewey bahwa ada hubungan yang erat antara filsafat, pendidikan dan islam. Dalam arti bahwa filsafat pendidikan islam mengkaji tentang berbagai masalah yang ada hubungannya dengan pendidikan,seperti manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan,kurikulum,metode,lingkungan,guru,dan sebagainya.Bedanya dengan filsafat pendidikan pada umumnya adalah bahwa didalam filsafat pendidikan islam,semua masalah kependidikan tersebut selalu didasarkan pada ajaran islam yang bersumberkan al-quran da al-hadist.Dengan kata lain bahwa kata islam yang mengiringi kata filsafat pendidikan itu menjadi sifat,yakni sifat dari filsafat pendidikan tersebut.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
            Pola dan system berfikir filosofis yang sedemikian akan dilaksakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai beikut:
·         Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalhan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan tuhan, serta proses kedaian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
·         Ontology yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologism akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakan penciptaan itu satu zat (Monisme) ataukah dua zat (Dualisme) atau banyak zat (Pluralisme).
·         Philosophy yaitu pemikiran filosofis tentang jiwa dan bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana tentang kebebasan berkehendak dan manusia (free will).
·         Epistomologi yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia di peroleh, apakah dari akal pikiran (aliran rasionalism) atau dari pengalaman panca indera (aliran empirisme) atau dari ide-ide ( aliran idealisme) atau dari tuhan (aliran theologisme).
·         Axiology yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari tuhan. Misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan (aestetika), axiology ini mengandung pengertian lebih luas dari pada etika atau highervalues of life (nilai-nilai kehidupan yang bertaraf lebih tinggi).
Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam
            Hasan Langgulung mengatakan bahwa pendidikan Islam pada akhirnya harus mampu mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal dengan agama dan Tuhannya, berakhlak al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarkaat yang bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan disitu melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya.
            Pada periode klasik yakni pada masa Rasulullah terdiri dari dua periode yaitu makkah dan madinah. Pada periode makkah, system pendidikan bertumpu pada nabi, bahkan tidak ada yang mempunyai kewenangan untuk menyampaikan materi selain nabi. Pada masa Madinah usaha nabi membangun masjid dan memberikan pengajaran agama islam. Beliau memperkuat persatuan antara kaum muslimin dan mengkikis habis permusuhan terutama golongan anshor dan muhajirin. Secara umum materi yang disampaikan nabi menjadi empat bidang yaitu: pendidikan keaagamaan, akhlak, kesehatan jasmani dan pengetahuan kemasyarakatan.
            Pada masa bani umayyah hampir sama dengan pendidikan pada masa khulafaurrasyidin. Perhayian pemerintah pada masa ini pada bidang pendidikan kurang memperlihatkan perkembangannya. Pada zaman ini juga dapat disaksikan adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain kedalam bahasa arab.
            Masa dinasti abasiyyah sangat mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, sehingga memperlihatkan perkembangannya dalam bidang pendidikan. Lembaga pendidikan ini dapat di klasifikasikan menjadi tiga:
1.      Pendidikan tingkat rendah, kurikulum yang di ajarkan meliputi: al-qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok agama islam, menulis, kisah orang yang agung, menghafal syair,dll.
2.      Pendidikan tingkat menengah, kurikulum yang di ajarkannya meliputi: al-qur’an, bahasa arab, sastra fiqih, tafsir, hadits, balaghah,dll.
3.      Pendidikan tingkat tinggi. Pada tingkat ini mempunyai dua fakultas yaitu fakultas ilmu agama serta bahasa dan sastra arab. Fakultas ini mengkaji seterti tafsir alqur’qn, nahwu, shorof, dan sastra arab.
Posisi Al –Qur’an dan Hadist dalam Filsafat Pendidikan Islam.
            Filsafat pendidikan Islam membincangkan filsafat tentang pendidikan bercorak Islam yang berisi perenungan-perenungan mengenai apa sesungguhnya pendidikan Islam itu dan bagaimana usaha-usaha pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam. Filsafat pendidikan sebagai aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Dengan perkataan lain, filsafat pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist. Selanjutnya karena pandangan hidup (teologi) seorang muslim berdasarakan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka yang menjadi dasar atau fundamental dalam pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Hadist itu sendiri. Hal yang demikian dilakukan karena dalam teologi Islam Al-Qur’an dan Sunnah diyakini mengandung kebenaran yang mutlak yang bersifat transidental, universal dan eternal (abadi), sehingga secara akhidah diyakini oleh pemeluknya akan sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi kebutuhan manusia kapanpun dan dimanapun. Dengan demikian bahwa posisi Al-Qur’an dan Hadist dalam filsafat pendidikan Islam adalah merupakan dasar landasan yang fundamental dalam mencari kebenaran atau memikirkan mengenai hal-hal tang berkaitan dengan Pendidikan Islam.
Hakikat Manusia Menurut Islam
Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsure kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Manusia yang sekarang ini, prosesnya dapat diamati meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara permatozoa dengan ovum. Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, umumnya dipahami secara lahiriah. Hal ini itu menimbulkan pendapat bahwa manusia benar-benar dari tanah, dengan asumsi karena Tuhan berkuasa , maka segala sesuatu dapat terjadi. Dalam penciptaannya manusia dibekali dengan beberapa unsure sebagai kelengkapan dalam menunjang tugasnya. Unsur-unsur tersebut ialah : jasad, ruh, nafs, akal dan qolb. Jasad adalah bentuk lahiriah manusia, ruh adalah daya hidup, nafs adalah jiwa , aqal adalah daya fakir, dan qolb adalah daya rasa. Di samping itu manusia juga disertai dengan sifat-sifat yang negatif seperti lemah, suka berkeluh kesah, suka bernuat zalim dan ingkar, suka membantah, suka melampaui batas, suka terburu nafsu dan lain sebagainya. Hal itu semua merupakan produk dari nafs , sedang yang dapat mengendalikan kecenderungan negatif adalah aqal dan qolb. Tetapi jika hanya dengan aqal dan qolbu, kecenderungan tersebut belum sepenuhnya dapat terkendali, karena subyektif. Yang dapat mengendalikan adalah wahyu, yaitu ilmu yang obyektif dari Allah. Kemampuan seseorang untuk dapat menetralisasi kecenderungan negatif tersebut (karena tidak mungkin dihilangkan sama sekali) ditentukan oleh kemauan dan kemampuan dalam menyerap dan membudayakan wahyu.



0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;