Rabu, 07 November 2012

psikologi agama, kepribadian seorang muslim



PENDAHULUAN
  1. Latar belakang masalah
Kepribadian muslim merupakan tujuan akhir dari setiap usaha pendidikan islam. Kepribadian yang diharapkan islam adalah kepribadian yang sesuai dengan norma-norma islam. Kepribadian tidak terjadi dengan sekaligus, akan tetapi melalui proses kehidupan yang panjang. Maka dalam hal ini pendidikan mempunyai peran yang besar dalam pembentukan kepribadian muslim.
Kepribadian muslim diartikan sebagai identitas yang dimiliki oleh seseorang sebagai cirri khas dari keseluruhan tingkah laku sebagai muslim baik yang ditampilkan sebagai tingkah laku lahiriah maupun sikap batiniahnya.
Di satu sisi kepribadian itu mempunyai cirri khas yang bersifat individual yang berbeda dengan yang lainnya dan dipihak lain individu diharapkan dapat menampilkan kepribadian yang integral dalam kelompok masyarakat muslim sebagai ummah. Oleh sebab itu diperlukan kajian secara komprehensif tentang kepribadian muslim tersebut.

  1. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
  1. Apa pengertian kepribadian muslim?
  2. Apa saja aspek-aspek kepribadian muslim?
  3. Bagaimana proses pembentukan kepribadian muslim





PEMBAHASAN
  1. Pengertian Kepribadian Muslim
Ada tiga kata yang sering digunakan dalam penyebutan yang sama dan mempunyai kedekatan makna seperti karakter, tempramen dan kepribadian.[1]Karakter lebih menjurus kearah tabiat-tabiat yang dapat disebut benar atau salah, sesuai atau tidak sesuai dengan norma-norma social yang diakui.
Tempramen ialah satu segi dari kepribadian yang erat hubungannya dengan perimbangan zat-zat cair yang ada dalam tubuh. Dalam tubuh kita terdapat zat-zat cair, diantaranya ada empat jenis yang berpengaruh sekali kepada tempramen kita. Keempat jenis zat cair itu ialah cairan empedu kuning, darah empedu, empedu hitam dan lender. Misalnya seorang akan bersifat pemarah kalau cairan empedu kuning lebih banyak dalam perimbangannya dengan zat cairan lainnya.
Kepribadian adalah meliputi kualitas keseluruhan diri seseorang. Kualitas itu akan tampak dalam cara-caranya berbuat, cara-caranya berfikir, cara-caranya mengeluarkan pendapat, sikapnya, minatnya, filsafat hidupnya serta kepercayaannya.[2]
Dengan demikian kepribadian adalah sifat-sifat dan aspek-aspek tingkah laku yang ada dalam diri individu yang bersifat psikofisik dalam interaksinya dengan lingkungan yang menyebabkan individu itu berbuat dan bertindak seperti apa yang dia lakukan, dan menunjukan ciri-ciri yang khas yang membedakan individu dengan individu yang lainnya. Termasuk didalamnya sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan cita-cita, pengetahuan dan ketrampilan, macam-macam cara gerak tubuhnya, dan sebagainya.
Sedangkan kepribadian muslim adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya baik tingkah laku luarnya, kegiatan jiwanya maupun falsafah hidup dan kepercayaannya menunjukan pengabdian kepada tuhan dan penyerahan diri kepadan-Nya.
Konsepsi islam tentang bagaimana wujud kepribadian muslim adalah identik dengan aspek-aspek kepribadian manusia seutuhnya.
Ada tiga aspek pokok yang menjadi corak khusus bagi seseorang muslim menurut ajaran islam, yaitu:
1.      Adanya wahyu Tuhan yang memberikan kewajiban kepada manusia muslim untuk melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan Tuhan maupun masyarakat.
2.      Praktik ibadah yang harus dilakukan dengan aturan-aturan yang pasti dan teliti. Hal ini akan mendorong setiap muslim untuk memperkuat tali persaudaraan dengan sesamanya dan akan menjadikan sebagai kelompok yang terorganisir.
3.      Konsepsi islam tentang alam yang menggambarkan penciptaan manusia secara harmonis dan seimbang dibawah perlindungan tuhan. Ajaran ini juga akan mengukuhkan kelompok.
Atas dasar ajaran ini maka pribadi muslim bukanlah pribadi yang egoistis, akan tetapi seseorang pribadi yang penuh dengan sifat-sifat pengabdian baik kepada Tuhan maupun kepada sesamanya. Selain itu menurut Syaikh M. Jamaludin Mahfuzh ada tiga hal yang menjadi karakteristik seseorang bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki kepribadian muslim, yaitu:
1.      Menyerahkan diri kepada Allah
Membentuk pribadi yang islami harus atas dasar kesadaran menyerahkan diri kepada Allah.
2.      Kebebasan dan kemuliaan manusia
Pribadi seorang muslim harus melepaskan diri dari pengabdian kepada selain Allah. Sehingga is benar-benar bisa terbebas dari kegelisahan, ketakutan, dan perasaan apa saja yang dapat memperlemah dan melecehkan kemuliaan insan.



3.Membebaskan pribadi muslim dari faktor-faktor ketakutan
Mengatasi rasa takut dengan pendekatan aspek akidah (tauhid). Ia ditanamkan akidah atau keyakinan ke hati setiap muslim bahwa yang menguasai segenap kekuasaan hanyalah Allah semata. [3]
B.     Aspek-aspek kepribadian
Pada garis besarnya aspek-aspek kepribadian itu dapat digolongkan dalam tiga hal :
·         Aspek-aspek kejasmanian
Meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya : cara-caranya berbuat, cara-caranya berbicara dan sebagainya.
·         Aspek-aspek kejiwaan
Meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dan ketahuan dari luar, misalnya : cara berfikir, sikap dan minat.
·         Aspek-aspek kerohanian yang luhur
Meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup kepercayaan, meliputi : sistem nilai yang telah meresap dalam kepribadian dan menjadi ciri bagi kualitas keseluruhan individu.[4]
Aspek-aspek kepribadian, belum cukup untuk memberi gambaran keseluruhan mengenai kepribadian-kepribadian, lebih-lebih mengenai proses perkembangannya. Maka kita membutuhkan bagian-bagian kepribadian yang lebih dinamis. Sifatnya, yaitu tenaga-tenaga kepribadian.
Pada garis besarnya, tenaga-tenaga itu dapat pula dibagi atas:
a.       Tenaga-tenaga kejasmanian
Meliputi seluruh tenaga-tenaga yang bersumber pada tubuh, misalnya tenaga-tenaga yang bersumber pada bekerjanya kelenjar-kelenjar, peredaran darah, alat-alat pernapasan, syaraf dan sebagainya.
b.      Tenaga-tenaga kejiwaan
Terdiri atas karsa, rasa dan cipta. Dapat juga dibagi atas syahwat, marah dan akal-pikiran.
·         Karsa
Meliputi tenaga-tenaga yang merupakan sumber pendorong dari suatu kegiatan. Termasuk didalamnya dorongan-dorongan nafsu, keinginan-keinginan, hasrat-hasrat hawa nafsu dan kemauan
·         Rasa
Tenaga-tenaga ini member sifat pada kegiatan-kegiatan berupa keharusan, kesenangan-kesenangan, ketidaksenangan dan sebagainya.
·         Cipta
Melputi tenaga-tenaga yang dapat menciptakan sesuatu, dapat memecahkan persoalan-persoalan, dapat mencari jalan-jalan yang tepat untuk sesuatu kegiatan. Biasa disebut akal pikiran.
c.       Tenaga kerohanian yang luhur
Tenaga ini memungkinkan seseorang berhubungan dengan hal-hal yang gaib,memungkinkan manusia berhubungan dengan yang maha agung.
Jadi dapat disimpulkan hubungan antara aspek-aspek kepribadian dan tenaga-tenaga kepribadian adalah :
1.      Aspek-aspek kejasmanian, dipengaruhi dan dibentuk oleh tenaga-tenaga kejasmanian.
2.      Aspek-aspek kejiwaan, dipengaruhi dan dibentuk oleh tenaga-tenaga kejiwaan.
3.      Aspek-aspek kerohanian yang luhur, terutama dibentuk dan dipengaruhi oleh budhi.[5]
C.     Proses pembentukan kepribadian
Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Oleh karena itu, pembentukan kepribadian merupakan suatu proses. Akhir dari perkembangan itu jika berlangsung dengan baik maka akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis.
Kepribadian yang harmonis adalah apabila segala aspek-aspeknya seimbang pula sesuai dengan kebutuhan. Pada segi lain kepribadian yang harmonis dapat dikenal, pada adanya keimbangan antara peran individu dengan pengaruh lingkungan sekitarnya.
Proses pembentukan kepribadian terdiri atas tiga taraf, yaitu:
·         Pembiasaan
Adalah membentuk aspek jasmani dari kepribadian, atau memberi kecakapan berbuat atau mengucapkan sesuatu. Demikian ini dapat dilakukan dengan cara mengontrol dan menggunakan tenaga-tenaga kejasmanian dan membantu dengan tenaga-tenaga kejiwaan, dengan membiasakan peserta didik melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang diucapkannya.
·         Pembentukan pengertian, minat dan sikap
Pada tahap ini diberikan pengertian atau pengetahuan tentang pekerjaan yang dilakukan dan diucapkan dan ditanamkan pula dasar-dasar kesusilaan yang erat hubungannya dengan kepercayaan dengan menggunakan tenaga-tenaga kejiwaan karsa, rasa dan cipta.
·         Pembentukan kerohanian yang luhur
Pada tahap ini dapat dilakukan dengan pendidikan sendiri, yaitu dengan cara menanamkan kepercayaan yang terdiri atas:
1.      Iman kepada Allah.
2.      Iman kepada malaikat.
3.      Iman kepada kitab.
4.      Iman kepada rasul.
5.      Iman kepada Qadla dan Qadar.
6.      Iman kepada hari akhir
Dengan penanaman kepercayaan adanya rukun iman tersebut diharapkan akan tercipta kesadaran dan pengertian yang mendalam. Segala apa yang dipikirkan dan dipilih serta diputuskan dan juga yang dilakukan adalah berdasarkan keinsafan diri sendiri.[6]
Ketiga taraf pembentukan kepribadian diatas satu sama lain saling membantu dan saling pengaruh mempengaruhi. Taraf yang lebih rendah akan menjadi landasan taraf berikutnya dan akan menimbulkan kesadaran dan keinsafan akan apa yang telah diperoleh dan apa faedahnya, sehingga akan menimbulkan aktifitas yang lebih sadar dan khusu’.[7]
Selain itu, proses pembentukan kepribadian muslim dapat pula dilakukan dengan dua cara, yaitu: pertama, pembentukan kepribadian muslim sebagai individu dan pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah.[8]
1.      Proses pembentukan kepribadian muslim sebagai individu
Dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai individu pembentukan diarahkan pada peningkatan dan pengembangan faktor bawaan dan faktor pendidikan yang berpedoman pada nilai-nilai islam. Faktor bawaan dikembangkan melalui bimbingan dan pembiasaan berfikir, bersikap dan tingkah laku menurut norma-norma islam. Sedangkan faktor pendidikan dilakukan dengan cara mempengaruhi individu dengan menggunakan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan norma-norma islam seperti contoh, teladan dan lingkungan yang serasi.
Proses pembentukan kepribadian muslim sebagai individu dapat pula dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a.       Portal Education
Proses pendidikan jenis ini dilakukan secara tidak langsung. Proses ini dimulai disaat pemilihan calon suami atau istri dari kalangan yang baik dan berakhlak. Kemudian dilanjutkan dengan sikap dan prilaku orang tua yang islami, disaat bayi dalam kandungan, ditambah lagi dengan pemberian makanan dan minuman yang halal dan baik serta dilengkapi penerimaan yang baik dari kedua orang tua atas kehadiran bayi tersebut.
Sedang kualifikaisinya sebagai berikut.[9]
Calon suami yang ideal bagi seorang mukmin :
·         Beragama islam.
·         Mempunyai komitmen penuh sebagai penanggung jawab rumah tangga yang akan dibangun kelak.
·         Baik budi kepada istri.


Calon istri yang ideal bagi seorang mukmin
·         Beragana islam.
·         Mempunyai komitmen penuh untuk taat kepada suami.
·         Tunduk taat kepada hukum Allah tentang perkawinan mencakup tugas kewajibannya sebagai ratu rumah tangga, sebagi istri, sebagi ibu yang harus mengandung, melahirkan, mengasuh anak dan smua yang terkait padanya[10]


b.      Education by another
Proses pendidikan jenis ini dilakukan secara langsung oleh orang lain seperti: orang tua dalam rumah tangga, guru disekolah dan pemimpin didalam masyarakat.[11]
Firman Allah :
Artinya: “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui apapun dan ia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Q.S. Al-Nahl : 78)
Oleh karena itu diperlukan orang lain untuk mendidik manusia supaya dia mengetahui tentang dirinya dan lingkungannya. Dan sekaligus bantuan orang lain juga diperlukan agar ia dapat melakukan kegiatan belajar sendiri. Proses ini dimulai semenjak anak dilahirkan sampai anak mencapai kedewasaan baik jasmani maupun rohani.
Anak yang baru lahir diazankan bagi pria dan diqamatkan bagi wanita, dan kemudian mendoakannya agar menjadi anak yang saleh dan beragama dan mendoakannya agar terhindar dari gangguan syetan dan lainnya. Setelah anak berumur tujuh hari lalu diaqeqahkan. Setelah anak dewasa sedikit lalu dikhitankan. Kemudian anak-anak disuruh belajar dimasjid/musholla disekolah atau dilembaga pendidikan lainnya.
c.       Self Education
Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain seperti membaca buku-buku, majalah, Koran dan sebagainya, atau melalui penelitian untuk menemukan hakikat segaala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Menurut Muzzayyin, self education timbul karena dorongan dari naluri kemanusiaan yang ingin mengetahui. Ia merupakan kecenderungan anugrah Tuhan. Dalam ajaran islam yang meyebabkan adanya dorongan tersebut adalah hidayah Allah.


Firman Allah SWT:
Artinya : “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk bentuk kejadiannya petunjuk.” (Q.S. Tha’ha : 50)[12]
2.      Pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah.
Kepribadian muslim sebagai ummah adalah merupakan komunitas muslim yang memiliki pandangan hidup sama, walaupun masing-masing mempunyai faktor bawaan yang berbeda. Persamaan pandangan hidup diyakini akan membantu usaha membina hubungan yang baik serasi antar sesama anggota keluarga, masyarakat, bangsa, maupun antar sesama manusia sebagai ummah.
Selain itu proses pembentukan kepribadian muslim secara ummah dapat pula dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.       Pergaulan social
1.      Tidak melakukan hal-hal yang keji dan tercela seperti, membunuh, menipu, riba, merampok, memakan harta anak yatim dan sebagainnya.
2.      Membina hubungan tata tertib, meliputi bersikap sopan santun dalam pergaulan, meminta izin ketika masuk kerumah orang, berkata baik dan memberi serta membalas salam.
3.      Mempererat hubungan kerjasama dengan cara meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak dasar kerjasama untuk membela kejahatan, berkhianat, mengadakan saksi palsu dan sebagainya.
4.      Menggalakkan perbuatan-perbuatan terpuji yang memberi dampak positif kepada masyarakat antara lain berupa menepati janji, memaafkan, memperbaiki hubungan antar sesama muslim dan sebagainya.



b.      Pergaulan dalam Negara
Pergaulan dalam Negara dapat dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai ke islaman dalam Negara berupa.
1.      Kewajiban kepala Negara untuk bermusyawarah dengan rakyatnya.
2.      Menerapkan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran dan kasih saying serta tanggung jawab terhadap rakyat.
3.      Tidak menyelenggarakan kepercayaan rakyat dan menyalah gunakan kekuasaan.
4.      Tidak membedakan kedudukan dan status social antara orang kaya dan miskin dalam penerapan undang-undang.
Sebaliknya sebagai rakyat, kaum muslimin diminta pula untuk menjalankan kewajiban dalam bentuk aktifitas yang memiliki nilai-nilai islam itu berupa:
1.      Kewajiban mengikuti disiplin dengan taat dan bersyarat, yaitu selama kepala Negara masih dapat menjunjung tinggi perintah Allah.
2.      Menyiapkan diri dalam membela Negara.
3.      Menjauhi hal-hal yang dapat merugikan Negara seperti bekerja sama dengan musuh, menjauhi kerusankan dan membuat maker.
c.       Pergaulan antar Negara
1.      Melaksanakan perdamaian antar bangsa.
2.      Menghargai perjanjian.
3.      Tidak serang menyerang.
4.      Membina kerukunan antar Negara dan bantu membantu sesama.[13]
Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun ummah pada hakikatnya seiring dan menuju ketujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik secara pribadi maupun secara komunitas untuk menjadi pengabdi Allah yang setia, tunduk dan patuh pada aturan Allah.


PENUTUP

A.                Kesimpulan
Kepribadian muslim yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya baik tingkah laku luarnya, kegiatan jiwanya maupun falsafah hidupnya dan menunjukkan pengabdian kepada tuhan dan penyerahan diri kepadanNya dengan disertai beberapa sifat yang mencerminkan ciri khas sebagai seorang muslim.
Kepribadian muslim merupakan suatu hasil dari proses sepanjang hidup. Kepribadian muslim tidak terjadi sekaligus, akan tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Oleh sebab itu banyak factor yang membentuk kepribadian muslim tersebut.
Pada dasarnya pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun ummah pada hakikatnya seiring dan menuju ketujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik secara pribadi maupun secara komunitas untuk menjadi pengabdi Allah yang setia, tunduk dan patuh pada aturan Allah.














DAFTAR PUSTAKA
Khobir, Abdul. 2009. Filsafat Pendidikan Ialam. Pekalongan : Gama Media Offset.
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakata : Kalam Mulia.
Muchlas, Imam. 2006. Al-Qur’an Berbicara Tentang Hukum Perkawinan. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Marimba, D Ahmad. 1962. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : PT Alma’arif.
Al-Banjani, Ramadhana Rachmat. 2008. Membaca Kepribadian Muslim Seperti Membaca Al-Qur’an. Jogjakarta : Diva Press.
Zuhairini, dkk. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Hamka. 1987. Tasawuf Modern. Jakarta : Panji Mas.




[1] Zuhairini. Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hlm.200

[2] Al-Banjani, Ramadhana Rachmat.Membaca Kepribadian Muslim Seperti Membaca Al-Qur’an. (Jogjakarta : Diva Press,2008)
[3] Abdul Khobir, Op. Cit,131-132
[4] Ibid,133
[5] Marimba, D Ahmad, Op. 69-71
[6] Ibid,75
[7] Ibid,79
[8] Ramayulis, Op.Cit,295
[9] Abdul Khobir, Op. Cip, 134-135
[10] Muchlas, Imam, Al-Qur’an Berbicara Tentang Hukum Perkawinan, (Malang : Universitas Muhammadiyah, Malang, 2006), hlm.41-43
[11] Abdul Khobir, Log. Cit,  135
[12] Ramayulis, Op. Cit,  296-298
[13] Ibid, 298-299

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

 
;